
Bab. 85
"Ini beneran?" tanya Sila menatap takjub rumah yang ada di depan mereka saat ini.
Sedangkan Zacky tengah menurunkan koper yang berisi baju-baju mereka sebagian. Sisanya akan dikirim dari apartemen besok.
"Iya," balas Zacky seraya menyeret dua koper besar di masing-masing tangannya.
"Bukan rumah kamu sama Kak Tusha kan, Mas?" tanya Sila menatap curiga ke arah suaminya. "Kalau ini rumah impian kalian dulunya, mending aku tinggal di rumah mami aja." putus Sila kemudian sebelum Zacky menjawab.
Bukan tidak mungkin mereka mempunyai persiapan untuk ke depannya. Di tambah lagi hubungan Zacky dan Tusha berlangsung lama. Wajar jika Sila mencurigai suaminya kalau rumah yang ada di depannya saat ini merupakan rumah yang seharusnya dia tempati bersama Tusha. Bukan dengan dirinya yang main asal masuk saja. Sila merasa kurang nyaman.
Namun, helaan napas berat dari Zacky terdengar begitu jelas. Pria itu melirik jengah ke arah sang istri yang selalu berprasangka buruk kepadanya.
"Jadi orang tuh jangan berpikir buruk dulu. Liat, diteliti, dirasakan. Rumah nya udah lama apa terasa baru," ujar Zacky. "Kamu tuh sedang hamil loh. Jangan harusnya berpikir yabg baik-baik. Aku nggak mau kalau anakku berpikiran buruk juga ke Daddy-nya," imbuh Zacky yang menyempatkan mengusap sebentar perut buncit Sila.
Sila menyingkirkan tangan Zacky. Karena merasa malu dengan sopir yang dan tukang kebun yang kini mengambil alih koper mereka dari tangan Zacky sebelumnya.
"Sshh ... apaan sih, Mas. Main megang-megang," protes Sila sembari melirik ke arah dua orang yang membantu mereka. "Malu diliat orang," jelasnya lagi.
Zacky menatapnya jengah. "Tumben ingat sama si malu. Biasanya juga malah malu-maluin," gumam Zacky lirih yang kemudian mengajak Sila untuk masuk ke dalam rumah baru mereka.
Namun ternyata Sila bisa mendengarnya dengan sangat jelas hingga membuat perempuan itu mencubit lengan Zacky.
Lagi, Zacky harus menahan rasa Hemas sekaligus menambah kesabarannya dalam menghadapi istri nya ini. Padahal dirinya termasuk orang yang paling sabar di antara kedua saudaranya.
"Bukan gitu, maksudnya. Iya, iya ... maaf, salah bicara," balas Zacky memilih meminta maaf saja dari pada panjang urusannya. Karena perempuan yang ada di sampingnya ini tidak akan mau disalahkan. "Gimana? Suka nggak?" tanya Zacky mengalihkan pembicaraan.
Mereka baru memasuki rumah bernuansa peach yang dipadukan dengan warna biru muda yang terlihat soft. Ah ... Sila lebih suka warna seperti ini dibanding dengan kamar suaminya yang tampak suram bagi Sila.
"Ceria tapi kalem," gumam perempuan itu. Membuat Zacky menoleh dengan tatapan tidak mengerti.
"Hah? Siapa yang kalem? Mana?" goda Zacky sembari celingukan seperti sedang mencari seseorang yang dimaksud oleh Sila. Ingin tahu reaksi Sila bagaimana. Dan yang sudah pasti istrinya ini akan ngereog.
Sila memicingkan mata seraya bibir yang menipis.
"Kamu berharap ada cewek lain di sini? Hmm?" tebak Sila langsung. "Kamu tuh udah punya istri. Udah mau punya anak. Jangan jelalatan matanya, Mas!" sentak Sila kemudian.
Benar kan apa yang diduga oleh Zacky? Sila pasti marah kalau dirinya yang menggoda dan membahas sosok perempuan lain. Sedangkan perempuan itu sendiri dengan sesuka hati sering kali menautkan Tusha dalam obrolan mereka. Padahal Zacky tidak pernah membahas mantannya tersebut. Di tambah lagi semua akses juga sudah di blokir sama Sila.
"Iya, iya ... cuma canda doang. Udah, jangan marah-marah. Nanti dedek nya ikutan galak kayak Miminya," ujar Zacky yang salah memilih kalimat lagi. Hingga membuat Sila semakin brutal mencubiti serta melayangkan pukulan ke tubuh suaminya.
Pasrah. Hanya itu yang bisa Zacky lakukan saat ini. Mungkin bisa disebut juga karma untuknya. Karena main menghamili anak gadis orang tanpa di planning dulu. Hidupnya yang dulunya tenang dan terasa datar, kini benar-benar penuh dengan berbagai hal yang cukup mengejutkan pria itu di setiap waktunya.