
Bab. 109
Mobil yang sedang ditumpangi oleh sepasang suami istri itu berhenti juga di plataran rumahnya. Seperti biasa, Zacky turun lebih dulu u untuk kemudian membukakan pintu yang ada di samping sang istri.
"Hati-hati, Yaang," ujar Zacky sembari menaruh tangannya di atas kepala Sila tanpa menyentuh kepala wanita itu.
Sementara Sila dengan penuh kebagian keluar dari mobil. Meskipun sedikit aka susah. Karena ukuran perutnya yang semakin membesar mulai membuat Sila sedikit terbatasi dalam bergerak. Tidak bisa lagi seenaknya sendiri sat set seperti sebelumnya. Wanita itu tetap memprioritaskan dua nyawa yang ada di dalam kandungannya saat ini.
"Makasih, Mas," ujar Sila ketika ia dibantu suaminya yang sangat sabar dan telaten dalam meladeni dirinya. Tentu, dengan segala kecrewetan yang dia punya.
"Udah kewajiban aku jaga kamu, Yaang. Bikin kamu nyaman. Makin keren lagi kalau aku bisa buat kamu jatuh cinta sama aku," ucap Zacky seraya memainkan matanya.
Sila tersipu. Cepat-cepat wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Sebelum Zacky mengetahuinya dan malah akan menjadikan ekspresi malunya tersebut sebagai bahan candaan.
"Nggak usah gombal deh, Mas," sahut Sila memilih untuk berjalan lebih dulu.
Zacky tahu jika istrinya ini malu dan sangat gengsi untuk mengungkapkan perasaannya. Akan tetapi ia akan lebih bersabar lagi demi bisa mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Sila sendiri.
"Yaang ... jangan cepet-cepet jalannya. Kamu sedang makai sandal yang agak tinggi loh!" ingat Zacky yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Sila.
Hingga akhirnya Zacky menyusul langkah Sila dan membukakan pintu rumah mereka.
"Silahkan, Tuan Putri," ucap Zacky lagi ketika membukakan pintu rumah untuk Sila. Padahal Sila bisa melakukannya sendiri.
Sedangkan Zacky mengelak. "Aneh gimana, Yaang? Orang aku cuma pingin bahagiain istri aku aja, kok. Dari pada nanti aku bahagiain istri orang. Kan baha—"
Plak!
"Mas!" sentak Sila dengan wajah geramnya. Tidak ketinggalan tangannya juga mendarat dengan cepat ke lengan Zacky.
"Aaawww ... sakit, Yaang," bohong Zacky dengan ekspresi kesakitan.
"Biarin. Salah sendri itu mulutnya nggak disekolahin dulunya. Makanya jadi gitu kalau ngomong!" sewot Sila mengomel dengan nada cepat. Sampai-sampai membuat Zacky begitu gemas jika melihat istrinya ini tengah cemburu.
"Kamu tenang aja, Yaang. Aku nggak akan berpaling, apa lagi melirik ke wanita lain," yakin Zacky. "Palingan cuman ngintip doang," gumamnya di kalimat terakhir dengan nada lirih.
Sila menatapnya penuh arti. Di menit selanjutnya, mata wanita itu berair dan bersiap untuk menumpahkan Raza kesal sekaligus perih di hatinya.
Melihat hal tersebut, Zacky langsung menarik Sila hingga jatuh ke dalam dekapannya.
"Enggak enggak, Yaang. Aku cuma bercanda. Bercanda, kok," yakin Zacky yang memang hanya bercanda saja tadi. "Cuma kamu satu-satunya. Nggak berani nambah lagi aku, Yaang nggak berani." Zacky pun menggelengkan kepala dengan mantap.
Sila menatapnya sangsi. "Kalau macem-macem, aku potong hingga pangkalnya loh, anumu itu Mas," ancam Sila yang tentu saja bukan main-main.
"Jangan Yaang. Nanti kamunya yang rugi. Kalau pas pingin ah ah, gimana?" tanya Zacky seraya menirukan suara ******* Sila ketika mereka melakukan anu.