
Alex dan Daniel pun kembali dari mengikuti pak Anto, mereka berdua telah sampai di mansion dan langsung menuju ruang tengah. Sesampainya di sana mereka berdua melihat Arga juga sahabatnya yang lain sudah berkumpul menunggunya.
"Assalammualaikum...."salam Alex dan Daniel bersamaan.
"Walaikumsalam...."jawab mereka semua.
"Gimana?"tanya Arga.
"Maaf kak kita cuma dapet 2 bukti aja hasil dari ngikutin pak Anto.."jawab Alex.
"Itu udah cukup kok."kata Arga.
"Ohh iya... kita semua juga udah nemuin benda itu, tapi langsung aja kita bakar, tapi kakak tenang aja kita ada videonya kok."kata Killa memberitahukan kepada Arga.
"Benda apa yang kalian temukan Kil?"tanya Daniel.
"Benda itu seperti bungkusan lebih kayak menyerupai pocong sih, dan isinya itu ada paku, jarum, rambut, juga ada penitih."jawab Killa.
"Iya... dan setelah kita tau isinya, kita langsung membakarnya tak lupa memvideokannya juga."lanjut Jessie.
"Iya kak.... videonya ada di Hp Siska."sahut Siska.
"Berarti tinggal kita ngerencanain kapan nangkep mereka kan?"tanya Raka.
"Iya bener Rak..."jawab Arga.
"Ehmm kak.... kita mau ceritain saat kita ngikutin pak Anto."kata Daniel.
"Yaudah... ceritain aja."sahut Arga.
"Jadii gini kak, saat jam kantor usai kita masih nunggu pak Anto beberapa menit tak lama dia keluar menuju ke mobilnya ia mendatangi rumah Agus dan merencanakan untuk kembali mengirimkan teluh tapi bedanya ini lebih parah dari yang sebelumnya kak. Setelah pak Anto dari rumah Agus, ia pun menuju rumah dukun yang lumayan jauh dari rumah Agus dan membutuhkan waktu 45 menit untuk ke sana. Dia juga mengatakan hal yang sama saat bertemu dengan Agus kak, dia juga meminta pada dukun itu untuk membuat keluarga kakak hancur sehancur-hancurnya. Setelah dia bicara seperti itu, dia pun kembali menuju rumahnya."cerita Alex panjang kali lebar kali tinggi ðŸ¤.
"Dan kita juga sudah merekam dan memvideokannya juga kak."lanjut Daniel.
"Parah banget tuh orang, untung aja medianya udah kita bakar sampe abis. Dan semoga aja gak ada lagi kiriman teluh ataupun teror yang gak ada serem-seremnya itu."kata Riri.
"Gak serem matamu... orang lo aja teriak paling kenceng saat ada pocong yang serem banget."sahut Siska.
"Tau tuh Sis... kakak aja takut lah dia malah sok-sokan gak takut."sewot Arga.
"Ohh iya kak... kakak tau kan kalo pak Anto itu udah lama kerja di perusahaan milik alm. ayah?"tanya Killa.
"Iya kakak tau Kil... memangnya kenapa?"tanya Arga balik.
"Killa kok ngerasa dia bukan cuma mau ngehancurin keluarga kita aja kak, tapi kayaknya ada sesuatu yang lain juga. Mending Felix sama Raka ikut kakak ke kantor sekarang dan kakak periksa di kantor."saran Killa.
"Periksa apa Kil dan ini juga udah mau malem Kil?"tanya Arga.
"Berkas-berkas lama atau apalah kak, itu perusahaan milik keluarga kita kak. Jadi kapan pun kita bisa ke sana kak."jawab Killa.
"Yaudahh kalo gitu... Felix sama Raka ikut kakak ya."kata Arga dan di angguki oleh mereka berdua.
Akhirnya mereka bertiga pun pergi ke kantor seperti yang di sarankan oleh Killa. Sesampainya di kantor, mereka bertiga langsung menuju ruang penyimpanan berkas. Setelah mereka masuk ke ruang penyimpanan berkas, mereka mulai berpencar mencari berkas lama. Sampai akhirnya Felix menemukan beberapa berkas lama yang atas nama pak anto.
