
Killa dkk sekarang masih berada diparkiran kampus, Killa dan Felix juga telah menceritakan semua kejadian diruang Dosen. Saat Killa menceritakannya, mereka terkejut saat mengetahui siapa korban salah satu dari Dosen kampus.
Saat mereka sedang membicarakan kejadian yang Killa ceritakan, tiba-tiba saja sosok Lala muncul ditengah-tengah mereka membuat semuanya terkejut karena ulahnya.
"Baaaaa..."kaget sosok Lala pada Killa dkk.
"Astagfirullah... Lala ihh udah jadi setan masih aja suka ngangetin orang."protes Riri.
"Hihihihihi... maaf ya, abisnya kalian serius banget ceritanya sampe gak sadar kalo aku ada didepan kalian."kata sosok Lala.
"Yaudah gak papa... sekarang kita pulang dulu ke mansion, kita obrolin di mansion aja ya." Alex.
"Ayeaye kapten..."kata mereka bersama sambil hormat ke Alex.
Alex yang sedang memegang kemudi pun langsung menyalakan mobilnya dan siap meluncur menuju mansion. 20 menit kemudian mereka pun sampai di mansion, mereka menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian terlebih dahulu dan berkumpul kembali diruang tengah seperti biasa.
************
Saat ini mereka telah berkumpul diruang tengah dan juga telah memanggil sosok Lala untuk mengetahui ceritanya, dan berniat membantunya mengungkapkan siapa Dosen yang tega membunuhnya.
"Lala... lo udah siap belum buat cerita sama kita?""tanya Siska memecah keheningan.
"Iya Sis... aku udah siap kok."jawab sosok Lala.
"La.. ceritain ke kita secara jelas ya, biar kita bisa mencari siapa Dosen yang tega ngebunuh kamu."pinta Killa pada sosok Lala.
"Iya Kil..."sahut sosok Lala.
"Jadi... sebenernya apa yang telah terjadi sama kamu La?"tanya Daniel yang mulai serius.
"Jadi..."
Flashback On
Lala adalah anak perantauan dari Makassar ia memutuskan untuk berkuliah di Jakarta. Di Jakarta Lala memiliki kerabat, tetapi Lala memilih untuk mengekos saja agar ia bisa lebih mandiri. Orang tua Lala pun menyetujui keinginan putri satu-satunya itu.
Lala yang pada saat itu baru saja usai menyelesaikan kelas siangnya, memutuskan untuk pergi ke kantin dahulu untuk membeli makanan dan membawanya pulang kerumah. Saat ia telah selesai membeli makanan dari kantin kampus, ia pun beranjak dari sana.
Saat Lala berada dilorong koridor yang berdekatan dengan laboratorium jurusan Kedokteran, ia tak sengaja melihat Dosennya yang bernama Pak Hendra sedang bersama mahasiswi jurusan Bahasa Asing. Lala juga tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua.
"Pak... saya hamil."kata mahasiwi yang tak diketahui namanya oleh Lala.
"Apa? Hamil?"tanya Pak Hendra tak yakin dengan yang ia dengar.
"Iya pak... bapak harus bertanggung jawab seperti yang bapak katakan beberapa hari yang lalu."jawab mahasiswi itu sambil memainkan jarinya.
"Lebih baik kamu gugurkan saja janin yang ada dikandungan kamu itu Ayumi...."kata Pak Hendra.
"Tidak... saya tidak akan menggugurkannya pak, dia tidak berdosa. Bapak harus bertanggung jawab ini darah daging bapak..."jawab mahasiswi yang bernama Ayumi.
"Saya tidak mau Ayumi..."bentak Pak Hendra.
"Kenapa pak?"tanya Ayumi yang telah menitikkan air matanya.
"Karena saya telah memiliki istri juga anak Ayumi, saya tak mau mereka tau tentang hal ini..."jawab Pak Hendra putus asa.
"*Bapak tidak harus menikahi saya pak, cukup bapak mengurus anak ini saj**a, saya mohon pak*...."kata Ayumi memohon sambil berlutut kepadanya.
"Tidak Ayumi..."kekeh Pak Hendra.
"Pak saya mohon..."pinta Ayumi masih berlutut.
Saat Pak Hendra hendak menjawab perkataan Ayumi diurungkannya saat Pak Hendra mendengar suara kantung plastik yang terjatuh tak jauh dari mereka berdua berada. Pak Hendra pun menoleh saat itu juga, dan ia menemukan mahasiswi yang mengikuti kelasnya tadi.
Pak Hendra pun berjalan menuju Lala yang masih berdiri mematung karena syok mendengar percakapan itu dari orang yang ia anggap seperti Kakaknya sendiri dan panutannya dikampus. Lala dan Pak Hendra memang dekat saat Lala pertama kali mengikuti kelasnya.
"Lala sejak kapan kamu berada disitu?"tanya Pak Hendra.
"Lalu apa lagi?"tanya Pak Hendra sedikit membentaknya.
"Saat Ayumi memohon sama bapak untuk mengurus anak yang dikandungnya dan tak perlu menikah dengannya."jawab Lala lagi sambil tertunduk dan memainkan jarinya karena gugup.
