
Bab. 95
"Kamu yakin, Sil?" tanya Jinan lagi. Memastikan kalau apa yang dikatakan Sila itu tidak salah.
"Yakin banget, Kak. Bisa dibuktikan kok. Kak Arsya juga tau," jawab Sila seraya menatap ke arah Arsya.
Jinan juga menatap sahabatnya. Memicingkan mata, meminta penjelasan kepada sahabatnya itu. Hingga kemudian Arsya yang merasa tersudutkan dengan tatapan serta pengakuan Sila, akhirnya pria itu mengangguk. Membenarkan ucapan Sila barusan.
"Dia istrinya Zacky," ungkap Arsya seraya mengerjap pelan. Membuat Jinan menarik napas panjang lalu menghembuskan dengan sangat kasar. Menahan segala amarah yang bergemuruh di dalam dada.
"Kenapa lo nggak bilang kalau Sila yang dihamili sama Bajing4n itu, brengs3k!" umpat Jinan memejamkan matanya. Berusaha agar emosinya tidak meledak di sini. Sebab, sebentar lagi masih ada rapat di antara mereka.
Akan tetapi, ingin memberi sebuah pelajaran kepada orang yang sudah membuat penyanyi terbaik di cafe nya itu, tidak bisa Jinan hilangkan dengan mudah.
"Dia perlakuin lo dengan baik?" tanya Jinan kepada Sila.
Sila yang tidak paham dengan raut muka Jinan saat ini, perempuan itu mengangguk.
"Dia baik kok, Kak. Kenapa?" tanya Sila. "Kakak kok bisa kenal sama dia? Bos Kakak atau ...."
Sila tidak melanjutkan kalimatnya di kala melihat gelengan kepala dari Jinan. "Dia sahabat gue sekaligus rekan kerja. Kalau sikapnya baik ke lo, ya udah, gue cuma mau kasih sedikit sesuatu karena sudah membuat cafe gue agak sepi gara-gara lo udah nggak nyanyi lagi," ungkap Jinan yang sangat menyayangkan ketika mendengar Sila tiba-tiba keluar dari cafenya.
Diberitahu seperti itu, semakin membuat Sila penasaran. Karena niatnya kesini hanya ingin meminta ijin sekaligus ngajakin makan siang dengan Rio juga, akhirnya Sila maju selangkah menuju ke arah pintu ruangan Zacky yang tertutup rapat.
Di mana hal itu membuat dua orang pria yang bari sadar situasi di dalam, mereka saling pandangan dengan tatapan melotot. Sementara tangan Sila sudah menyentuh ganggang pintu. Bersiap untuk membuka pintu tersebut.
"Pasrah," balas Arsya seraya mengangkat bahunya ke atas.
Yuan yabg sedari tadi menjadi penonton pun juga menaruh curiga kepada dua orang pria yang ada di hadapannya saat ini. Seperti ada sesuatu yang sedang mereka takutkan.
"Kayaknya bakalan ada pertunjukan menarik," gumam Yuan. "Siapin ponsel, ah. Langsung video call sama Mas Rio." lanjutnya lagi yang entah kenapa sangat suka sekali melihat keributan. Bahkan tidak jarang juga Yuan suka berperan menjadi kompor yang siap menyalakan suasana semakin panas malahan.
Sedangkan Sila tanpa merasa curiga sedikit pun kenapa Arsya kenapa pria itu malah berada di luar ruangan bosnya.
"Mas ... aku mau per ...."
Kalimat Sila tidak bisa terucap dengan lengkap. Perempuan itu tampak terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini dengan mata kepalanya sendiri.
Keterdiaman Sila sudah bisa ditebak oleh Arsya dan Jinan. Mereka sama-sama menepuk jidat mereka. Entah, apa yang akan terjadi setelah ini. Sedangkan Yuan langsung menyusup masuk dengan ponsel yang sudah terhubung dengan suaminya. Tentu, mode video on.
Zacky sama terkejutnya dengan keberadaan sang istri. Dengan cepat pria itu mendorong tubuh Tusha hingga hampir membuat tubuh mantan tunangannya itu terjerembab ke lantai. Beruntung tangannya masih bisa menggapai meja.
"Sayang!" panggil Zacky menatap Sila yang masih terbengong. Lalu perempuan itu mengerjapkan matanya beberapa kali, guna memperjelas pandangan di depan matanya saat ini.
Zacky melangkah, ingin menghampiri Sila dan menjelaskan semuanya. Karena Sila masih membeku di tempatnya berdiri dengan ekspresi yang tidak bisa Zacky terjemahkan.
Tusha tersenyum tipis ketika melihat kedatangan bocah ingusan yang sudah merebut tempatnya di hari Zacky dan dalam keluarga Rayyansyah. Bahkan mamanya, tante Amira sampai malu bertemu dengan mami Dilla karena perbuatannya.
"Mas ... kita jadi makan siang bareng, kan? Sesuai janjimu semalam," ujar Tusha sembari mendekati Zacky kembali. Matanya melirik ke arah Sila, ingin tahu bagaimana reaksi gadis itu.