
Bab. 89
"Kamu kenapa kayak gini sih, Mas?" Sila berusaha menjauhkan kepala Zacky dari dirinya. Terasa kurang nyaman dan ada geli-gelinya. Lebih lagi pria itu terus mengendus ngendus dirinya.
"Kangen," balas Zacky memeluk kembali tubuh sang istri.
Namun dengan segera Sila melepas diri di kala merasakan tangan suaminya yang mulai berkeliaran ke mana-mana. Tidak lagi ke bagian perutnya lagi.
Perempuan yang tengah mengenakan terusan selutut tanpa lengan tersebut memicingkan mata ke arah Zacky. Ada yang aneh dengan sikap suaminya memang.
"Kamu nggak sedang merencanakan sesuatu kan, Mas?" tebak Sila curiga. Melangkah sedikit menjauh untuk memberi jarak dan memilih posisi yang aman serta tetap harus bersikap waspada.
Zacky lupa jika istrinya ini tidak bisa jika diajak secara langsung. Meskipun inginnya yang semakin menggebu di kala melihat Sila berpenampilan sangat seksi menurut Zacky. Walaupun yang sebenarnya Sila hanya mengenakan potongan baju tanpa lekuk sedikit pun. Namun karena sebagian ruang baju yang ditarik oleh perut buncitnya, sehingga tetap menunjukkan lekuk pinggang Sila. Di mana semakin menambah di bagian volume pinggulnya.
"Mau batagor nggak? Tadi pas pulang aku liat ada penjual batagor di depan sekolah kamu dulu. Terus aku ingat kamu suka banget sama jajanan ini," ujar Zacky yang mengalihkan pertanyaan dan kecurigaan sang istri terhadap dirinya.
Sila mengalihkan perhatiannya ke arah kantong plastik yang Zacky bawa tadi. Pria itu mengajak dirinya untuk duduk di sofa yang ada di depan. Membuka lalu mengeluarkan foam yang berisi batagor dengan bumbu kacang serta ada acar mentimun.
Dari baunya saja, Sila tidak tahan untuk tidak mencobanya. Namun tangannya ditahan oleh Zacky.
"Bentar, Sayang. Ini masih panas," cegah Zacky.
"Aku udah biasa, Mas," balas Sila yang tidak sabar ingin segera mencobanya.
Zacky kemudian mengambilkan jajanan itu, lalu meniupnya sebentar. Setelah itu menempelkan diujung bibirnya. Terasa tidak panas lagi, baru Zacky arahkan ke mulut Sila.
Ya. Pria yang sepertinya tengah dilanda asmara itu menyuapi Sila setelah makanannya terasa sedikit dingin.
"Gimana, enak?" tanya Zacky ketika Sila mengunyah makanan tersebut.
Sila mengangguk. "Lumayan sih. Masih sama rasanya," jawab Sila. Lalu perempuan itu menatap suaminya dengan tatapan penuh curiga. "Mas kok tau aku suka jajanan ini?" tanya Sila.
Perasaan ia tidak pernah memberitahu Zacky mengenai apa yang dia suka dan yang tidak.
Sedangkan Zacky tidak kunjung menjawab. Pria itu menggaruk kepala nya yang tidak gatal karena kelepasan bicara.
"Anu ... itu, Sayang ...."
"Anu apa?" desak Sila penasaran.
"Dari Yuan," jawab Zacky.
Sila seolah tampak tidak percaya dengan suaminya sendiri. Karena ia sangat tahu betul seberapa cuek Yuan dan tidak mungkin menceritakan hal yang tidak diminta kepada dirinya. Pun begitu sebaliknya, dia akan menjawab dengan sangat jujur kalau ditanya.
"Dari Yuan?" ulang Sila. "Dia yang cerita atau kamu yang nanya?" lanjut Sila curiga.
"Dia yang cerita, Yaang," yakin Zacky bahkan sampai mengubah panggilannya kepada Sila.
"Yakin?" Telisik Sila yang jelas tidak percaya. Lebih lagi ketika perempuan itu menggeser tempatnya hingga mendekat ke arah Zacky. "Aku sangat tahu betul bagaimana tabiat sahabatku, Mas. Pasti kamu yang tanya-tanya. Ngaku deh, nggak usah sok gengsi-gengsi gitu. Udah ketebak banget." cibir Sila.
Zacky tersenyum seraya mengangguk samar. Ia membenarkan kalau memang sempat bertanya tentang Sila.
"Ya kan namanya usaha, Yaang," balas Zacky membenarkan tindakannya.
Sementara Sila menatap jengah suaminya. "Kalau mau tau itu, tinggal tanya aja langsung ke orangnya. Nggak usah nanya orang lain, Mas," pesan Sila.
Bingo!
Zacky bersorak senang ketika pintu terbuka lebar untuknya. Di mana perempuan itu tanpa sadar sudah masuk ke perangkap suaminya sendiri.
Zacky menaruh tangannya di atas paha Sila, lalu mengusapnya lembut. Membuat Sila merinding seketika.
"Kamu kenapa lagi sih, Mas? Aneh banget perasaan."
Sila menyingkirkan tangan Zacky dari sana. Akan tetapi pria itu justru menempel ke arahnya. Dan tangannya yang satu lagi tengah memainkan rambut Sila. Di putar, di gulung, lalu di cium.
"Katanya suruh nanya langsung kan?" ulang Zacky mengenai ucapan Sila tadi.
Sila mengangguk. "Hmm."
"Kalau begitu ...." Zacky mengalihkan tangannya ke arah pinggang Sila. Menariknya pelan, tanpa membuat perempuan itu merasa sakit. "Boleh anu lagi, nggak?" Akhirnya kalimat itu keluar juga.
"Anu?" tanya Sila tidak mengerti.
"Ituloh, Yaang. Yang kayak semalam itu," jelas Zacky. "Kamu yang di atas deh. Biar nggak terasa berat dan protes kalau aku mainnya cepet-cepet." rayu Zacky.
Ketika tangannya ingin menyentuh bagian dada Sila, dengan segera perempuan yang tengah hamil muda tersebut menepis sembari berdiri.
"Nggak!" tolak Sila. "Sama dokter nggak boleh sering-sering," lanjutnya lagi mengenai alasan menolak ajakan suaminya.
"Pelan loh, Yaang," rengek Zacky.
Sedangkan Sila menekan layar di ponselnya lalu menempelkan ponselnya di telinga.
"Ya, Kak Arsya? Iya, Kak. Jemput aja dia di rumah. Masih ada pertemuan kan nanti jam satu? Iya. Jemput aja sekarang. Dari pada dia bertingkah aneh," ujar Sila kepada asisten suaminya dari balik telepon.
"Kamu khianati aku, Yaang?" protes Zacky dengan tampang lemas. Gagal sudah acara nge-charge nya siang ini.