Our Secrets

Our Secrets
Ch. 33. Begitu Sial



Bab. 33


Ternyata di acara yang sangat mereka tunggu dan sangat berkesan itu, sahabat nya mengungkapkan sebuah fakta yang sangat menggemparkan seantero sekolah.


Bagaimana tidak, rupanya salah satu sahabat nya itu menikah dengan seorang guru yang paling diidolakan oleh hampir semua siswi yang ada di sekolah. Lebih lagi sahabatnya itu merupakan orang yang tidak mengidolakan guru tersebut. Dan banyak penghuni sekolah yang tahu akan hal ini. Sehingga agak aneh saja ketika mereka mengungkapkan status mereka yang sebenarnya.


"Gila aja lo ternyata nikah sama Pak Rio," celetuk Sila tanpa sadar mengumpat di depan orang yang sedang mereka bicarakan saat ini.


Melani yang duduk di sebelah Sila, menyenggol kaki calon ibu tersebut.


"Lo kira-kira dong kalau mau ngatain Yuan. Ada suaminya tuh di samping," bisik Melani memperingatkan Sila untuk menjaga lisannya. Di tambah lagi orang yang dikatai tampak begitu santai.


"Jangan salahin gue udah ngambil idola kalian. Tapi salahin Mas Rio. Dia yang maksa gue pas di lampu merah," sahut Yuan yang jelas saja mendengar celetukan Sila.


"Emang dabes sih Pak. Udah benar kalau Pak Rio mungut dia di jalan. Karena kalau enggak, dia udah di ambil sama baj*ngan sialan itu. Saya dukung kok, Pak," ujar Sila seraya mengacungkan jempolnya ke arah Pak Rio.


Lagi dan lagi Melani memukul paha Sila untuk memperingati calon ibu tersebut dalam bersikap.


"Kenapa sih, Mel. Pak Rio sekarang tuh bukan guru kita lagi. Terus di tambah dia juga suaminya Yuan. Otomatis dia kan udah jadi temen kita. Udah satu level lah sama kita statusnya," cerocos Sila yang tidak bisa ditolong lagi.


Melani menutupi wajahnya. Jujur, ia akan mengatakan kalau ia sangat malu sekali mempunyai teman seperti Sila jika sikapnya seperti ini.


"Itu mulut bisa dijaga nggak sih! Orang lagi hamil, juga. Mulut kagak dijaga sama sekali. Awas aja kalau anak lo denger. Bisa dicubit lo ntar," ucap Yuan sama anehnya dengan Sila.


'Sepertinya gue salah masuk circle mereka, deh!' rutuk Melani baru kali ini merasa menyesal berteman dengan dua orang yang sama-sama tidak ada beresnya tersebut.


"Sila hamil, Yaang?" tanya pak Rio kepada istrinya, Yuan.


Mereka semua langsung terdiam. Lupa kalau pak Rio belum mengetahui fakta tentang ini. Yuan menatap Sila, dan Sila memberi anggukan. Mengijinkan jika memang mau dijelaskan.


"Mau jadi kambing, lo?" geram Melani dengan sikap Sila.


Sila mengaduh seraya mengusap keningnya yang dijitak Melani.


"Apa hubungannya gue sama kambing, Mel? Jelas cantikan gue, lah!" protes Sila tidak terima karena disamakan dengan hewan berbulu tebal tersebut.


"Sama-sama makan rumput tetangga," sahut Melani jengah.


Sila meringis, paham maksud Melani. "Jelas enggak, lah. Masa gue mau sama om om. Eh!" secepat kilat Sila menutup mulutnya di kala melihat tatapan tajam dari pak Rio. Mungkin pria itu tengah tersinggung.


Kemudian Yuan menceritakan bagaimana bisa Sila hamil tanpa memiliki pasangan. Pak Rio terlihat geram mendengar muridnya diperlakukan seperti itu. Tampak jelas sekali di saat rahangnya mengeras dan tangannya mengepal begitu kuat.


"Saya akan bantu kamu mencari dia," ucap pak Rio setelah mendengar cerita dari istrinya.


Sila menggeleng. "Tidak perlu, Pak. Ini semua terjadi karena kecelakaan. Dan kecelakaan itu tidak disengaja dan tidak kita rencanakan. Jadi biarkan saja," tolak Sila. Tidak mau memperpanjang urusan tersebut.


"Saya yang akan memberi dia pelaja—"


"Mas Rio!"


Ucapan pak Rio terpotong di kala ada sebuah suara yang memanggil pria matang itu.


Semua menoleh ke sumber arah, dan berapa terkejutnya Sila di saat melihat pria yang tidak ingin dia lihat tersebut.


'Siial! Kenapa dia ada di sini!' umpat Sila dalam hati.