
~¤¤¤º♡♡♡º¤¤¤~
malam itu, entah apa yang ia fikirkan.
adipati dengannya hanya ada beberapa saat saja ia mengenalnya.
dia lelaki yang sempurna walau jauh dari kata baik, namun dia sosok laku laki yang bertanggung jawab dan pekerja keras.
rini saat itu berulang kali mengecek ponselnya, seakan tengah menunggu kabar penting dari seseorang.
"udah dong ri. ponselmu dari tadi di liatin terus....(cetuk perempuan bernama rena yang curi curi pandang melirik seisi ponsel riri)... bikin iri aja deh lo ri, kapan gue di grumutin para fans amatir kaya lo, hidup di lingkaran para lelaki tampan"
"lo mau kaya gue, gue sih risih ya ponsel gue penuh sama chating gak jelas. andai gue bisa ngejauh dari mereka sembunyi di lubang semut biar gue damai tau gak"
"aaaahhh riri, seriusan lo gak mau di rebutin para cowok ganteng"
ucap rena dengan muka memelasnya.
"andai salah satu dari mereka ada yg mencintaiku ren"
"demi apa mereka gak ada yg cinta sama lo. yang ada mereka semua ngejar ngejar lo. kenapa lo gak pilih salah satu dari mereka aja yg baik, pengertian, berduit. kaya siapa tuh pacar lo yang seorang kapten tentara itu"
obrolan mereka berlangsung membahas para lelaki tampan dan juga bertahta.
"risky itu bukan cinta gue ren, dia emang punya segalanya. kedudukan, jabatan, uang, tapi bukan itu yang gue minta. dia tuh terlalu mengatur hidupku. dia tidak mencintaiku dia hanya mencintai dirinya sendiri"
riri kembali pada lamunannya beberapa saat.
~¤¤¤º♡♡♡º¤¤¤~
Andai aku yang saat ini selalu ada di dekat mu, menemanimu dalam setiap langkah mu, hingga kita terlelap bersama.
Andai orang yang saat ini bersamamu itu adalah aku.
Andai kita bertemu beberapa bulan yang lalu.
Pasti kisahnya akan sangat berbeda.
Terkadang aku menjadi sangat egois karena ingin merebutmu darinya. Menjadikanmu miliku seorang diri.
Dan sungguh begitu naif nya aku yang selalu merasa,
Akulah yang layak bersanding denganmu.
Akulah yang pantas untukmu.
Namun di satu sisi, aku tak cukup nyali untuk melakukan semua itu.
Bahkan untuk mengakui perasaanku pun aku tak bisa.
Bodohnya aku yang telah ceroboh kembali menaruh hati padamu.
Hingga cintaku benar benar tumbuh sangat besar untukmu.
Aku terpikat oleh sosok dirimu.
Maafkan aku rena, maafkan aku adi.
Aku sadar, kamu adalah dunia hayalku
Yang tak pernah menjadi nyata.
"Coba tebak siapa yang akan datang"
Tegur wanita berambut ikal dengan dres biru tua tiba tiba menghampiri riri yang sedang sibuk menatap lamunan kosongnya.
Acara reuni pertama nya yang di adakan di sebuah kafe, mengingatkannya pada masa itu. Masa di mana persahabatan di masa sekolahnya sangatlah berkesan di dalam hatinya. Mengapa tidak. Baginya rena adalah seorang sahabat sekaligus saudara yang tak pernah terpisahkan. Bahkan dia masih tak percaya bahwa sahabatnya itu kini telah berkeluarga dan mempunyai seorang putri kecil yang menggemaskan.
"Tante riri kuehnya enak, aku mau coba yang itu"
Seorang anak kecil dengan gaun merah muda menarik tangan riri yang tengah terpaku menatap keramaian orang, gadis itu sepertinya sangat antusias melihat tatanan bolu yang tinggi berkarakter princes itu terpasang di tengah tengah jamuan acara reuni dengan sengaja di sajikan untuk menarik perhatian anak kecil yang datang bersama orangtuanya untuk menghadiri acara reuni SMA.
