
Bab. 78
Seharian menghabiskan waktu bersama saudara kembar suaminya, membuat Sila sedikit mengerti tentang sifat pria yang sekarang ini menjadi suaminya tersebut. Meskipun ia tidak sedikit pun menanyakan perihal Zacky, namun Zuma serta mami mertuanya dengan suka rela menceritakan pria itu. Mungkin karena mereka menikah dan menjalin hubungan secara dadakan macam tahu bulat kali ya. Sehingga dua wanita itu lebih peka dan mencoba untuk memperkenalkan segala sesuatu yang ada di diri Zacky pada Sila.
Tidak ada yang spesial di pandangan Sila selain memang pria itu tampan dan tajir. Lebihnya ia juga sering kali menemui tipe-tipe pria modelan Zacky. Cuma ada satu yang sedikit berhasil mengusik rasa penasaran dan kagumnya. Setia. Satu kata yang bisa Sila simpulkan jika dari cerita mereka. Karena Zacky terkenal tidak pernah punya mantan dan langsung bertunangan dengan perempuan pilihan mereka.
"Apa dia nggak patah hati gitu ya? Dipaksa putus sama orang yang dia cintai?" gumam Sila sembari menyisir rambutnya menghadap ke arah cermin yang ada di meja riasnya. Di mana set meja rias itu menghuni kamar Zacky baru dua hari yang lalu. Karena sebelumnya tidak ada di sana.
"Siapa yang patah hati?" tanya seseorang yang baru masuk ke dalam kamar. Siapa lagi jika bukan sang empu kamar.
Membuat Sila terjingkat kaget dan langsung menatap ke arah belakang. Di mana Zacky berjalan ke arah sofa sembari melepas kancing kemejanya dan menaruhnya di sandaran tangan sofa dengan sengaja. Ingin melihat sejauh mana Sila tahan dengan godaan bentuk tubuhnya. Sesuai dengan step by step yang diucapkan oleh Jinan siang tadi.
Perbuatan Zacky tersebut bukannya membuat Sila mengalihkan pandangannya. Melainkan perempuan itu justru menyipitkan matanya. Menatapnya dengan jeli.
"Kenapa malah lepas baju di sini sih, Om? Ganggu pemandangan aja," omelnya dengan suara lirih dan menghadap ke arah cermin lagi. Melanjutkan kegiatannya yang sempat terjeda sebentar.
Benar-benar di luar ekspetasi Zacky. Ia pikir Sila menatapnya dengan tatapan begitu dalam tadi karena terpesona melihat otot perutnya seperti tumpukan batako. Tetapi ternyata ia terlalu menaruh ekspetasi begitu tinggi pada istrinya itu.
'Jinan sialan! Nggak mempan banget cara dia.' rutuk Zacky di dalam hati.
Lantas pria itu sedikit melonggarkan ikat pinggangnya, lalu berjalan ke arah Sila. Perempuan itu belum menyadari, karena masih menyisir rambutnya yang panjang. Hingga Zacky menumpukan tangannya di pinggiran meja rias, sedangkan tangannya yang satu lagi bertumpu di sandaran kursi yang diduduki oleh Sila.
Bisa dibayangkan bukan? Seberapa dekatnya posisi Zacky sekarang ini. Terlebih lagi Zacky tidak mengenakan baju bagian atas. Beruntung tadi sebelum pulang, Zacky menyempatkan diri untuk membersihkan diri di kantor. Sehingga tidak khawatir kalau bau tubuhnya tercium tidak enak.
Wangi musk yang terkandung di sabun pria itulah yang saat ini tercium begitu kuat di indera penciuman Sila. Membuat perempuan itu menoleh seketika. Dada telanjang milik Zacky lah yang menjadi pemandangannya saat ini.
"Mau dibantu?" tawar Zacky dengan nada yang begitu lembut.
Bohong jika jantung Sila tidak berdebar. Karena ia perempuan yang sangat normal. Melihat dada bidang serta perut yang seperti tumpukan batako, membuat Sila memejamkan mata. Lalu mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"A-aku bisa sendiri. Om buruan makai baju," jawab Sila sedikit gugup.
Tentu, Zacky tidak menuruti ucapan Sila. Apa lagi melihat reaksi istrinya yang seolah malu. Padahal di sini yang tidak pakai baju ialah dirinya.
"Aku bantu. Biar cepet selesai lalu turun. Mami udah nunggu di luar," ujar Zacky mengambil alih sisir yang ada di tangan Sila, lalu mulai menyisir rambut Sila dengan gerakan yang kaku. Karena ini kali pertama bagi Zacky menyisir rambut wanita selain adik dan maminya.