Our Secrets

Our Secrets
Ch. 29. Jengkel Setengah Hidup



Bab. 29


Kedua temannya menutup mulut mereka dengan tatapan sedih bercampur marah. Sila tersenyum miris melihatnya. Ia sangat tidak suka jika ditatap dengan tatapan penuh rasa kasihan seperti ini. Inilah mengapa selama ini Sila memilih diam dan lebih menyibukkan diri dengan hal lain. Tentu saja kegiatannya menyanyi di sebuah cafe tetap Sila lakukan. Karena untuk saat ini hanya dari sanalah ia mendapatkan uang.


Sila juga merupakan murid beasiswa. Sehingga untuk urusan sekolah, gadis itu tidak terlaku pusing memikirkannya. Namun untuk kebutuhan lainnya di luar sekolah, Sila mencari tambahan di samping mendapat kiriman dari kakek dan neneknya yang mungkin kurang untuk Sila pakai biaya hidup di ibu kota seperti ini.


"Biasa kali liatnya. Gue nggak gila, kok. Tenang aja," ujar Sila sembari tertawa. Menutupi rasa sedihnya yang sesungguhnya.


Yuan merapatkan bibirnya, menahan segala macam gejolak yang kini berada di dalam dada.


"Siapa yang merenggut kesucian lo?" tanya Yuan dengan nada begitu geram. Ia tidak terima jika sahabatnya diperlakukan seperti ini.


"Katakan ciri-cirinya. Biar Bokap gue yang habisi dia. Kalau perlu, lenyapkan saja," sahut Melani.


Sama. Gadis itu juga merasa marah dan sangat ingin sekali menghajar pria yang sudah berani merusak masa depan Sila. Sedangkan ia tahu betul, Sila dan Yuan bukanlah gadis nakal. Mereka lurus-lurus saja. Meskipun otak dan mulut mereka yang rada-rada kena sawan.


Sila merasa terharu karena memiliki teman yang sangat peduli dengan dirinya. Bahkan sampai bersikap seperti ini.


Sila menggelengkan kepala. Gadis itu meraih tangan kedua temannya dan memegang begitu erat.


Yuan menatap ke arah Melani dan di balas dengan smirk di bibirnya.


"Mau heran, tapi ini Sila," gumam Melani yang mendapat kekehan kecil dari Yuan.


"Baru kali ini, gue nemuin korban anuan malah minta request kayak dia. Nggak ada trauma nya, apa? Gue yang dilakukan dengan sikap yang tenang dan lembut aja, masih ngeri banget kalau ingat. Ya ... walaupun rasanya enak sih lama-lama. Cuma pas mau menyatu itu, beuh ... kalau diijinkan dan tidak dosa, sudah gue tendang orangnya," ucap Yuan panjang lebar.


Entah, gadis itu sadar atau tidak dengan apa yang dia ucapkan saat ini.


"Laaaahh ... Bege'! Lo juga udah anuan?" tanya Sila dengan suara yang tinggi. Secara refleks saja.


Yuan meringis. "Kalau belum, mana bisa gue berkomentar kayak tadi. Kan ya aneh aja."


"Anj*r lo emang, Yu! Jangan bilang kalau yang anuin lo itu anu ...."


Sila tidak bisa melanjutkan perkataannya di saat ada seseorang yang bergabung di meja mereka dan tanpa ijin terlebih dulu. Kedatangan orang itu juga membuat Melani sedikit kesal. Karena dia mengurungkan pertanyaan yang membuatnya jengkel setengah hidup kepada kedua temannya.


"Boleh gabung, kan?" tanya orang itu yang sangat terlambat sekali.