
Bab. 63
Zuma harus menahan amarahnya lebih dulu, ketika mereka sampai di butik tante Amira. Mereka melakukan pengukuran dan menentukan model gaun yang akan dipakai di acara pernikahan Zacky dan Tusha nanti.
Mami Dilla tampak sangat senang sekali. Akhirnya dia bisa berbesanan dengan sahabatnya sendiri. Di mana dulu Rio lah yang akan dijodohkan dengan Tusha. Namun, Rio menolak dan memilih anak teman mami Dilla yang bernama Sekar.
Akan tetapi putra sulungnya itu dikhianati tepat di hari pernikahan mereka. Dan beruntungnya Rio menemukan pengantin pengganti yang dia ambil di jalan. Hingga menjadi menantunya sampai saat ini dan sudah memberinya calon penerus.
"Bagaimana, Kak? Udah pas?" tanya mami Dilla sembari mengibaskan debu yang ada di jas yang saat ini tengah dipakai oleh Zacky. Walaupun sebenarnya jas itu tidak kotor sama sekali.
Zacky hanya menganggukkan kepalanya. Terserah mau yang mana. Dia tidak peduli.
"Emang bibitnya Pak Kendra dabes semua ya, Dil?" sahut tante Amira yang mengagumi ketampanan anak sahabatnya tersebut. Di mana sebentar lagi akan menjadi menantunya.
Mami Dilla mengangguk. "Emang nggak salah aku dulu paksa dia buat nanem," balas mami Dilla seraya terkekeh.
"Miii ...." ingat Zuma melirik tidak senang kepada maminya. Membuat mami Dilla memberi isyarat kepada sahabatnya untuk tidak membahas masa lalu mereka.
Zuma memutar bola matanya. Bosan sekali ternyata menemani Zacky fitting baju. Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke segala arah dan tidak menemukan sosok yang seharusnya ada di sini.
"Tusha mana Tante?" tanya Zuma langsung.
"Tadi bilangnya ada urusan bentar. Habis ini juga kesini kok," jawab tante Amira yang kemudian menatap sahabatnya. "Maafin anakku ya, Dill. Di hari penting begini malah dia milih selesain pekerjaannya dulu," ucap tante Amira tidak enak kepada mami Dilla.
"Nggak apa-apa, Mir. Mumpung masih bisa. Ntar kalau udah hamil, juga nggak bakalan bisa keluar dengan bebas, kan?" sahut mami Dilla yang disetujui oleh tante Amira.
"Oh, ya, Dill. Aku ada koleksi baru. Mau liat nggak? Cocok juga buat Zuma, kok," tawar tante Amira yang kemudian mengajak mami Dilla dan Zuma untuk melihat koleksinya.
Karena urusannya sudah selesai, Zacky memilih untuk menunggu mami dan adiknya itu melihat lihat koleksi tante Amira yang ada di butiknya. Pria itu menyibukkan dirinya dengan memainkan ponsel. Sama sekali tidak ada niatan untuk menghubungi Tusha.
Sementara itu di sisi lain tampak dua orang perempuan yang tengah memanjakan mata mereka dengan melihat lihat barang branded di sekitar mereka.
"Sebenarnya lo itu mau cari apa sih, Sil?" protes Melani pada sahabatnya yang sedari tadi hanya melihat lihat dan berpindah pindah tempat. "Herman deh, gue. Kagak berat apa itu perut?" omelnya lagi.
Sedangkan yang di omeli tampak begitu santai dan malah tersenyum manis. Tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Gue tinggal pulang nih, kalau sampai lo cuma niat cuci mata doang," ancam Melani yang mulai menipis rasa sabarnya.
Sila yang di ancam malah menyengir ke arah Melani. Membenarkan dugaan perempuan yang masih mengenakan setelan kerjanya.
"Ya kan lo tau sendiri keuangan gue, Mel. Mana kuat gue beli pakaian yang ada di sini. Mana harga satu baju aja udah cukup buay gue makan dua bulan," ujar Sila berbohong. Karena kenyataan perempuan itu justru sebaliknya. Mau apa saja tinggal nunjuk dan gesek. Sebab dia masih memegang black card milik Zacky.
"Ya udah, gue beliin. Dari pada lo merengek terus minta temenin jalan-jalan. Yang ada gue nggak jadi kerja. Mana jadwal gue padet hari ini. Demi lo doang gue bolos kuliah ntar sore, Arsila Queenara Diandra!" gemas Melani yang ingin sekali mencubit pipi Sila yang mulai cubby. Mungkin karena efek hamil.
"Ya udah, kita liat ke butik itu aja," putus Sila seraya menunjuk ke arah butik yang ada di depan mereka.