Our Secrets

Our Secrets
Ch. 98. Merem Melek



Bab. 98


Malam-malam, kamar yang ditempati oleh Sila tadi terbuka dari dalam dan keluarlah penghuni baru kamar tersebut.


Rambut yang tergerai asal, serta wajah penampilan yang acak-acakan, Sila melangkah keluar dari kamar itu dan turun ke bawah menuju dapur.


Sebelum melanjutkan acara ngambeknya, ada sesuatu yang harus Sila dapatkan. Karena sepertinya janin yang ada di dalam kandungannya itu sangat tahu betul jika dirinya tidak sedang tidur bersama daddy-nya.


"Ck! Kenapa juga kamu tau banget sih, Dek. Mimi masih ngambek loh ini sama Daddy-mu," gumam Sila kesal sembari mengusap perutnya sendiri.


Lagi enak-enaknya tidur, tiba-tiba saja ia merasa perutnya kurang nyaman. Mules dan seolah menginginkan sentuhan di sana. Sudah ia coba sendiri, namun rasa itu tetap saja. Sampai-sampai membuat Sila terbangun dan memutuskan untuk ke dapur. Barang kali kalau diminumin air putih, rasa itu bakalan mereda.


Bukannya mereda, rasa kurang nyaman di perutnya semakin menjadi di saat Sila melewati kamarnya bersama Zacky. Entah kenapa hidungnya begitu peka. Mencium aroma tubuh suami nya membuat Sila membuka pintu kamar itu dan mencari keberadaan Zacky.


Aneh, pria itu tidak ada di kamar mereka.


"Kok nggak ada?" gumam Sila yang kemudian menyalakan lampu kamar mereka. Tetap saja tidak menemukan pria itu.


Sila keluar kamar lalu menuju ke ruang tengah. Barang kali suaminya ada di sana. Namun ternyata tidak ada. Kemudian Sila mencari di ruang kerja Zacky yang berada di lantai satu. Rupanya pria itu tengah tertidur di sofa panjang yang ada di ruang kerja.


Ukurannya lebih lebar dari sofa biasa, membuat tubuh Sila muat ketika perempuan itu mendusel dan menggunakan lengan Zacky sebagai bantal. Ya. Sila langsung tidur di depan Zacky lalu menarik tangan pria itu agar mengusap lembut perutnya. Menuntunnya untuk berbeda secara memutar.


Zacky sedikit terkejut di saat tangannya ditarik oleh seseorang yang ternyata istrinya sendiri. Bibir pria itu tersungging ke atas di kala Sila menuntun tangannya untuk mengusap perut.


"Kenapa? Mules lagi?" tanya Zacky dengan suara serak. Khas orang baru bangun tidur.


"Hmm," balas Sila yang mulai memejamkan matanya.


Sedangkan Zacky yang berganti terjaga, melakukan tugas nya mengusap perut Sila hingga istrinya terlelap.


Pria itu tidak berhenti tersenyum, melihat sang istri yang ada di dalam pelukannya saat ini. Setelah seharian mengabaikan dirinya dan bahkan tidak mau mengobrol sedikit saja dengannya.


"Gemesin banget sih kamu, Yaang," gumam Zacky yang semakin mengerahkan pelukannya pada Sila.


Ia tidak menyangka jika perut Sila semakin bertambah besar seperti sekarang. Perempuan ini juga tidak mengeluh sakit atau bagaimana, kecuali di saat malam seperti sekarang ini. Di mana selalu meminta dirinya untuk mengusap hingga membuatnya terlelap.


"Karena aku sadar diri, Mas," sahut Sila tiba-tiba. Membuat Zacky terkejut dan kaget luar biasa. Karena ia pikir Sila sudah benar-benar tertidur.


"Loh, kamu belum tidur, Yaang?" tanya Zacky bingung.


Sila merubah posisinya yang semula miring dan memunggungi Zacky, kini berubah telentang. Menoleh ke arah sang suami yang menatapnya terkejut.


Sila cemberut, semakin membuat Zacky khawatir. Takut jika Sila tiba-tiba saja menangis setelah ini. Seperti apa yang pernah terjadi. Zacky khawatir saja kalau-kalau suara tangisan Sila akan dikira sebagai mbak kunti oleh pekerja yang tinggal di bangunan belakang. Karena jarum jam masih menunjuk ke angka dua dini hari.


"Gimana mau tidur, kalau yang di dalem nendangin terus, Mas," keluh Sila dengan bibir cemberut. "Aku ngantuk banget, tapi dia nggak mau diem," adunya lagi.


Zacky kasihan melihat Sila seperti ini. "Mungkin nggak mau di ajak tidur di sini, Yaang. Kita pindah aja ke kamar kita, ya? Siapa tau dia maunya di sana." sahut Zacky.


Kemudian pria itu bangkit dan membantu Sila berdiri. Namun, Sila malah mengulurkan tangan ke arahnya.


"Gendong ... lemes kakinya," pintanya sangat manja.


Penampilan yang acak-acakan seperti ini, serta ada beberapa kancing baju Sila yang terbuka, juga kaki mulusnya yang terekspose begitu jelas, sebab roknya tertarik ke atas akibat bergerakan Sila barusan. Membuat daya tarik Sila sungguh meningkat drastis. Sampai-sampai Zacky tidak kuasa serta menelan salivanya dengan sangat kasar. Seolah tidak sabar untuk melakukan ritual penyatuan jiwa dan raga.


"Jadi pingin makan kamu sekarang, Yaang," ujar Zacky seraya menaruh tangannya di belakang punggung serta belakang lutut Sila lalu mengangkatnya.


"Aku berat loh, Mas," ujar Sila sadar. Padahal badannya tidak menggemuk. Hanya perut, dada, dan pantat saja yang mengalami pengembangan. Kaki dan tangannya tetap terlihat normal.


"Iya juga, ya," sahut Zacky dengan wajah menyebalkan. Membuat Sila mencubit dada pria itu.


"Nyebelin," kesal Sila.


"Tapi buat kamu merem melek, Yaang," balas Zacky yang semakin mengarah ke anu.


Sontak, wajah Sila merona merah karena malu.


"Puas nggak, Yaang?" tanya Zacky lebih dalam lagi.