"Kak Arga, Raka ke sini deh... gue udah nemuin berkas lama atas nama pak Anto ini."kata Felix saat mereka berdua telah mendekat.
"Coba sini Lix, kakak mau liat dan cek juga. Karena semenjak alm. ayah meninggal pak anto yang memegang perusahaan ini selagi kakak masih berada di Negeri orag."kata Arga.
Felix pun memberikannya kepada Arga. Setelah berkas itu suda ada di tangannya Arga, Arga mengajak mereka berdua untuk ke ruang kerjanya saja agar bisa lebih leluasa memeriksa berkas itu.
Arga sibuk memeriksa berkas-berkas itu dengan di bantu oleh Felix juga Raka. Samapi akhirnya mereka bertiga menemukan banyak kejanggalan pada semua berkas itu.
"Kak.. aku nemuin sebagian berkas laporan ini banyak kejanggalan."kata Raka.
"Iya kak bener... aku juga nemuin hal yang sama kayak Raka."sahut Felix membenarkan.
"Iya kakak juga sama."kata Arga.
"Gini aja biar kita tau di mana kejanggalannya, gimana kaklo kita coba hitung ulang aja kak."saran Felix.
"Yu.. kakak setuju, ayo kita mulai aja sekarang biar kita ada alasan lain juga untuk menangkap pak Anto juga Agus."kata Arga setuju dengan saran Felix.
Mereka bertiga pun akhirnya mencoba merekap uklang laporan itu agar mereka tahu jelas di mana letak kejanggalannya. Mereka bertiga merekap dengan serius juga teliti, tak lama kemudian Felix menemukan hasilnya...
" Kak aku udah nemuin kejanggalannya..." kata Felix.
"Apa itu Lix...?"tanya Arga.
"jadi kejanggalannnya terdapat pada laporan keuangan kantor yang semkain hari semakin menurun sampai di mana kakak pulang ke Indonesia. Dan bisa di simpulkan kalo pak Anto telah melakukan korupis secara besar-besaran di perusahaan ini dan itu sepertinya ada yang memantunya."jelas Felix pada Arga.
"Tapi siapa?"tanya Arga.
"Apa mungkn yang membantunya itu Agus?"tanya Raka.
"Ayoo... lkalo memang semua itu benar kita harus melakukan penangkapan malam ini juga."kata Arga.
Mereka bertiga pun bergegas menuju lift dan segera menuju ruangan cctv. Sesampainya di sana mereka bertiga langsung mengecek satu persatu kaset cctv agar tidak ada yang terlewat. 3 jam sudah mereka berada dalam ruangan cctv itu, tetapi mereka masihbelum menemukan kast cctv itu. Tak lama kemduian Raka menemukan kaset cctv yang mereka cari sedari tadi.
"Kak Arga, Felix.. gue nemuin kasetnya. Dan cepet kita putar aja dan segera berikan bukti ini pada polisi." kata Raka.
Raka pun memberikan kaset itu pada Felix untuk segera ia putar. Mereka pun menonton video itu sampai akhirnya menemukan bukti yang ternayata orang yang memabntu pak Anto adalah Agus. Arga yang melihat itu langsung saja mematikan video dan membawa kaset itu pada polisi, tak lupa juga dengan Felix juga Raka
*****************
Pihak kepolisian yang mendapatkan laporan dari Arga dan juga barang bukti sudah ada di tangan polisi. Polisi pun langsung saja menuju ke rumah pak Anto dan juga Agus pada malam itu.
Arga, Felix, dan Raka mengikuti mobil polisi, ia juga ingin melihat pak Anto juga Agus di tangkap. Sesampainya di kediaman pak Anto...
Tokk...tokk... tokk....
Tak lama saat pintu di ketuk, pintu itu pun terbuka. Ternyata yang membukakan pintu itu adalah seorang anak kecil perempuan.
"Iya.. ada apa pak polisi?"tanya anak kecil itu.
"Apa orang tuamu ada?"tanya balik polisi.
