
Bab. 87
Angin malam mulai menyapa. Seharusnya ruangan itu terasa dingin, di tambah lagi dengan AC yang menyala. Namun, tidak untuk saat ini. Ruangan yang penuh dengan suara desah4n sekaligus rintihan, juga suasana yang terasa semakin panas itu seolah membuktikan jika ada kegiatan yang cukup menguras tenaga serta keberanian.
"Janjinya pelan, tapi ...." seorang wanita yang berada di bawah kungkungan sang pria pun mencengkeram erat lengan pria itu hingga kuku panjangnya menggores permukaan kulit. Mungkin sampai meninggalkan bekas nantinya.
Buliran keringat terus mencucur keluar berbarengan dengan wanita itu mencoba menahan rasa kurang nyaman sekaligus menggelitik di bawah sana. Membuatnya terus memejamkan mata seraya mendesis lirih. Takut jika suaranya terdengar oleh orang yang berada di luar kamar. Hanya demi menahan sesuatu yang ia belum terbiasa menerimanya.
"Maaf, Sayang. Kelepasan," balas sang pria. Keringat tampak membasahi wajah serta seluruh tubuhnya.
Meski begitu, pria itu tetap melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan saat ini. Ingin menggapai tujuannya yang entah sudah ke berapa kali. Hingga akhirnya pria itu terkulai lemas di sebelah sang wanita dengan napas terengah. Dia tersenyum puas menatap wanita yang kini sudah memejamkan mata di hadapannya.
***
Udara dingin terasa begitu menusuk tulang, hingga membuat Zacky yang terlelap pun terbangun dari tidur nyenyak nya. Pria itu menyunggingkan senyuman di kala mengingat apa yang semalam dia kerjakan bersama sang istri.
Di detik berikutnya Zacky terkejut saat tidak mendapati perempuan yang semalam berkeringat bersama dengan dirinya tidak ada di samping.
"Sila?" panggil Zacky ketika tidak mendapati sang istri di kamar mereka. Kamar yang sebenarnya belum terlaku siap untuk ditempati. Sebab masih banyak barang yang belum menempati tempat mereka.
Kemudian Zacky segera bangkit dan menuju ke kamar mandi. Di sana juga tidak ada. Lalu Zacky memutuskan untuk membersihkan diri sebelum keluar dari kamar.
Sementara itu di dapur seorang perempuan tampak tengah sibuk dengan bahan yang ada di depannya saat ini. Sambil mulut yang tidak berhenti mengoceh dengan asisten rumah yang ia tahu bernama bu Retno.
"Bu Retno sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Sila sambil memotong wortel yang ada di depannya.
Seorang wanita paruh baya yang tengah menggoreng ikan pun menoleh sembari tersenyum ramah kepada majikannya.
Sedangkan Sila mengangguk samar. Perempuan itu melanjutkan memotong wortel berbentuk dadu. Karena tiba-tiba saja ia ingin sarapan dengan sambal goreng panas ati. Juga dengan ikan goreng yang saat ini goreng bu Retno.
"Oh ... jadi dia galak ya, Bu?" tanya Sila lagi.
Bu Retno menggeleng. Untuk kali ini takut menjawab. Takut jika jawabannya keliru dan nanti malah berujung kena masalah. Sedikit banyak bu Retno sudah diberitahu oleh mami Dilla bagaimana perangai Sila selama ini. Serta bu Retno juga sering melihatnya secara langsung.
Di saat bersamaan, Sila yang duduk di kursi, perempuan itu terjingkat kaget di kala ada sebuah tangan yang tiba-tiba saja merangkul bahu nya.
"Siapa yang galak?" tanya orang itu yang tak lain ialah Zacky. Mengecup singkat puncak kepala Sila, lalu ikut duduk di sebelah sang istri.
Sila mencubit pria itu karena malu Zacky memeluknya serta mengecup kepalanya di depan bu Retno.
"Apa-apaan, sih. Nguping orang ngobrol aja,"ujar Sila sembari menggeser tempat duduknya hingga sedikit menjauh dari Zacky. Membuat pria itu menatapnya dengan alis terangkat.
"Kenapa malah menjauh sih, Sayang. Aku udah mandi, kok. Enggak keringetan lagi," ucap Zacky begitu ambigu. Di mana ucapan itu semakin membuat Sila malu.
Padahal Sila menjauh karena ia sangat malu bertemu dengan pria di sampingnya ini. Setelah apa yang mereka lakukan semalam. Sila seolah kembali mendapatkan rasa malu yang sudah lama sekali tidak dia rasakan.
Sedangkan bu Retno hanya tersenyum melihat pasangan yang ada di belakangnya saat ini. Wanita paruh baya itu memilih fokus menggoreng ikannya, dari pada melihat kedekatan mereka.
Zacky mengusap lembut tangan Sila di kala istri nya itu fokus memotong wortel di banding melihat ke arahnya.
"Udah nggak sakit? Hmm?" tanya Zacky dengan kedipan mata genit. Mulai keluarlah sikap asli pria itu di depan orang yang ia anggap penting.