
"Aku... aku bunuh diri..." jawab sosok perempuan itu.
"Bunuh diri? Kenapa...?" tanya Killa dkk kompak.
"Iya aku bunuh diri hiks... tolong temukan jasadku kasihan orang tuaku yang selalu mencari keberadaanku sampai saat ini." jawab sosok perempuan itu sambil menunduk sedih.
"Lalu siapa namamu...?" tanya Siska pada sosok itu.
"Namaku... Nadira." jawab sosok perempuan yang bernama Nadira.
"Bagaimana bisa kamu dibunuh oleh calon suamimu..?" tanya Riri yang diangguki oleh ketujuh sahabatnya.
"Jadi..." sosok Nadira mulai bercerita.
Flashback On
Nadira Ayu Puspa adalah mahasiswi di Universitas fakultas hukum, ia juga mahasiswi yang sangat berprestasi dikampusnya. Nadira memiliki sahabat bernama Revan yang juga satu fakultas dengannya. Revan pun sangat menyayangi Nadira sebagai sahabat tak lebih. Berbeda dengan Nadira, Nadira memiliki perasaan terhadap Revan tanpa diketahui oleh Revan sendiri karena ia lebih memilih memendamnya. Lama kelamaan, Nadira tak tahan menahan perasaannya pada Revan ia pun memutuskan untuk mengungkapkannya saja.
"Rev.. gue mau ngomong serius sama lo." kata Nadira yang gugup.
"Mau ngomong apa Nad?" tanya Revan penasaran.
"Emhh... Rev, gue sebenernya sayang dan cinta sama lo udah lama banget." kata Nadira mengatakan semua isi hatinya kepada Revan.
Revan yang mendengar perkataan Nadira terkejut, selama ini ia hanya mengganggapnya sebagai sahabat. Mau tak mau Revan menerima cinta Nadira karena ia tak mau Nadira kecewa. Akhirnya Revan pun mengatakan jika ia merasakan hal yang sama kepada Nadira.
"Gue juga suka sama lo Nad.." kata Revan terpaksa.
Mereka berdua saat itupula resmi menjadi pasangan, walaupun sebenarnya Revan tak mencintai Nadira.
Setelah 3 tahun Revan dan Nadira mengenyam pendidikan di Universitas ITB kampus terbaik diBandung selesai. Hari ini Nadira dan Revan sedang berada di aula kampus yang sedang melaksanakan wisuda. Mereka berdua lulus dengan nilai yang sangat tinggi dan memuaskan juga Nadira dan Revan yang saat ini telah resmi bergelar menjadi sarjana hukum. Setelah lulus kuliah Nadira dan Revan bekerja sebagai pengacara, mereka berdua menjadi pengacara yang sangat handal dan banyak yang memakai jasa mereka berdua.
Revan awalnya mencoba untuk mencintai Nadira tetapi ia tak bisa, ia tetap menganggap Nadira adalah sahabatnya. Akan tetapi, Nadira yang merasa berpacaran cukup lama meminta Revan untuk segera melamarnya dan juga seluruh keluarga Revan dan Nadira juga sudah saling mengenal.
"Rev... kita kan udah manjalin hubungan cukup lama, kapan kamu mau lamar aku?" tanya Nadira.
"Nanti aku bicarakan dulu dengan kedua orang tuaku." jawab Revan sambil menghela nafas kasar, yang di angguki oleh Nadira.
Saat Revan membicarakan tentang lamaran pada Nadira, orang tua Revan sangat menyetujui niat baik Revan. Dengan berat hati Revan akan melamar Nadira beberapa hari lagi. Setelah beberapa hari Revan lewati, mau tak mau ia harus melamar Nadira karena dihatinya tak ada cinta untuk Nadira. Revan dan kedua orang tuanya pun berkunjung kerumahnya Nadira. Setelah mereka mengatakan maksud kedatangan mereka, kedua orang tua Nadira dan Nadira pun setuju dengan lamaran Revan.
3 bulan menjelang pernikahan, Revan bertemu dengan seorang perempuan cantik dan perempuan itu telah mencuri perhatiannya. Perempuan itu bernama Lesta, Revan dan Lesta awalnya berteman tetapi setelah mereka berdua berteman lama kelamaan berubah menjadi cinta.
