
Di sisi lain...
Mansion...
Killa dan yang lainnya saat ini sedang berusaha mencoba membuka komunikasi dengan sosok yang meneror mansionnya. Mereka terus berusaha, sampai akhirnya mereka berhasil mengajak komunikasi dengan salah satu dari mereka.
"Mau apa kalian memanggil kami?"tanya sosok Sundel Bolong.
"Tolong beri kami informasi, siapa yang melakukan teror ini di keluarga saya?"tanya Killa.
"Kami hanya di perintah oleh seseorang untuk menghancurkan keluarga kamu."jawab sundel bolong.
"Siapa?"tanya Jessie mendahului Killa.
"....."sosok sundel bolong terdiam.
"Tolong beritahu kami..."mohon Siska.
"Benar..."sahut Riri.
"Baiklah... seseorang itu bernama Agus dan Anto, mereka berdualah yang menginginkan keluarga kamu hancur."jawab sosok sundel bolong itu.
"Apaa !! Agus dan Anto itu kan teman SMA kak Arga, kak Agus itu baik sedangkan pak Anto itu karyawan di perusahaan alm. ayah."kata Killa.
"Benar, mereka jugalah yang mengirimkan kalian boneka yang terpisah dari badannya dan berdarah itu."sahut sosok sundel bolong.
"Kami sebenarnya tak mau meneror kalian, kami tau kalian orang baik. Kami melakukannya dengan terpaksa Killa."kata sosok tante Kunti yang sebelumnya ia lihat di dekat jendela dapur.
"Benar Killa... kami juga mau bebas dari belenggu mereka berdua."sahut sosok genderuwo bermata merah yang pernah menampakkan diri di kamar mandi Arga.
"Baiklah terima kasih informasinya, jika kami menangkap pelakunya apakah kalian akan terbebas dari belenggu mereka?"tanya Felix yang sedari tadi hanya menyimak.
"Iya benar... kami akan terlepas dari mereka jika kalian menangkap pelakunya."jawab sosok pocong menyeramkan yang menampakkan dirinya di ruang tamu kemarin malam.
"Baiklah secepatnya akan kami urus pelakunya saat kak Arga, Daniel, dan Raka kembali."kata Alex.
Setelah informasi mereka dapatkan, Killa pun menghubungi kakaknya untuk pulang ke mansion sekarang juga.
"Assalammualaikum kak..."salam Killa di telepon.
"Walaikumsalam Kil... ada apa?"tanya Arga.
"Kakak, Daniel sama Raka pulang sekarang juga. Killa dan yang lainnya ada yang ingin di omongin, Killa gak bisa jelasin telepon lebih baik secara langsung saja."jawab Killa.
"Yaudah..... sekarang juga kami pulang, Assalammualaikum..."salam Arga mengakhiri telepon.
"Walaikumsalam...."jawab Killa.
"Raka, Daniel menurut kalian apa ya yang akan Killa bicarakan? kayaknya penting banget."tanya Arga.
"Gak tau juga kak, Kita juga pada penasaran apa yang akan di katakan Killa kak."jawab Daniel.
"Yaudah kalo gtiu...."kata Arga.
Setelah percakpan itu selesai, di dalam mobil kembali hening dan sepi (kayak hati author... ðŸ¤ðŸ˜‚).
*******************
Sesampainya di mansion, mereka bertiga langsung saja msuk dan menemui Killa juga yang lain di ruang tengah.
Di Ruang Tengah....
"Kill..."panggil Arga.
Killa yang namanya di panggil pun menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Ada apa kak?"tanya Killa.
"Katanya lo mau ngasih tau sesuatu sama kita."jawab Raka.
"Ohh iya... jadi gini , dari informasi yang gue dapet dari sosok yang di suruh meneror kita itu pelakunya Kak Agus juga Pak Anto kak."jelas Killa.
"Jadi bener apa yang kita denger saat di kantor tadi."kata Arga kecewa pada teman baiknya itu.
"Jadi kakak juga udah tau tentang siapa pelakunya?"tanya Jessie.
"Iya Jess... kita tahunya sebelum Killa menghubungi kakak."jawab Arga.
"Tunggu bentar deh Kil.... tadi lo bilang sosok itu di suruh sama mereka maksudnya apaan gue gak ngerti?"tanya Daniel.
"Iyaa benar mereka di suruh sama kak Agus dan pak Anto, mereka di belenggu oleh mereka dan memaksa mereka buat meneror kita hanya karena mereka iri dengan keluarga kita. Sosok itu juga bilang kalo mereka melakukan teror ini dengan terpaksa."jelas Killa yang di benarkan oleh yang lainnya.
"Ohh iya Rak... lo inget gak sama percakapan kak Agus sama pak Anto di perusahaannya kak Arga tadi?"tanya Daniel pada Raka.
"Iyaa gue inget... dalam percakapan itu, mereka akan mengirimkan teluh ke mansion ini. Gue gak tau itu kapan datang."jelas Raka.
Mendengar penjelasan dari Raka sontak membuat mereka sangat terkejut.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"tanya Riri.
"Kita akan...."