
Bab. 104
"Namanya juga lagi usaha, Yaang. Kan siapa tau beruntung," balas Zacky sembari memainkan alisnya.
Sila melirik malas. Lalu perempuan itu meminta Zacky untuk membantunya bangkit. Ia ingin duduk dan makan makanan yang dibuatin oleh suaminya barusan.
"Bantu aku, Mas," pintanya.
Zacky pun membantu istrinya untuk duduk dan bersandar di sandaran sofa. Tidak lupa pria itu memberi ganjalan bantal di belakang punggung Sila, agar perempuan itu tidak merasa pegal-pegal lagi pinggangnya.
"Memangnya sudah nggak sakit lagi, Yaang?" tanya Zacky masih khawatir dengan keadaan Sila.
Meskipun perutnya tidak terlihat membenjol dan keras lagi, namun Zacky takut jika Sila memilih untuk diam, tidak mengeluh lagi seperti tadi.
Sila menggeleng. "Udah mendingan kok Mas. Dari pada sakit, lebih ke lapar sekarang," jawab Sila sambil meringis malu. Mukanya yang seperti itu berhasil membuat Zacky gemas. Lantas pria itu mendekat untuk kemudian mengecup kening Sila.
"Terimakasih sudah mempertahankan mereka, Yaang," ucap Zacky dengan tatapan yang begitu tulus serta senyuman yang tampak menghangatkan di mata Sila. "Mau makan sekarang?" tanya Zacky setelah mengatakan hal tersebut.
Sila mengangguk. Ingin menegakkan duduknya, namun dihalangi oleh Zacky.
"Kamu duduk kayak gini saja, Yaang. Biar aku yang suapin kamu, hmm?" Zacky menahan tubuh Sila yang akan duduk tegak dan tetap membiarkan sang istri bersandar di sofa.
Kemudian Zacky mengambil piring di atas meja. Memangkunya sembari menghadap ke arah Sila.
"Aku bisa sendiri, Mas. Mereka udah anteng, kok," tolak Sila ketika akan disuapi oleh Zacky. Namun Zacky tetap tidak menyerahkan piring yang ada di tangannya.
"Sayang ... apa yang kulakukan ini tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan untukku. Mengandung anak-anakku, pasti terasa berat bagimu. Di tambah lagi ketika menahan rasa sakit di saat mereka berantem di dalam," Zacky meraih tangan Sila, menggenggamnya serta menatapnya dengan tatapan begitu lembut dan dalam. "Jadi, apa yang kulakukan ini tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan, Sayang. Biarkan aku ambil bagianku, tidak semuanya itu kamu lakukan sendiri, hmm?" lanjut Zacky.
Sila dibuat terdiam di tempatnya. Menatap penuh haru kepada pria yang bersikap begitu memuliakan dirinya. Padahal, awalnya ia pikir pria ini hanya sekedar ingin bertanggung jawab karena sudah menghamili dirinya. Namun ternyata pria ini tidak sekedar bertanggung jawab saja.
"Ini bukan ilusi kan, Mas?" tanya Sila ingin memastikan kembali. Takut jika perasaanya salah.
Zacky tersenyum mendengarnya. Lalu mengusap pipi istrinya yang tampak lebih berisi sedikit.
"Aku nyata, Yaang. Bukan bayangan," kekeh Zacky.
"Maksudnya itu bukan yang itu, Mas. Tapi anu!" entah mengapa melihat Zacky yang tidak peka seperti ini, tiba-tiba saja membuat dirinya begitu kesal. "Udahlah, aku makan sendiri," putus Sila. Mencoba untuk mengambil alih piring yang ada di tangan Zacky, akan tetapi pria itu menjauhkan piring nya dari Sila.
"Yaang ... kamu bisa kasih aku tempat buat kontribusi nggak? Biarkan aku yang layanin kamu, oke?" desak Zacky dengan kata-kata yang begitu lembut dan terdengar .... entahlah, Sila belum bisa memastikan perasaannya untuk saat ini. Yang jelas ia tidak menyesal telah memilih jalan ini.
Sila terkekeh mendengar ucapan Zacky. "Mana ada CEO mau jadi pelayan, Mas. Aneh-aneh banget kamu itu," kekeh perempuan itu hingga memegang perutnya yang terasa kencang lagi.
Sedangkan Zacky tetap menyuapi Sila. Sedikit demi sedikit hingga makanan yang ada di tangannya habis. Kemudian Zacky mengambilkan air minum untuk diberikan kepada Sila. Tidak lupa Zacky mengelap bibir Sila. Ada sedikit minyak berada di sudut bibirnya. Tentu, CEO mesum itu tidak akan melewatkan kesempatan emas di kala Sila menatapnya bengong. Mungkin kaget dan tidak menyangka dengan perbuatan manisnya.
"Ada. Pelayan untuk istrinya sendiri," bisik Zacky mengedip nakal. Memberi tanggapan mengenai ucapan Sila tadi.