
l never wanted to love, because loving is the stupid think l've ever done.
aku tak pernah ingin mencintai, karna mencintai itu adalah hal kebodohan yang pernah aku lakukan .
~¤¤¤º♡♡♡º¤¤¤~
Tak pernah sebelumnya rena mengajak riri ke suatu tempat tapi rena tak mau menyebutkan akan kemana dia pergi. Riri hanya bisa menebak nebak tanpa tau pasti kemana rena akan membawanya pergi.
Tiba tiba ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan panti asuhan anak. Seketika riri terheran dengan rena yang tiba tiba mengunjungi tempat tersebut. Dan ada urusan apa rena ke tempat itu.
" panti asuhan? "
Riri membuka kacamata hitamnya saat melihat tulisan yg tertera di depan bangunan tersebut.
Tak sepatah kata pun rena menjawabnya. Lalu kemudian dia menarik tangan riri memasuki gerbang bangunan tersebut. Terlihat ada banyak anak anak berlarian dengan beberapa pengasuhnya. Hatinya seskan tertegun melihat pemandangan mengharukan itu. Dia berfikir betapa malangnya mereka hidup seorang diri di tempat itu tanpa tau di mana dan siapa orangtua nya.
Lalu rena menemui seseorang di dalam sana. Riri yg masih berdiri terpaku menatap sedih mereka mengingatkan dirinya yg sudah di tinggalkan kedua orangtua nya sejak smp dan tak pernah kembali. Bahkan dia sudah lupa dengan wajah wajah mereka. Ayahnya pergi meninggalkan dia dan ibunya saat dia masih sangat kecil. Setelah itu ibunya tak pernah menceritakan kemana ayahnya pergi. Ibunya depresi hingga ahirnya meninggal ayahnya benar benar tidak kembali.
" kamu mau apa sih ren sebenarnya kesini "
Tanya riri saat rena keluar dari sebuah ruangan itu usai bertemu dengan seseorang.
" nanti ku ceritakan di mobil "
Jawab rena misterius.
Lalu mereka memasuki mobilnya dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
" aku kayaknya mau adopsi anak deh ri "
Sepontan riri kaget mendengar hal itu. Karena baru saja dia menikah dan lagipula rena tak mungkin sanggup untuk mengurus semuanya. Di tambah perusahaan mereka sedang sibuk sibuknya.
" ren.. ren. Kayaknya itu bukan keputusan yang tepat deh. Apa adipati akan setuju. Lagipula kalian kan baru saja menikah "
Riri berusaha memberikan sebuah saran untuk rena.
" iya sih. Kantor juga lagi sibuk sibuknya. Adipati pasti nolak sih, aku coba pertimbangkan dulu deh "
Riri mulai menarik nafas lega karna pada ahirnya rena tak mau gegabah dalam mengambil tindakan.
~¤¤¤º♡♡♡º¤¤¤~
Kantornya akhir akhir ini memang sangat sibuk. Karna baru saja mendapat duplikat penghargaan terbaik dalam menerbitkan beberapa karya dan sudah mendapati julukan penerbitan buku best seller. Tak heran kalau pekerjaan nya bertambah banyak karna banyak penulis yg mempercayakan perusahaan nya untuk menerbitkan karya mereka.
Rena membasahi mukanya di sebuah wastafel kamar mandi. Dengan tergapa gapa dia berusaha meraih bahu riri yg berdiri di sebelahnya.
"Ya ampun ren mukamu pucat. Kita ke rumah sakit dekat sini ya"
Riri panik seketika melihat sahabatnya dalam kondisi lemah tak berdaya itu.
Riri mencoba menawarkan nya untuk pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisinya sekarang ini. Setidaknya dokter memberikan obat agar rena bisa beristirahat.
Merintis dan membangun sebuah perusahaan penerbitan memanglah tidak mudah. Untuk sampai di tahap ini pun sejauh ini banyak rintangan yg menghujam. Rasa lelah dan letih mereka bangun bersama. Tak heran kalau rena sampai lupa menjaga fisiknya setelah menikah 3 bulan yang lalu. Pekerjaan nya fikirannya bertambah 2x lipat dari sebelumnya. Riri mengenalnya adalah sosok wanita yang tangguh. Seberat apapun yg di kerjakannya ia selesaikan dengan baik sebab itu perusahaan penerbitan milik riri berhasil sampai sejauh ini. Namun setelah menikah rena tanpak lelah dengan semua itu. Apakah pernikahan tidak bisa membebaskan dia seperti masa lajangnya dulu.
Riri sempat berfikir bahwa menikah hanyalah membuat sahabatnya itu terkurung dalam sebuah kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak bisa nongkrong malam di kafe, jalan jalan keliling tempat tempat seru. Atau hanya sekedar minum teh menikmati pemandangan seja di sore hari. Dia rasa apartement nya cukup indah jika di gunakan hanya untuk melihat matahari terbenam dari balkon kamarnya. Namun lagi lagi rena tak pernah datang menemui dia walau hanya beberapa menit saja. Padahal jarak rumah rena tak jauh dari apartement riri. Ia sadar bahwa selama ini rena hanya bisa menjumpainya pada saat bekerja di kantor atau ada urusan penting lain mengenai perusahaan yg sedang mereka rintis. Sesekali ia belokan perjalanan nya untuk mengurangi suatu tempat. Dan melepaskan rasa penatnya selama ini
"Bagaimana keadaanmu ren"
Ucap riri dengan penuh kekawatiran
Rena hanya membalasnya dengan senyuman lepas itu. Entah apa yg di maksud oleh senyum yang merekah di bibirnya. Riri pun bertanya tanya dalam hati.
