Our Secrets

Our Secrets
Ch. 103. Aneh Tapi Nyata



Bab. 103


Hari pun berganti dengan hari. Perut Sila juga tampak lebih membesar dari sebelumnya. Di tambah lagi gerakan yang ada di dalam perutnya semakin aktif dan terasa begitu jelas. Bahkan, sampai membuat bentuk perut Sila benjol ke beberapa arah secara bergantian. Mungkin baby twins yang ada di dalam sedang rebutan tempat.


"Kenapa lagi, Yaang?" tanya Zacky yang baru datang menghampiri Sila, lalu menaruh dua piring di atas meja.


Sementara Sila meringis dengan tangan memegang perutnya. Kaki perempuan itu bergerak gelisah. Serta kepalanya yang sebentar menunduk, sebentar lagi mendongak ke atas.


"Mass ..." rintih Sila dengan mata memejam erat. "Ini anak-anak kamu kenapa lagi sih di dalam? Mereka berantem apa ya?" keluh perempuan itu lagi.


Bukan hanya satu kali arau dua kali Sila mengeluh seperti ini. Semenjak usia kandungannya menginjak enam bukan, perempuan itu memang sering kali tiba-tiba menangis dengan memegang perutnya. Kalau tidak begitu, akan mencengkeram apa saja yang ada di dekatnya. Bahkan tangan Zacky pun sering jadi tumbal.


Mendengar istrinya yang merintih menahan sakit, Zacky bergegas mendekat dan langsung mengusap perut Sila yang terasa keras. Memutar tangannya di atas perut Sila setelah menyibakkan baju, Zacky bisa merasakan mereka yang ada di dalam tengah bergerak. Seolah ingin sekali menjebol kulit perut miminya sendiri.


"Yaang ... kok kenceng banget kayak gini geraknya? Nggak akan sobek kan ini kulit kamu kalau kayak gini?" tanya Zacky khawatir serta panik di kala perut Sila terlihat benjol dan keras di bagian yang disentuh tangannya.


Sila tampak mengatur napasnya. Kemudian merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang yang ada di depan televisi tersebut. Mencari posisi yang sangat nyaman.


"Aku juga nggak tau, Mas. Tapi ini rasanya ngilu banget. Terus di dada tengah aku rasanya kek mau ditendang gitu. Ternyata berat juga jadi orang hamil, Mas. Pokoknya nggak mau tau, nanti yang sakit pas lagi dan harus kamu. Aku nggak mau ngerasain lagi," oceh Sila sembari bergerak gelisah.


Zacky mengangguk saja, meskipun pria itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sila. Yang terpenting setuju saja.


"Iya, Yaang. Aku aja yang sakit, kamu udah berkorban terlalu banyak buat kami," sahut Zacky.


"Suruh mereka berhenti, Mas. Biasanya kan nurut kalau kamu yang ngajak bicara," pinta Sila yang sudah tidak tahan dengan rasa ngilu luar biasa.


Mungkin, karena yang ada di dalam itu berisi dua janin, sehingga mereka secara bergantian berdesakan, saling berebut tempat dan memilih posisi yang sama-sama nyaman bagi mereka. Tidak memperhitungkan dampak yang dirasakan oleh miminya.


Zacky berjongkok dan menempatkan wajahnya tepat di dekat perut Sila. Sedangkan posisi Sila saat ini berbaring dengan posisi miring. Menghadap ke arah suaminya.


"Sayang ... anak-anaknya Daddy ... jangan gerak terlalu kenceng, ya. Kasihan Mimi loh, jangan buat Mimi nangis gara-gara kalian. Nanti Daddy nggak dikasih ijin tidur di kamar. Ntar nggak bisa nengokin kalian lagi. Gimana coba kalau Mimi sampai marah kayak gitu? Hmm? Udah nggak mau Daddy tengokin? Kalau mau, udahan dulu ya berantemnya di dalam sana. Sekarang diem, biarin Mimi makan dulu. Kalian juga harus makan, kan? Nah ... pinter, anak-anaknya Daddy. Daddy sayang banyak banyak buat kalian," ujar Zacky yang mengajak bicara dengan calon anak-anaknya. Lalu pria itu mengecup beberapa kali perut Sila. Membuat Sila merasa geli.


Aneh tapi nyata, Sila tercengang dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Mereka benar-benar berhenti bergerak setelah mendapat kecupan dari Zacky.


"Waaahh ... emang, ya! Kalian tuh bener-bener sengkongkol sama Daddy? Hmm? Kalau sama Mimi nggak mau denger. Ck! Emang anak kamu banget ini, Mas!" kesal Sila.


Masih di dalam perut saja mereka nurutnya pada Zacky.


Zacky terkekeh kecil lalu mengecup kening Sila yang sedikit basah karena keringat.


"Udah seribu persen kalau itu, Yaang," sahut Zacky begitu pongah. "Soalnya mereka maunya dijengukin mulu. Gimana? Sekarang a?" ujar Zacky seraya memainkan alisnya.


"Ck! Itu mah maunya kamu aja. Modus terus sama mereka," balas Sila memukul lengan suaminya namun dengan bibir tersungging ke atas.