Our Secrets

Our Secrets
Ch. 54. Menjalankan Rencana



Bab. 54


"Udah ... kandungan kita hari ini senang-senang aja. Nanti kalau sampai lo kenapa-napa dan di apa-apain, gue yang pertama hajar dia. Asal sekarang hidup lo aman, kagak disentuh secuil pun. Oke? Ingat, demi tumbuh kembang dia," ujar Yuan sambil menatap ke arah perut Sila.


Lagian mereka tidak tinggal satu rumah. Sehingga aman-aman saja bagi Sila dan malah ia bersyukur, karena kini Sila ada yang menjaga. Meskipun dengan cara yang tidak bisa dibenarkan.


Tidak mau merusak suasana hatinya yang memang sudah rusak semenjak bertemu dengan Zacky, Sila pun mengangguk. Menyetujui ucapan Yuan yang memang ada benarnya.


Jika hidupmu sudah asem dari awal, maka realistis saja. Makan masih butuh uang, di tambah ia tidak mungkin kerja berat. Karena ada nyawa yang harus ia jaga dan juga memenuhi nutrisinya. Maka dari itu Sila memilih menyembunyikan hatinya, dan lebih mementingkan kebutuhan yang ada di depan matanya.


Mereka pun menghabiskan sore mereka dengan menonton bersama, melihat pernak pernik bayi, juga tidak lupa mengganggu Melani yang sedang fokus dengan bimbingannya. Ya. Ketika mereka berada di restoran tempat yang biasa mereka datangi kalau pas ke sini dan menjadikan Melani sebagai mami sugar mereka, dua teman laknat itu melakukan video call dengan Melani.


Parahnya, mereka membuat Melani membayar makanan mereka sore itu. Beruntung sang manajer restoran tersebut memang kenal dengan keluarga Melani. Padahal Yuan sendiri merupakan menantu dari keluarga konglomerat. Namun memang dasarnya sifat mereka gesrek semua, jadilah Melani yang menjadi korban.


Puas jalan-jalan dan perutnya kenyang, kini mereka memilih beristirahat di sebuah taman kecil dengan menatap ke arah langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang.


"Capek nggak lo?" tanya Sila dengan tatapan mengada ke langit.


"Lumayan. Kaki gue rasanya agak nyeri. Kebanyakan jalan kali ya?" balas Yuan yang memilih menatap ke sembarang arah. Mencari sosok yang selalu mengikutinya.


"Mungkin juga karena bawaan orang hamil. Perasaan dulu pas kita jalan-jalan kayak tadi juga nggak masalah. Fine fine aja," ucap Sila menanggapi perkataan Yuan.


"Bisa jadi, sih. Oh, ya? Lo udah mutusin kuliah di mana?" tanya Yuan baru ingat.


Helaan napas panjang terdengar dari mulut Sila.


Benar memang yang dikatakan oleh Sila.


"Gue juga nggak lanjut. Tahun depan aja, kalau dia udah lahir," ujar Yuan. "Terus rencana lo kalau dia lahir? Gimana?"


Jujur saja, Sila belum memikirkan hal ini. Pulang ke Surabaya juga cukup berat resikonya. Apa lagi kalau dirinya pulang dengan membawa anak.


"Nggak tau," jawab Sila. Karena hanya itu yang terlintas untuk saat ini.


***


Sementara itu, semenjak kepergian Sila tadi, Zacky segera menyuruh orang suruhannya untuk mengawasi perempuan tersebut. Takut kalau terjadi sesuatu dengannya atau dengan calon anaknya.


Di rasa waktu nya sudah tiba, pria itu menghubungi asistennya yang tak lain ialah Arsya.


"Sudah beres semua?" tanya Zacky pada sang asisten via telepon.


'Udah. Langsung menuju ke alamat yang gue kasih. Pilotnya juga sudah standby di atap,' jawab Arsya dari seberang telepon.


"Yang di rumah?" tanya Zacky memastikan ulang. Karena ia tidak mau menunggu terlalu lama, hanya karena kurangnya sesuatu yang akan ia butuhkan nanti.


'Tenang ... orang rumah sudah beres. Untungnya mereka welcome dengan urusan anak muda. Yang jelas lo nggak buat lecet sedikit pun,' jawab Arsya lagi.


"Ya udah, gue terbang ke sana sekarang juga." putus Zacky yang kemudian menutup sambungan telepon di antara mereka.