"Lala kamu ikut saya keruang Dosen dan kamu Ayumi silakan pulang kerumah. Ah iya satu lagi Ayumi jangan lupa kau haru menggugurkan janin itu secepatnya."kata Pak Hendra.
Ayumi pun berjalan menuju lorong koridor dan pulang kerumahnya, sedangkan Lala mengikuti Pak Hendra menuju ruangan Dosen. Saat itu, Lala tak berpikiran macam-macam yang ia pikir Pak Hendra ingin menjelaskan percakapan yang tak sengaja ia dengar di lorong koridor.
Sesampainya diruang Dosen, Pak Hendra pun menjelaskan kejadian dilorong koridor itu. Lala yang mendengarnya pun sangat terkejut, dan memberikan saran untuk mengurus bayi itu ketika lahir. Pak Hendra yang diberikan saran seperti itu tak menerimanya, akhirnya mereka berdua bertengkar diruang Dosen.
"Ayolah kak... itu darah daging kakak, kakak hanya mengurusnya saja seperti permintaan Ayumi tadi ya."bujuk Lala.
"Gak La... kamu tau kan kakak itu udah punya istri juga anak, kalo dia tau kakak bawa bayi kerumah kakak mau jawab apa nanti?"tolak pak Hendra.
"Kakak kan bisa bilang kalo bayi itu kakak temui saat pulang..."saran Lala.
"Gak kakak gak mau.."bentak pak Hendra.
"Yaudah... Lala yang akan bilang ke istri kakak kalo kakak udah ngehamilin mahasiswi dikampus ini jika kakak gak mau merawat bayi itu saat ia lahir."ancam Lala pada pak Hendra.
"Jangan gila kamu Lala..."bentak pak Hendra lagi.
"Terserah... Lala akan pergi kerumah kakak sekarang juga agar istri kakak tau yang sebenernya."sahut Lala yang pergi menuju pintu keluar ruang Dosen.
Pak Hendra pun berlari untuk menghentikan Lala yang akan pergi menuju kediamannya. Tanpa diduga, Pak Hendra menyeret Lala masuk kedalam ruangan Dosen kembali lalu menyiksanya dengan brutal. Pak Hendra tak menginginkan istri dan anaknya mengetahui kelakuan bejat yang ia lakukan terhadap Ayumi.
Lala dipukuli juga ditampar olehnya sampai seluruh tubuhnya memar dan bibirnya pun mengeluarkan darah segar karena tamparan yang diberikan Pak Hendra. Lala yang disiksa sampai ia terjatuh terduduk diruangan itu, Pak Hendra yang melihat itu menginjak-injak Lala.
Lala berusaha untuk menyingkirkan kaki pak Hendra yang mengijak dadanya. Lala sempat bertahan walaupun dadanya mulai sesak dan susah untuk bernafas. Lala pun mulai melemah dan lemas, ia juga telah pasrah. Sampai akhirnya Lala tak sanggup lagi untuk bertahan, Lala pun menghempuskan nafasnya diruangan Dosen itu.
Pak Hendra yang melihat Lala menutup matanya masih saja menginjaknya dan sempat menyiksanya agar ia terbangun dan melawannya tetapi tak ada respon sama sekali darinya. Sampai akhirnya, Pak Hendra mencoba untuk memeriksa nadinya.
Betapa kagetnya ia kalau Lala telah tiada ditangannya, Pak Hendra pun kebingungan mau di kemana kan jasadnya Lala saat itu. Saat itu ia mendapatkan ide untuk menyembunyikan jasadnya diruangan Dosen, ia pun mulai menghancurkan tembok dan kembali menutupnya seperti semula tak lupa juga ia cat temboknya agar tak ada yang curiga nantinya.
Flashback Off
"Begitulah Kil... aku gak akan menyangka jika aku akan meninggal ditangannya."kata sosok Lala mengakhiri ceritanya.
"Berarti sampai sekarang istrinya gak tau? Lalu Ayumi bagaimana?"tanya Raka beruntun.
"Belum... Yang aku liat dia tak menggugurkan kandungannya."jawab sosok Lala.
"Lalu... apa yang harus kami bantu La?"tanya Killa.
"Bantu aku memberitahukan kepada istrinya, ceritakan apa yang telah aku ceritakan pada kalian dan minta pada istrinya untuk membujuknya agak mau bertanggung jawab juga menyerahkan diri ke polisi karena telah membunuhku."pinta sosok Lala.
"Baiklah... nanti sore kita mulai dan besoknya kita akan membongkar kembali dinding itu dan menguburkan jasadmu dengan layak."kata Jessie yang disetujui oleh mereka semua.
"Terima kasih Killa dan yang lainnya."kata sosok Lala tersenyum.
"Sama-sama La."jawab mereka semua.
"Tapi beritahu kami dimana alamat rumah pak Hendra La..."kata Riri.
"Ohh iya... maaf aku lupa beritahu hihihihi.... alamatnya di jln. merdeka Gang kamboja no. 14"jawab sosok Lala.
"Setan kok bisa lupa 🤦♀️🤦♀️"kata Killa dkk kompak.
"Hihihihihihihi...."tawa sosok Lala dan menghilang.
"Ehh malah kabur... kan belum selesai main ilang aja."sewot Daniel.
"Udahh.. kan bisa nanti sore..."kata Felix.
Skip