
Bab. 53
Akhirnya Sila bisa menghirup udara segar setelah beberapa hari terakhir.
"Akhirnya ... gue bebas juga," ucap perempuan itu sembari merentangkan tangannya ketika mereka sampai di depan mall ternama di Jakarta.
Yuan yang berada di sampingnya pun langsung mendorong kepala Sila ke samping.
"Kayak yang baru bebas dari penjara aja," cibir Yuan menatap jengah ke arah sahabatnya. "Lebay banget jadi orang," lanjutnya lagi.
"Lah, emang gue baru bebas, YuyuKangkang!" balas Sila namun tidak tega jika harus mendorong kepala sahabatnya. Karena Sila mendengar kalau Yuan sempat mengalami muntah yang cukup hebat di kehamilannya saat ini.
Tidak seperti dirinya yang biasa saja. Tidak mengalami gejala mual-mual atau muntah. Palingan tetiba saja menginginkan sesuatu yang tidak terjual di waktu yang tepat.
"Bilangin noh sama adik ipar lo. Jangan suka ngurung orang!" ujar Sila meluapkan kekesalannya.
Yuan menggelengkan kepala sambil memasang masker untuk menutupi hidung dan mulutnya. Mengantisipasi kalau nanti indera penciumannya mencium sesuatu yang bisa memicu rasa mual di perutnya.
"Ya tinggal kabur aja sih. Apa susahnya emang?" balas Yuan. "Lo kan paling ahli dalam hal kabur kaburan. Kenapa nggak lo lakuin? Tapi kalau lo betah di sana ya bertahan aja sih sampai itu anak lahir," saran Yuan.
Sila menghela napas berat. Seolah bebannya memang sangat berat saat ini.
"Lo tau? Gu—"
"Enggak!" sahut Yuan cepat sambil melangkah masuk ke dalam bangunan besar nan luas di depan mereka.
Membuat Sila mengepalkan tangan dan memukul udara.
Yuan tidak heran dan kaget dengan kenyataan yang satu ini. Karena suaminya sendiri juga melakukan hal yang sama.
"Udah biasa gue," balas Yuan yang semakin membuat Sila lesu. Pasalnya ia tidak akan bisa meminta bantuan kepada Yuan.
"Terkadang gue tuh merasa beruntung hamil anaknya," ucap Sila tiba-tiba. Membuat Yuan menoleh cepat, menatap penuh rasa penasaran di dalam diri.
"Kok bisa? Udah suka?" tanya Yuan langsung. Karena Sila tidak pernah menceritakan mengenai perasaannya pada Zacky.
"Ck! Boro-boro suka. Makin kesel, iya!" jawab Sila cepat dengan wajah kesalnya. "Beruntungnya tuh karena gue nggak bingung lagi cari uang di mana. Cuma terkadang gue bingung juga. Kita terikat hanya karena ada calon anak di perut gue. Nggak ada perasaan, juga nggak ada status yang jelas. Tapi om sugar gue itu kenapa terus ngurung gue di dalam apartemen? Nggak bolehin ini itu. Make ini itu juga dalam pengawasan dia," lanjut Sila panjang lebar.
"Inti masalahnya?" potong Yuan di sela Sila akan berbicara lagi.
"Status sih kalau gue," ungkap Sila.
"Lo maunya dinikahin?" tanya Yuan lebih jelasnya.
Ia tahu kalau dia antara mereka bertiga memang Sila yang terlihat seperti perempuan bebas. Hidup di tempat yang terlihat negatif di mata orang-orang. Namun sebenarnya perempuan inilah yang paling polos dan baik jika mengenai perasaan. Dia lebih mementingkan orang lain, dari pada dirinya sendiri.
"Nggak. Dia ada tunangan. Gue sadar diri, Yu. Lagian juga nggak ada rasa gue sama dia," jawab Sila. Bingung sendiri dengan statusnya saat ini.
Sedangkan Yuan terdiam. Ia juga tidak bisa ikut campur terlalu dalam ke permasalahan Sila. Apa lagi ini menyangkut adik iparnya, di mana Zacky pernah berkata kalau dia akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan syarat tidak akan membuat Sila berada dalam kesulitan apapun.
Di tambah lagi suaminya juga menyetujui permintaan Zacky. Juga Zuma yang mendukung. Mereka sudah dewasa, pasti punya cara tersendiri. Apa lagi posisi Zacky memang sulit.