Samar sama dengan sadar dia melihat sosok yang sangat menarik perhatiannya. Seorang pria tinggi berkulit putih dengan gaya rambut yg elegan menjadikannya semakin menarik perhatian. Wajah yang tak asing itu berjalan dengan penuh pesona menghampirinya.
"Papa...."
Gadis kecil itu berlari meraih pelukan lelaki itu.
"Akhirnya dia menepati janjinya juga"
Ketus seorang wanita di sampingnya.
"Rena, sejak kapan kau di sampingku"
Riri seakan tersentak dengan keberadaannya yang tiba tiba.
"Aku dari tadi di sini, tiara rewel terus minta pulang untungnya adi segera datang. Kalo tidak tamatlah riwayatku. Mereka akan mengira aku mempunyai suami yg kurang perhatian sama anak istrinya. Walau kenyataannya benar."
Ketus rena memaki suaminya yang baru saja datang itu.
"Syukurlah kalau dia datang di acaramu ren. Tandanya adi peduli sama kamu"
Mereka ber empat berjalan memasuki sebuah kafe tempat di mana acara reuni di adakan. Semua peserta reuni sibuk menggandeng pasangannya masing masing. Bahkan ada juga yang sudah memiliki dua anak. Mereka terlihat sangat bahagia dan memamerkannya pada orang-orang.
Menurutnya acara reuni tersebut adalah ajang mereka untuk memamerkan kesuksesannya, perubahannya, keluarganya dan juga kebahagiaannya.
Sementara riri berjalan hanya dengan empat orang kluarga itupun rena, adipati, dan tiara putri kecil rena.
Rasanya sangat aneh berada di antara mereka.
"Eumm.. tiara sayang kita pergi mencicipi kueh princess itu yuk"
Ucap riri berbisik
Dengan tingkah lucunya ia berbisik kembali kepada riri
"Boleh dong sayang"
Serentak gadis itu bereaksi dengan sangat senang. Tanpa izin dari orangtuanya tiara pergi mendekati kueh tersebut. Sementara rena dan adi sibuk menyapa teman teman lamanya.
Saat adi mulai sadar bahwa tiara tak ada di dekatnya ia bertanya pada rena dengan berbisik.
"Rena, kemana tiara? Tadi bersamaku di sini"
"Udahlah biarin aja, paling dia sama riri"
Rena menanggapinya dengan sangat tenang.
"Mengapa kau setenang itu sementara tiara entah kemana. Kita harus cari"
"Ya kamu cari dong. Aku masih sibuk menyapa teman SMA ku"
Begitu acuhnya rena terhadap tiara anaknya sendiri sampai adi memutuskan untuk mencarinya seorang diri.
Sementara riri yang tengah menggendong tiara yg telah tertidur pulas usai mencicipi cake yang dia ambil dari meja di hadapannya itu. Tiba tiba adi menghampirinya dan mulai mengambil tiara darinya.
"Biar aku saja yang menggendong tiara nanti gaunmu lusuh. Acaramu masih satu jam lagi"
Bisik adi pada riri dengan berbisik karena takut membangunkan tidur pulas tiara. Sementara riri hanya terdiam dan melepas tiara begitu saja.
"Bukannya kau harus temani rena di depan teman temannya"
"Aku ada banyak pekerjaan di kantor. Dan akan pulang bersama tiara, sepertinya dia mulai mengantuk. "
Riri tak pernah menyangka. Pria sedingin adi bisa begitu sigap dan perhatian terhadap tiara. Walau selama ini yang dia tau adi selalu sibuk dengan pekerjaan nya yang tak pernah selesai.
"Wah.. suamimu sangat perhatian sekali ya. Sampai rela menggendong anakmu di acara reuni ini."
Ketus seseorang menghampiri mereka bertiga.
Wajah yang tak asing itu mengingatkan nya pada satu peristiwa beberapa tahun yang lalu. Di mana tamparan diana masih membekas dalam ingatannya. Namun riri memilih untuk tidak mengingatnya. Dan kembali memandang kedua sosok yang istimewa di hadapannya itu.
Riri merasa dirinya bagaikan keluarga yg sempurna jika di sandingkan dengan adipati dan putri kecil tiara.