" rena sedang hamil 2 minggu "
Suara itu terdengar dari seseorang yg mendekatinya dri dari balik tirai rumah sakit. Suara yg tak asing bagi riri itu menggema di langit langit rumah sakit.
Riri tak pernah membayangkan bahwa di dalam perut sahabatnya itu ada mahluk kecil yg hidup makan dan minum melalui tubuhnya.
Ekspresi nya antara bahagia dan juga ngeri membayangkan jika dia berperut besar dengan seorang bayi di dalamnya. Karena selama ini riri sangat menjaga keindahan bentuk tubuhnya. Ia berfikir bagaimana ia akan mengenakan dresnya, jinsnya dan baju baju lainnya.
~¤¤¤º♡♡♡º¤¤¤~
Hari itu juga riri memutuskan untuk bertemu adipati, menyampaikan kabar gembira itu padanya. Berharap adi yg selalu sibuk dengan pekerjaan nya itu agar bisa lebih memperhatikan rena dan calon anaknya.
Riri meremas kedua tangan rena dengan penuh perhatian.
" iya ri, semoga saja adipati pulang cepat hari ini "
Nampak jelas kebahagiaan di balik senyum rena.
Namun riri masih saja bingung dengan situasi di mana ia harus bahagia untuk sahabatnya dan sesak untuk masa Lalu nya yg kini tinggal puing kenangan. Ahirnya dia sadar akan posisi nya yg harus memperjuangkan mereka agar tetap utuh dan menjadi satu satunya keluarga yg dia miliki.
From : me
To : adipati
Kita harus bicara hari ini, temuiku di kafe dekat rumah sakit juna setelah pulang kantor
Satu pesan ia kirim pada adi. Berharap ia segera membukanya
From: adipati
Oke, jam makan siang aku kesana.
Tak di sangka adi merespon nya dengan sangat cepat.
Tak jauh dari rumah sakit mereka bertemu. Aneh rasanya jika sepasang kekasih yg telah berbeda status itu di pertemukan kembali.
~¤¤º♡♡♡º¤¤~
15 menit sudah riri duduk berharap seseorang yg ia tunggu akan segera datang, dan benar saja Tak lama kemudian adipati datang seorang diri menemui riri yg tengah duduk terpaku dengan sejuta problem di kepalanya.
Adi mulai memesan segelas kopi untuk menemani diskusi nya dengan riri.
" apa yg akan kau sampaikan "
Tanya adi membuka pembicaraan
" kamu masih mencintaiku adi "
Sepontan kata itu meluncur begitu saja dari mulut riri. Membuat adipati menahan nafasnya mencoba mendengar dengan sebaik baiknya apa yg akan di sampaikan oleh wanita yg ada di hadapannya itu.
Adi menaikan sebelah alisnya dan berfikir keras tentang apa maksud dari perkataan riri.
" rena pernah cerita bahwa kau tak pernah mempedulikannya. Pulang larut bahkan berhari hari kamu tidur di kantor, sebegitu penting kah pekerjaan mu "
Riri berusaha untuk membuat adipati bungkam dengan perkataannya.
" ya. Itu pekerjaanku dan itu tanggung jawabku pada perusahaan "
" ada yg lebih penting dari pekerjaanmu adi. Apa kamu tidak tau bahwa rena sedang mengandung anakmu saat ini. Tidak bisa kah kamu pedulikan dia sedikit saja. "
Riri Mulai memberi tahu tentang keadaan rena saat ini pada adi
" rena hamil?"
Saut adi tidak percaya dengan apa yg ia sengar dari riri.
" aku kecewa sama kamu di. Dimana janji yg dulu kamu ucapkan bahwa kamu akan mencintainya menyayangi nya dan menjaganya. Rena adalah istrimu dia butuh perhatianmu sebagai seorang suami "
Riri meninggikan suara berharap adi mengerti apa yg ia cemaskan saat ini.
" kamu yg mengatakan itu dan seolah aku yg menjanjikan nya. Kamu yg memaksaku untuk mencintainya seperti aku mencintaimu aku tidak bisa ri. Aku tidak bisa melakukan itu pada orang lain yg sudah jelas kamu ada di hadapanku saat ini. Kamu tau betapa sku menyesali keputusanku itu. Tolong jangan paksa aku untuk berpura pura mencintai nya. Aku tidak ingin mengecewakan rena bila suatu saat nanti dia tau bahwa yg aku cintai adalah kamu. Sahabatnya sendiri "
Posisinya memang tidaklah mudah baginya untuk mencintai rena walau riri yg memintanya.
" aku memohon dengan sangat. Lupakan aku dan anggaplah tidak ada cinta di antara kita "
" aku tidak bisa ri kalau harus melupakan mu, tapi akan ku usahakan untuk bisa memperdulikan rena untuk kamu "
Ahirnya adi memilih untuk mengatakan itu. Riri pun mulai menarik nafas lega.
Satu masalah sudah terselesaikan hanya saja dia tidak bisa mengatur kondisi hatinya pada saat berada di dekat adi. Rasa cintanya masih saja ada. Riri hawatir rena akan curiga dengan percampuran yangan dia di dalam rumah tangga sahabatnya itu.