
Bab. 39
Sampai makanan dan minuman yang dipesan oleh Zacky tiba, pria iru tidak sedikit pun memberi Sila kesempatan untuk melayangkan protes. Yang ada malah menyodorkan makanan tepat di depannya.
Hingga membuat Sila merasa geram. Sila menaruh sendok dan garpunya lalu menatap kesal ke arah Zacky yang tampak begitu santai menikmati makan siangnya.
"Sudah saya bilang, saya tidak punya banyak waktu. Sekarang apa maunya Om?" tanya Sila. Ingin sekali ia berteriak, namun ini di tempat umum dan pakaiannya sangat tidak mendukung jika dirinya bersikap barbar seperti biasa. Sangat tidak kontras jadinya.
"Habiskan dulu Makanannya, baru kita ngobrol," ucap Zacky tanpa menatap ke arah Sila.
Sila terbengong melihat perubahan sikap pria setengah mateng hadapannya saat ini. Bisa-bisanya malah dia menyuruh dirinya untuk menunggu. Di sini siapa yang butuh. Batin Sila mengumpat segala macam nama hewan yang ada di taman safari.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, saya pergi." tekan Sila yang kemudian berdiri. Namun langkah kakinya terhenti di kala mendengar ancaman dari Zacky.
"Melangkah keluar dari sini, saya akan umumkan kalau kamu sedang hamil anak saya." ancam Zacky menatap penuh arti dengan senyuman miring di bibirnya. "Dengan begitu, kamu akan ditinggalkan oleh pacar kamu." lanjut Zacky.
Zacky sangat sadar kalau ucapannya terdengar begitu kejam dan tidak sepatutnya, tetapi demi Sila mau mengisi perutnya sedikit. Karena di dalam perut gadis itu sekarang ada nyawa lain yang harus diperhatikan. Lebih lagi itu anaknya.
Zacky juga sengaja mengatakan hal tersebut agar Sila mau mendengar ucapannya. Namun, sepertinya ia salah mengambil langkah. Gadis itu sama sekali tidak merasa terancam atau takut sedikit pun.
"Ck!" Sila menarik sebelah bibirnya ke atas. "Silahkan saja. Bukan saya yang akan malu atau rugi, karena saya tidak punya pacar. Namun om yang bakalan dihabisi oleh Pak Rio. Sebab beliau sudah berjanji akan memberi pelajaran kepada orang yang menghamili saya." ucap Sila seraya tersenyum menyeringai. Membalikkan ancaman Zacky dengan ancaman yang lain. Tentu saja pria itu tidak akan bisa mengimbangi dirinya.
Sedangkan Zacky merasa tersudutkan. Jika kakaknya itu tahu kalau yang menghamili muridnya adalah dirinya, bisa tamat riwayatnya sekarang itu juga.
"Jangan coba-coba mengancam saya. Karena Om tidak akan bisa menemukan obyek buat bahan mengendalikan saya," tegas Sila begitu percaya diri.
Kalaupun orang di depannya ini menggunakan uang untuk membuat dirinya patuh, itu jelas salah besar.
"Apa benar kamu hamil?" tanya Zacky begitu serius. Pria itu juga menaruh sendok serta garpunya.
Sila tidak menjawab, gadis itu mengambil sesuatu dari clutch bag nya lalu memberikan kepada Zacky.
"Masih kurang percaya?" tanya Sila setelah menarik tangannya.
Zacky tercengang melihat selembar kertas yang menunjukkan sebuah foto usg di tangannya saat ini. Ia tidak menyangka kalau ia akan menjadi seorang ayah.
"Kita menikah secepatnya," ujar Zacky tanpa mengalihkan tatapannya dari selembar kertas yang ada di tangannya.
Sila begitu malas mendengar ajakan Zacky. Lagi dan lagi pria itu membahas perihal sebuah pernikahan.
"Om sadar dengan apa yang Om katakan barusan?" sangsi Sila. Kali ini gadis itu tampak serius menatap Zacky. Menunggu pria di depannya tersebut menatap ke arahnya setelah puas melihat foto calon anak mereka yang masih sebesar biji kedelai. "Terus gimana wanita yang bersama Om tempo hari lalu?" tanya Sila membuat Zacky tersedak salivanya sendiri.
'Dari mana dia tau tentang Tusha?' batin Zacky cukup terkejut.