
Bab. 32
Ujian Nasional berjalan dengan sangat lancar. Membuat murid kelas dua belas merasa lega setelah melewati satu minggu ini yang sangat menegangkan bagi mereka.
Pun begitu dengan yang Sila rasakan. Akhirnya tugasnya telah selesai dengan berakhirnya ujian nasional. Pikir gadis itu. Ke depannya tinggal mencari mampir yang bisa ia gapai. Tentu saja Sila akan mengandalkan kecerdasan otaknya.
"Udah tentuin mau ke mana?" tanya Sila apa teman-temannya.
Kedua temannya dengan kompak menggelengkan kepala.
"Kita lihat aja dulu hasilnya gimana," sahut Melani yang disetujui oleh Yuan.
"Iya, sih."
"Lo sendiri udah ada emangnya?" tanya Yuan kepada Sila.
"Masih mau cari, sih. Yang aman buat dompet gue juga nggak terlalu jauh dari kontrakan. Sayang banget kalau sampai gue pindah. Itu udah murang harganya. Belum lagi gaji gue nyanyi di cafe juga dinaikin sama manager. Ntar ribet kalau dapat yang jauh," jawab Sila panjang.
"Nggak bareng kita lagi?" tanya Melani memastikan. Karena dirinya juga akan daftar ke kampus yang sama dengan Yuan. Meskipun sampai saat ini mereka belum memutuskan ke mana.
Sila menggeleng. "Kalian pasti di kampus ternama. Gue kagak bisa gapai kalian, kalau selain kegiatan pokok kampus masih buanyak banget yang musti diikuti. Itu udah pasti membengkak biayanya. Gue nggak mau ngerepotin kakek sama nenek di kampung," jelas Sila. Membuat kedua temannya terdiam.
Yuan menepuk bahu Sila.
"Gampang, nanti biar Papa gulaku yang bayarin lo, Sil. Lo fokus temenin gue dan belajar aja. Ya nggak, Mel?" ujar Yuan. Melani mengangguk setuju.
"Masalah saku, tenang aja. Gue calon CEO. Biar gue yang nanggung." pongah Melani dengan gaya sombongnya.
Sontak membuat Sila dan Yuan langsung meraup wajah Melani dengan gemas.
"Berasa punya mami gula deh, gue." celetuk Sila kemudian.
"Gue masih suka pisang Radja!" sahut Yuan yang memang agak absurd.
Membuat dua temannya menatap aneh.
"Apa hubungannya sama pisang radja?" tanya Melani yang masih belum tahu bentukan pisang.
"Ya kan yang besar dan panjang," jawab Yuan sembari terkekeh. Geli sendiri mengatakan fakta itu.
***
Besok merupakan hari wisuda. Mereka bertiga lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Tidak malu-maluin gelar yang mereka sandang. Di mana mereka dijuluki sebagai Trio Genius.
Seperti biasa, namanya juga gadis, sudah pasti mereka akan ribet dengan permasalahan mengenai penampilan. Sampai-sampai sedari tadi mereka belum selesai prepare buat acara besok.
"Eh, guys. Perut gue nggak keliatan buncit, kan?" tanya Sila setelah dua minggu yang lalu baru mengetahui jika dirinya tengah berbadan dua saat ini.
Yuan tampak memperhatikan Sila yang tengah mencoba kebaya pilihan temannya itu.
Memegang pinggang Sila yang masih sangat ramping, memutarnya ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan setiap detailnya penampilan Sila.
"Enggak sih menurut gue. Bahkan nggak akan ada orang yang percaya kalau sekarang lo hamil," ucap Yuan. "Bener kan, Mel?" tanya gadis itu yang kemudian menoleh ke arah Melani. Di mana Melani sekarang tengah dibantu pemilik butik untuk memperbaiki ukuran kebaya yang dia pilih. Sedikit kurang besar di bagian dada gadis itu.
"Enggak kok. Masih kempes banget," sahut Melani.
Sedangkan si pemilik butik yang tak lain tante Melani sendiri hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Sebelumnya Sila yang memang gampang sekali dekat dengan orang asing, apa lagi enak di ajak bicara, gadis itu nyerocos dan membuka sendiri masalahnya. Di mana banyak orang yang akan memilih untuk menyembunyikan fakta itu. Karena sebagian orang tersebut menganggapnya sebagai aib. Namun tidak bagi Sila. Gadis itu sudah bisa menerima kehadiran nyawa lain yang ada di dalam perutnya.
"Bagus deh. Kalau gitu ntar gue bisa nggaet pengusaha di acara wisuda nanti," ucapnya yang begitu asal.