Our Secrets

Our Secrets
Ch. 84. Pindah



Bab. 84


"Kemasi barang-barangmu," perintah Zacky kepada istrinya setelah menemukan perempuan itu yang ternyata sedang asik dengan maminya.


Tentu saja, ucapan Zacky barusan membuat mami Dilla dan Sila yang tengah asik mengobrol di pinggir kolam, sedangkan papi Kendra yang tengah memangku laptopnya pun menatap heran ke arah pria dengan setelan kemeja yang tampak terlihat berantakan.


"Hah? Kenapa memangnya?" tanya Sila yang juga tidak mengerti.


"Iya, Zack. Kenapa datang-datang malah nyuruh Sila mengemasi barang-barang? Kamu nggak berniat akan buang Sila, kan?" tanya mami Dilla memastikan lagi.


Lalu dengan cepat wanita paruh baya itu memeluk Sila dengan sangat erat di bagian bahu. Menatap Zacky dengan tatapan tidak rela kalau saja Sila beneran dibuang oleh putranya sendiri.


Papi Kendra dan Zacky menghela napas kasar ketika melihat tingkah mami Dilla yang begitu absurd menurut mereka.


"Siapa juga yang mau buang Sila, Mami. Dia istri Zacky. Mana mungkin Zacky buang. Ya kali kucing. Sedang hamil malah di buang-buang," ujar Zacky yang sebetulnya malas menanggapi mami nya.


"Kucing?" tanya Sila. Kini tatapan perempuan dengan perut membuncit tersebut berubah memicing. Melepaskan diri dari rengkuhan mami mertuanya, lalu melangkah dengan pasti ke arah sang suami. "Kamu nyamain aku dengan kucing, Mas?" tanya Sila memastikan ulang ucapan Zacky barusan.


Glek!


Pasti istrinya ini sedang salah paham. Zacky menggunakan ungkapan tersebut hanya sebagai perumpamaan saja. Tidak benar-benar menyamakannya dengan kucing.


"Ah, e-enggak, Sil. Maksudku bu—"


Sedangkan Sila semakin maju. Menuju ke arah Zacky berdiri saat ini. Pria itu terlihat gelapan dalam membenarkan diri.


"Oh ... mentang-mentang aku hamil di luar nikah, kamu nyamain aku sama kek kucing yang suka sekali hamil di luar nikah juga? Makanya kamu mau buang aku? Begitu?" cecar Sila dengan tatapan berubah tajam.


Zacky akui, ia salah bicara. Tidak seharusnya ia membuat perumpamaan yang dapat memberatkan posisinya saat ini. Terlebih lagi emosi Sila yang mudah sekali terpancing hanya dengan hal sepele saja.


Semenjak berbicara mengenai apa yang mereka rasa dan rencana apa yang mereka susun ke depannya untuk rumah tangga mereka, Zacky maupun Sila sudah bisa bersikap terbuka.


Bahkan Sila juga tidak segan meminta sesuatu kepada Zacky, kalau saja perempuan itu tengah menginginkan sesuatu. Yang jelas selalu meminta Zacky untuk memasakkan makanan untuknya. Entah mengapa Sila sangat suka sekali masakan yang Zacky buat. Itulah sebabnya Zacky semakin sibuk beberapa hari ini. Karena memang pekerjaannya bertambah. Sudah persis seperti bapak-bapak rumah tangga.


Belum sempat Zacky menjelaskan, Sila sudah lebih dulu memukul lengan suaminya dengan perasaan jengkel.


"Semua ini juga gara-gara siapa aku hamil, Mas?" geram perempuan itu.


Sedangkan Zacky mencoba untuk menahan tangan Sila tanpa membuat perempuan itu merasa sakit akibat cengkeraman tangannya.


Mami Dilla dan papi Kendra seolah menjadi penonton keributan sepasang pengantin baru tersebut.


"Kenapa sikap mereka lebih mirip kayak kucing dan tikus ya, Mas? Selalu saja berantem kalau ketemu. Giliran nggak keliatan salah satunya, dicariin," ujar mami Dilla sembari menatap anak dan menantunya.


"Bawaan prang hamil emang selalu aneh, Yaang. Hal sekecil pun bisa jadi masalah besar," sahut papi Kendra yang dibalas anggukan setuju dari mami Dilla.


"Kamu sabar banget hadepin aku dulunya, Mas," puji mami Dilla ketika mengingat sikapnya yang juga sama seperti Sila.


"Karena cinta, Yaang. Coba kalau enggak. Udah Pa ...." papi Kendra segera menghentikan kalimatnya, sebelum sampai keceplosan dan mendapat masalah baru.


Zacky berhasil menghentikan amukan Sila yang tengah salah paham. Memegang tangan sang istri tanpa menekannya.


"Kita pindah rumah, Sil. Di rumah kita sendiri." akhirnya Zacky bisa mengatakan alasan dirinya kenapa meminta Sila untuk segera berkemas.


Membuat Sila dan juga kedua orang tuanya terdiam. Menatap kaget ke arah Zacky. Karena pria itu belum pernah membicarakan hal ini sebelumnya.


"Apartemen?" tanya Sila. Karena yang ia tahu dulu mereka tinggal di apartemen.


Zacky menggeleng, lalu mengajak Sila untuk duduk di sofa dekat papi Kendra.


"Bukan. Tapi rumah. Rumah kita," jelas Zacky.