
Bab. 97
"Yaang ... lihat aku dong, Yaang," pinta Zacky pada sang istri. Namun, perempuan yang mengunci rapat-rapat mulutnya setelah mereka sampai di rumah, sedikit pun tidak mengeluarkan satu patah kata kepada sang suami.
Sila sendiri sibuk dengan buku yabg ada di depannya. Meskipun tidak melanjutkan kuliah tahun ini, namun Sila tetap harus mengasah otaknya. Lagi pula ia juga merasa bosan kalau tidak melakukan apa-apa. Sebab suaminya ini benar-benar melarang dirinya untuk melakukan pekerjaan rumah. Walaupun cuma membantu membersihkan meja makan. Zacky tetap melarang Sila.
Jangan di pikir urusan mereka selesai begitu saja setelah Sila berhasil membuat mantan tunangan suaminya itu pergi dari ruangan kerja Zacky. Bahkan mantannya itu tidak pamit kepada dirinya ataupun Zacky.
"Kamu ngambek?" tanya Zacky duduk di samping Sila. Namun pria itu tidak dihiraukan sama sekali oleh Sila.
"Arsila Rayyansyah!" geram Zacky. Karena sejatinya pria itu tidak suka diabaikan seperti ini.
Mendengar panggilan suaminya, Sila.menoleh cepat dan langsung melayangkan pukulan ke lengan Zacky.
"Oh ... mentang-mentang habis ketemu dama mantan, jadi lupa nama istrinya?" protes Sila dengan tatapan sinis.
Zacky tersenyum senang, karena akhirnya Sila menoleh ke arahnya.
"Enggak, Yaang. Kan kamu sekarang istriku, jadi nama kamu juga berubah," jelas Zacky yang langsung mendusel ke arah Sila.
Sila memukul paha Zacky beberapa kali hingga pria itu mengaduh.
Dikata bau, Zacky mengangkat tangannya secara bergantian dan mengendus badannya.
"Nggak bau, Yaang. Aku kan baru mandi. Malah kamu yang belum mandi dari tadi, kan?" balas Zacky. Karena seingatnya Sila lah yang belum mandi sehabis pulang dari kantornya tadi.
Sila semakin melotot ke arah Zacky. Lalu perempuan itu berdiri dengan berkacak pinggang.
"Oh ... sekarang kamu gitu ya, Mas? Ke aku. Mentang-mentang selama ini aku mau layani kamu di ranjang make gaya apa aja. Udah kenyang, udah dapatin apa yang kamu mau. Terus tadi juga reuni sama mantan. Sekarang malah ngatain aku bau? Gitu?" cecar Sila dengan nada menggebu.
Zacky menghembuskan napasnya berat. Emang, wanita itu tidak pernah salah sedikit pun. Kalau memang melakukan kesalahan, mereka hanya sedang khilaf saja. Itulah aturan keramat yang pernah dibilang sama papinya. Apa lagi jika wanita itu sedang hamil. Pasrah dan nurut, dua kata yang wajib para lelaki lakukan.
"Bilangnya aja udah sayang, cuma aku aja di hatimu. Taunya, liat wanita seksi aja udah jelalatan matanya. Bener-bener nggak bisa di anu banget kamu, Mas!" ujar Sila menatap kecewa. "Emang dasar, mamalia!" amuk Sila sembari menepis tangan Zacky yang ingin meraih tangannya.
Kemudian Sila memilih keluar dari kamar. Pun Zacky tidak akan membiarkan istrinya ini dalam keadaan marah yang berkepanjangan. Bisa-bisa dampaknya nanti tidak pernah ia duga.
"Sayang ... maaf, bukan itu maksudnya," ujar Zacky tidak di dengar oleh Sila. Lebih tepatnya perempuan itu mengabaikan.
Zacky menjambak rambutnya sendiri, frustasi menghadapi wanita hamil seperti Sila. Perasaan ia sudah menahan segala sesuatunya agar tidak sampai menyinggung Sila. Namun ternyata kalimat pembelaan dan memang fakta yang ada, justru membawanya ke jurang kehampaan. Hampa karena sudah bisa Zacky pastikan kalau malam nanti dirinya harus libur tidak berkeringat bersama dengan Sila. Di tambah lagi Sila malah memasuki kamar lain dan langsung menutupnya rapat.
"Huft ... nasib ... nasib. Punya istri sensinya kok melebihi kadar," gumam Zacky. Lalu pria itu menatap ke bawah. Di mana Jun tengah menunggu untuk diajak berpetualang ke lembah yang hangat. "Sabar dulu, Jun. Tampaknya malam ini kita libur lagi."