Our Secrets

Our Secrets
Ch. 52. Masuk Perangkap



Bab. 52


"Om, minggir, dong! Yuan udah ada di bawah loh katanya!" kesal Sila mencoba mendorong tubuh Zacky agar menyingkir dari pintu. Karena saat ini pria itu tengah menghalangi jalannya, hanya karena Sila tidak mengatakan ke mana mereka akan pergi.


"Sebelum aku memastikan dengan jelas ke mana kamu akan pergi, aku nggak memberi ijin," ucap Zacky dengan nada yang begitu datar.


Sila memutar bola matanya jengah. Apa urusannya dengan orang ini, selain mereka terikat sebagai orang tua dari janin yang Sila kandung.


"Udah deh, Om. Nggak usah terlalu lebai. Sudah cukup aku nurutin Om selama satu minggu ini. Sekarang minggir! Orang sama dokter juga nggak boleh stres. Kalau Om terusan ngurung aku di sini, yang ada aku stres terus keguguran. Gimana? Mau?" ucap Sila yang memang tidak bisa di filter. "Kalau aku sih nggak masalah. Asal bukan aku sendiri penyebab dari semua itu. Jadi aku bisa lanjut kuliah sambil nyanyi lagi," imbuhnya yang malah dengan santai merencanakan hidupnya ke depan akan seperti apa kalau saja ia keguguran gara-gara stres.


Zacky mengeram kesal. Bisa-bisanya perempuan ini berpikiran seperti itu. Namun, jika dipikir-pikir juga memang tidak baik terus menerus menahan Sila di dalam apartemen.


Kemudian Zacky menggeser tubuhnya hingga tidak lagi menghalangi Sila untuk keluar bersama sahabatnya. Di mana orang itu merupakan kakak iparnya sendiri.


"Aku ijinin, asal kamu mau tandatangan," ucap Zacky menatap penuh rencana pada Sila.


Kening Sila mengernyit. Perempuan itu menatap penuh telisik ke arahnya. Seolah tengah mencurigai sesuatu dari permintaan Zacky barusan.


"Tandatangan apa?" tanya Sila penuh waspada. "Om nggak sedang ingin morotin aku, kan?" tuduhnya lagi. "Percuma saja kalau Om mau morotin aku. Aku nggak punya apa-apa. Harusnya Om yang waspada sama aku. Ntar kalau aku bikin Om nyerahin harta dan saham Om, gimana? Nggak takut?" cecar Sila lagi yang semakin tidak jelas arah pembicaraannya.


'Bisa dilakban nggak sih itu mulut.' gerutu Zacky yang hanya berani berucap di dalam hati.


"Kalau nggak mau, nggak usah keluar," ujar Zacky memilih duduk kembali di sofa ruang tamu.


Kalau saja kontrakannya yang dulu tidak di sewakan ke orang lain, Sila lebih baik memilih keluar dari apartemen. Itu pun kalau bisa. Orang keluar buang sampah aja ditemani oleh orang suruhan Zacky yang berjaga di depan pintu unit apartemen.


Sementara itu dering ponsel milik Sila berbunyi, membuat perempuan itu melangkah menghampiri Zacky.


"Iya iya! Mana yang harus ditandatangani?" pinta Sila sedikit emosi.


Yuan pasti sudah ada di bawah. Ia tidak enak kalau sampai membuat sahabatnya yang jauh-jauh datang ke sini malah masih menunggu dirinya berdebat dengan pria menyebalkan terebut.


Sudut bibir Zacky terangkat ke atas di kala melihat Sila yang seperti itu. Kemudian pria itu mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya, lalu menyerahkan beberapa berkas kepada Sila.


"Di atas namamu persis," perintah Zacky.


Sila yang terburu-buru tidak membaca isi dari beberapa berkas tersebut. Yang jelas tidak ada tulisan kontrak di sana. Sehingga ia tidak harus takut terikat kontrak dengan Zacky.


"Udah?" Sila mengembalikan berkas tersebut pada Zacky.


Zacky mengeceknya sebentar dan semua tepat pada tempatnya. Lalu pria itu mengangguk dan berjalan lebih dulu. Membukakan pintu untuk Sila.


"Jangan malam-malam pulangnya," ingat Zacky kemudian mengangguk samar ke arah orang yang berdiri di depan pintu apartemen.


"Suka-suka gue," sahut Sila dengan nada lirih.