
Bab. 81
"Lo kenapa sih dari tadi cemberut mulu?" tanya Zuma ketika Sila menekuk wajahnya. Tidak seperti biasa, selalu saja ada yang perempuan itu ucapkan.
Mami Dilla memberi isyarat kepada putrinya untuk tidak bertanya terlebih dulu. Sepertinya saat ini suasana perasaan Sila sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Zuma mengangguk mengerti. Namun matanya justru menangkap hal lain. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada di sana. Lantas membuat wanita itu mendekat ke arah kakak iparnya. Menyipitkan matanya guna memperjelas apa yang sedang ia lihat saat ini.
'Lo punya tanda lahir merah, ya?" tanya Zuma. Posisinya begitu dekat sekali dengan Sila. "Perasaan gue kemarin-kemarin lo nggak punya tanda lahir deh," gumam wanita itu sembari mengingat.
Semakin membuat Sila bertambah kesal dan melirik ke arah Zuma.
"Jelek, kan?" tanya Sila dengan bibir mengerucut.
Zuma menganggukkan kepalanya. "Buanget!" jawabnya begitu mantap.
Secara refleks Sila memukul lengan saudara kembar suaminya tersebut.
"Ini gara-gara kembaran Kak Zuma. Main gigit seenaknya. Mana membekas pula," ujar Sila kesal.
Zuma menutup mulutnya dengan mata melebar ketika tahu sebab musabab dari adanya tanda tersebut. Lalu wanita itu tertawa keras. Apa lagi ketika melihat tatapan mami nya yang tampak pasrah.
"Jadi, pas Mami manggil lo tadi, kalian sedang melakukan itu?" tanya Zuma sembari saling menyatukan ujung telunjuknya di depan dada. Menunggu jawaban dari Sila.
"Itu apanya sih, Kak?" tanya Sila yang tidak mengerti. "Orang Mas Zacky modusnya aja mau nyisirin rambut. Tapi ujung-ujungnya malah gigit leher aku dari belakang. Nyebelin banget kan dia?" adu Sila kepada Zuma. Di mana wanita itu malah tertawa.
Kasihan sekali saudara kembarnya harus menghadapi perempuan seperti Sila. Padahal mereka sudah pernah melakukan hal anu sebelumnya. Tetapi kenapa Sila justru terlihat masih sangat polos.
"Lo nggak tau maksud dari Kakak gue?" tanya Zuma.
Sila menggeleng. Lalu Zuma menatap ke arah mami nya yang menyibukkan diri dengan sayuran di depannya. Mereka saat ini berada di dapur dan berencana untuk membuat salad sayur. Permintaan dari Sila dan kebetulan kesukaan Zuma. Jadi sekalian saja membuat bareng.
"Mami aja lah yang jelasin. Kasihan juga itu Kak Zacky. Kalau udah kayak gini, berarti dia emang serius sama ini bocah, Mo," ujar Zuma melempar ke arah maminya.
Mami Dilla juga merasa demikian. Lagi pula mereka juga sudah menikah. Tidak ada salahnya kalau ia menjelaskan apa yang diinginkan putranya saat ini terhadap istrinya sendiri.
"Sila suka nggak sama Mas Zacky?" tanya mami Dilla.
Sila mengangkat bahunya. "Kalau dibilang suka sih ya suka, Mi. Dia tampan dan kaya. Cewek mana yang nggak suka. Memangnya kenapa, Mi?" balas Sila dengan raut penasaran.
"Kalau cinta?"
"Kayaknya sih enggak. Soalnya Sila sendiri nggak tau cinta itu kayak apa," jawab Sila sembari tersenyum polos.
Zuma menghela napas. Beruntung sekali kedua saudaranya ini mendapatkan istri yang belum pernah mengenal cinta.
"Ituloh Sayang, yang bikin dada kamu berdebar kalau pas liat wajahnya. Atau pas ditatap sama dia," jelas mami Dilla. Membuat Sila terdiam.
Sila mengingat kembali interaksi dirinya dan Zacky. Seingatnya, setiap kali pria itu mendekat atau seperti tadi di kamar, ia berdebar tak karuan. Antara takut dan gugup.
"Kalau berdebar sih, kayaknya iya Mi. Tapi masa itu cinta?" pertanyaan polos dari Sila, tentu membuat seseorang yang baru turun dari tangga yang kebetulan dekat dengan dapur, menarik bibirnya ke atas.
"Berarti lo udah cinta sama kakak gue," sahut Zuma gemas sendiri.
"Kalau liat Mas Zacky sama perempuan lain, gimana Sayang? Marah nggak?" tanya mami Dilla untuk memastikan lagi agar lebih meyakinkan perasaan menantunya itu kepada putra keduanya.
Sosok pria dengan rambut yang masih basah karena habis keramas tersebut begitu tidak sabaran ingin mendengar jawaban dari Sila. Hingga ia benar-benar yakin dengan apa yang ia putuskan saat ini.