Tibalah saatnya Revan dan Nadira dihari yang bahagia, Nadira yang saat itu sudah dirias oleh tim MUA dan juga telah memakai gaun pengantin begitupula dengan Revan. Revan saat itu sedang berada ditaman dekat kolam bersama seorang perempuan cantik, entah kenapa Nadira yang saat itu pun merasa bosan berada didalam kamar hotel. Lalu Nadira pun beranjak berjalan perlahan menuju kolam, saat berada disana Nadira terkejut melihat ada Revan dengan seorang perempuan yang sedang bermesraan.
"Revan? jadi selama ini kamu berselingkuh dibelakangku?" tanya Nadira yang langsung menghampiri Revan dengan seorang perempuan.
"Iya, memangnya kenapa kamu nggak suka?" tanya Revan kembali.
"Rev.. hari ini kita mau menikah, tolong tinggalkan perempuan itu." kata Nadira tabah.
"Gue nggak akan meninggalkan Lesta." sahut Revan marah.
"Apa kamu mencintainya Rev?" tanya Nadira menahan tangisannya.
"Iya Nad, aku mencintainya..." jawab Revan tenang.
"Apa kamu tak mau menikah denganku? Apa kamu gak cinta sama aku lagi?" tanya Nadira beruntun sambil meneteskan air mata.
"Aku tak pernah serius untuk menikahimu Nad, karena aku tak pernah mencintaimu. Awalnya aku bingung untuk mengatakannya padamu dan juga orang tuaku sudah terlanjur ingin menginginkan kamu menjadi menantunya." jawab Revan.
"Jadi.. selama ini kamu tak pernah benar-benar mencintaiku Rev? Tapi kenapaa?? Apa salahku padamu Rev?" jerit Nadira sambil berurai air mata.
"Kamu tak bersalah apapun Nad, aku sudah mencoba untuk mencintaimu tapi aku tetap tak bisa aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku saja." jawab Revan.
"Maafkan aku Nad, yang tak bisa mencintaimu.." lanjut Revan.
Nadira yang memang sedari dari telah memakai gaun pernikahan pun berlari setelah mendengar penuturan dari Revan. Nadira berlari menuju Rooftop hotel, ia menangis sesegukkan mengingat perkataan Revan. Nadira duduk melamun masih dengan air mata yang mengalir di pipinya ia tak bisa berpikir jernih lagi, lalu kemudian ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ujung Rooftop. Nadira pun menaiki tembok pembatas Rooftop lalu setelah itu ia melompat dari Rooftop yang menghubungkan tempat ia dan Revan bertengkar sebelumnya, tubuhnya melayang dan terhempas menghantam lantai dekat kolam renang dengan darah yang mengucur dikepalanya.
Revan yang mendengar suara seperti benda jatuh pun mendekatinya dan ia terkejut saat mendapati Nadira yang sudah dipenuhi oleh luka lebam dan darah yang mengalir dikepalanya. Nadira melihat kedatangan Revan dan untuk terakhir kalinya ia melihat Revan sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
"Itulah ceritaku..." kata sosok Nadira.
"Lalu apa yang harus kami lakukan agar dapat membantumu ?" tanya Riri yang diangguki ketujuh sahabatnya.
"Tolong kalian cari Revan, pertemukan aku dengannya hiks... aku hanya ingin meminta maaf atas keegoisanku yang selalu mementingkan perasaanku sendiri." jawab sosok Nadira sambil menunduk bersalah.
"Dimana kami bisa bertemu dengannya?" tanya Alex.
"Setiap sore dia akan datang kesini untuk mengenang kepergianku...." jawab sosok Nadira. "Aku hanya bisa melihatnya saja tanpa bisa menyentuhnya seperti dulu." lanjut sosok Nadira yang sedih.
"Tenanglah... kami akan membantumu sebisa kami." kata Killa yang di setujui oleh sahabatnya.
"Kami akan datang kesini lagi nanti sore untuk mempertemukanmu dengannya." kata Daniel.
"Baiklah... terima kasih." sahut sosok Nadira.
Skip