
Bab. 23
Zacky menggelengkan kepala. Padahal mereka sering bercium4n semenjak menjalin hubungan. Akan tetapi, entah mengapa kali ini ada perasaan berat. Lebih lagi melihat sikap Tusha sedikit berubah lebih agresif. Di mana wanita ini dulunya sangatlah pemalu.
"Aku keringetan," jawab Zacky sembari menjauh dari Tusha dan mengambilkan wanita itu minuman yang ada di lemari pendingin sisi pojok ruangannya. Lalu Zacky berjalan menuju sofa, mengajak tunangannya itu agar duduk di sana.
Meski merasa aneh, Tusha pun menuruti Zacky. Ia duduk di samping tunangannya.
"Tumben jam segini kamu belum pulang, Mas? Biasanya kalau pas aku telpon, kamu udah ada di rumah. Kalau nggak gitu di lapangan basket," ujar Tusha sembari menerima botol minuman yang tutupnya batu saja dibukakan oleh Zacky.
"Ada kerjaan yang belum selesai," sahut Zacky.
Pria itu tampak tidak seantusias seperti biasa. Padahal ini momen yang mereka tunggu. Karena dengan kembalinya Tusha dari Amsterdam, mereka berencana akan melangsungkan pernikahan.
Zacky mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana. Membuat Tusha sangat penasaran. Apa yang sedang Zacky ketik. Padahal ada dirinya di samping pria itu. Namun sayang, ketika Tusha mencoba untuk menengok ke arah ponsel Zacky, dia tidak bisa melihat apa-apa kecuali layar dengan warna hitam.
"Kamu sibuk banget ya, Mas?" tanya Tusha lagi. Merasa jika sikap Zacky berubah.
Kemarin waktu mereka sedang berbicara lewat telpon, Zacky selalu berkata kalau dia sudah tidak sabar menunggu dirinya pulang dan segera menikah. Namun ternyata setelah dirinya pulang, pria itu terlihat tidak senang sama sekali.
"Enggak," jawab Zacky sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Lalu pria itu menatap ke arah Tusha. "Kamu mau pulang sekarang?" tanya Zacky.
Sedangkan raut muka Tusha berubah. Tidak seperti sebelumnya yang begitu senang bertemu dengan Zacky kembali. Wanita itu memalingkan wajah agar tidak bisa dilihat oleh Zacky. Karena matanya terasa begitu panas.
"Kamu kenapa, Baby?" tanya Zacky tampak panik melihat Tusha yang tiba-tiba saja menangis tanpa sebab.
Tusha menggeleng samar. Wanita itu mengusap pipinya yang basah dan bibirnya berusaha untuk menyunggingkan sebuah senyuman manis di sana.
"Enggak," lirih wanita itu.
Sedangkan Zacky terus menatapnya. Ia merasa bersalah, karena baru sadar sudah membuat wanita yang sangat ia cintai tersebut menangis seperti ini karena sikapnya.
"Baby ... ada apa? Bilang sama Mas. Hmm?" bujuk Zacky yang kembali bersikap seperti biasa kepada Tusha. Perhatian dan lembut. Itulah sikap Zacky kepada Tusha.
"Sikapmu berubah, Mas. Apa aku punya salah sama kamu? Atau kamu nggak suka kalau aku langsung datang ke kantor kamu?" tanya Tusha menatap Zacky dengan mata yang basah.
Deg!
Ternyata kegundahan hatinya itu mengakibatkan sikapnya berubah dsn membuat Tusha seperti ini. Padahal di sini dirinyalah yang bersalah.
Tidak kuasa melihat tunangannya menangis seperti ini, Zacky menarik tubuh Tusha hingga jatuh ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung wanita itu dan memberi kenyamanan di sana.
"Maaf, Baby ... Mas sedang banyak pikiran. Maafkan Mas," ujar Zacky memeluk erat serta memberi kecupan di puncak kepala Tusha beberapa kali.
Bukannya tidak senang dengan kedatangan Tusha. Tetapi Zacky bingung, apa yang harus ia lakukan ke depan. Sedangkan dirinya sangat mencintai wanita yang sekarang ini berada di dalam dekapannya. Namun, di sisi lain ia juga tidak bisa mengabaikan seorang gadis yang sudah ia rusak masa depannya.