" andai benar seperti itu, pasti aku akan sangat bahagia hari ini "
Riri memandangi wajah adi dengan sangat dalam. Hingga dia lupa siapa sosok pria yang di hadapannya itu. Dia adalah suami dari sahabatnya tempat dia mendiskusikan segala hal.
" bukan suamiku, dia adipati dan juga putri kecilnya tiara. Mereka suami dan anak rena, itu dia rena"
Riri melambaikan tangannya pada rena, yang tengah asik bersenda gurau bersama teman lamanya dan rena pun mulai menghampiri riri.
"Hay... diana."
Sapa hangat rena.
Diana adalah sosok prempuan terpopuler di sekolahnya dulu, rupanya rena tak sedikitpun melupakan wajah yang penah mengganggu sahabatnya itu. Dan sempat dia ajak kelahi juga pada saat itu.
Wanita yang berprofesi sebagai modeling itu ternyata kini telah berada di hadapannya. Dendam beberapa tahun yang lalu seperti berkobar kembali saat matanya mengingat betapa nista nya perbuatan yang pernah dilakukan terhadap sahabatnya itu.
"Kau masih ingat prempuan ini ri"
Bisik rena pada riri. Tentu saja riri mengenalnya. Riri hanya menutup tawa dengan tangannya.
Lalu diana mencoba mengenalinya. Karna wanita yang dia hadapi beberapa tahun lalu itu telah berubah drastis kehidupan nya. Rena yang elegan, rena yang feminim, dengan tatanan rambut dan pakaian sangat modern dengan riasan wajah yang cukup merubahnya. Dulu rena kumal dan brutal itu kini berubah. Tampak cantik dan menawan.
"Wah rena.. hidupmu berubah juga ya. Tak sangka rena yang bar-bar itu tenyata punya anak dan suami yang sempurna, mana suamimu ri?"
Seketika diana meluncurkan sebuah pertanyaan itu pada riri.
Tak berubah sedikitpun gaya bicaranya yang selalu ingin menjatuhkan orang lain itu tetap terkemas dalam sifatnya yang sombong dan arogan
"Aku masih sibuk dengan karierku, aku akan fikirkan menikah nanti setelah aku rasa cukup siap untuk menjalaninya "
Jawab riri dengan setenang mungkin.
"Dia ini pemilik perusahaan penerbitan besar loh, uangnya sudah di mana mana"
Sepertinya pernyataan rena membuat diana risih. Karna baginya tidak ada yang lebih populer di dunia ini selain dirinya.
Riri terus memberi kode pada rena agar dia tak memceritakan kehidupan nya sekarang
"Orang seperti dia harus mendapatkan bayaran yg setimpal sama apa yg pernah dia lakukan padamu"
Bisik rena mengatur rencana. Lalu riri menyetujuinya.
"I see. Aku pernah liat beberapa bukumu di jalanan"
"Benarkah.. bukunya sudah beredar di toko-toko ternama di dalam dan luar negri loh" ucap rena mencoba membungkam diana dengan kata katanya.
"Modelingmu bagaimana diana?. Bangkrut yah karna anak yang tak tau siapa bapaknya"
Sepertinya diana mulai terusik ketika riri mulai mengungkit masalah empat tahun yang lalu saat diana di ambang kebangkrutan. Tak ada lagi produksi atau perusahaan yg mengangkat modeling nya karna kasus diana yang hamil di luar nikah. Ternyata topik itu cukup kuat untuk membuat diana terdiam dan diana seketika pergi begitu saja meninggalkan mereka yang sedang membicarakannya.
"Untung saja dia segera pergi dari hadapanku. Tapi oke juga nyinyiranmu tadi"
Ucap rena dengan candaannya.
"Ri kamu mau aku antar pulang, sekalian jalan pulang kita"
Adi menawarkan tumpangan namun riri tidak mungkin mengiya kannya itu akan sangat aneh. Selama ini dia merasa telah banyak merepotkan rena dan adi.
"Tidak usah di trimakasih tawaran nya. Aku masih ada urusan penting "
Riri mencoba menolak nya dengan berbagai alasan demi menghindari kebersamaan dia dengan adi, karna tidak menutup kemungkinan kalau perasaannya akan kembali tubuh dan menghancurkan semuanya apabila adi terus berada di dekatnya.