"Sebentar pak, aku panggilin."jawab anak kecil itu lagi.
Lalu anak kecil itu pun masuk ke dalam memanggil pak Anto. Tak lama pak Anto pun keluar dan menemui tamu yang di maksud oleh putrinya itu. Saat ia menuju pintu, betapa terkejutnya pak Anto ada polisi dan juga ada Arga juga di rumahnya.
"Loh ada apa ya pak polisi dan Nak Arga ke sini?"tanya pak Anto mencoba tenang.
"Selamat malam pak, maaf mengganggu istirahat anda. Kita ke sini mau menangkap bapak karena bapak telah melakukan korupsi besar-besaran di perusahaannya pak Arga, silakan ikut kami."jelas pak polisi.
"Apa kalian ada buktinya kalau saya melakukan korupsi itu ?"tanya pak Anto meremehkan.
Polisi pun memberikan bukti-bukti berkas laporan yang di sudah di berikan Arga pada mereka.
"Silakan ikut kami."kata pak polisi sambil memborgol tangan pak Anto.
Polisi pun membawa pak Anto menuju kediaman Agus dan akan menangkapnya juga. Tetapi Arga, Felix, dan Raka tiba-tiba berhenti saat mendengar isakan tangis seorang anak kecil dari dalam rumah pak Anto. Mereka bertiga pun mencoba mencari anak itu dan...
"Dek... kamu kenapa nangis?"tanya Felix lembut.
"Papa udah di tangkap sama polisi kak hiks.. hiks..."jawab anak itu.
"Memangnya mama kamu kemana?"tanya Raka.
"Mama udah gak ada kak."jawab anak itu.
"Saudara kamu?"tanya Arga.
"Aku udah gak punya siapa-siapa selain papa, aku juga gak punya saudara kak."jelas anak itu sambil menangis.
"Siapa namamu dan berapa umurmu?"tanya Felix.
"Namaku Laura kak, umurku 4 tahun."jawab Laura masih dengan tangisnya.
"Yaudah kamu ikut kita aja ya, biar ada yang jagain kamu juga."kata Arga tak tega.
"Boleh kak...?tanya Laura ragu-ragu.
"Tentu..."jawab Arga tersenyum.
Akhirnya Laura ikut bersama mereka bertiga, mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah Agus. Saat mereka sampai di sana, polisi sudah tiba dahulu. Polisi saat itu masih berusaha untuk menangkap Agus, karena ia tidak mengakui kesalahannya. Arga, Felix, Raka, juga Laura pun keluar dari mobil.
"Ada apa pak?"tanya Arga.
"Agus tidak mau mengakui kesalahannya pak Arga."jawab polisi.
"Bapak tunjukkan saja bukti berkas laporan, video cctv yang telah saya berikan tadi, atau bila perlu sekalian pal polisi tunjukkan pak Anto biar dia mau mengakui kesalahannya."saran Arga pada polisi.
Pihak polisi pun setuju dengan saran yang di berikan oleh Arga, lalu polisi mengeluarkan pak Anto dari mobil tahanan. Saat polisi mengeluarkan pak Anto dari mobil polisi, Agus yang melihatnya sangat terkejut ia pun mulai pasrah.
Pak Anto yang baru saja keluar dari mobil tahanan polisi sangat terkejut melihat putrinya Laura bersama Arga, Felix, dan Raka saat itu. Tetapi dia hanya bisa diam tak berkutik. Akhirnya Agus dan pak Anto pun di tangkap, saat itu pak Anto meminta pada Arga untuk menjaga anaknya.
"Nak Arga, tolong jaga putri saya dia tidak memiliki keluarga selain saya. Hanya itu permintaan saya."kata pak Anto.
"Tentu.. bila perlu saya akan adopsi dia sebagai adik saya."jawab Arga.
Akhirnya Agus dan pak Anto di tangkap dengan hukuman seumur hidup di penjara. Tak akan ada lagi yang mengirim teluh, teror atau pun korupsi. Mereka berempat pulang ke mansion setelah proses penangkapan itu.
Sesampainya di mansion......