Our Secrets

Our Secrets
Ch. 76. Salah Menduga



Bab. 76


Kemudian Jinan mengatakan cara yang paling ampuh untuk menaklukkan seorang wanita dalam pesona yang dimiliki oleh pria.


Tentu saja Arsya di sini yang tertawa terbahak setelah mendengar cara tersebut.


"Sebaiknya lo jangan lakuin itu ke Sila, Bro. Sumpah, jangan!" saran Arsya yang sedikit banyak tahu sifat istri dari bosnya tersebut. Selain dari menyelidikinya dan bertanya pada orang terdekatnya, Arsya juga mengamatinya secara langsung.


Jinan memicingkan matanya, menatap Arsya penuh dengan rasa penasaran. Karena dirinya belum bertemu dengan istri dari sahabat sekaligus teman kerjanya tersebut. Sehingga tidak bisa mengetahui bagaimana sifatnya.


"Memangnya dia kenapa?" tanya Jinan dengan wajah bingung. "Perasaan kalau gue makai cara seperti ini, mereka bakalan langsung klepek-klepek deh. Asal yang udah pernah aja. Jangan yang masih rapet lo gituin. Bisa-bosa ditendang itu burung lo," lanjutnya lagi mengenai konsekuensi dari tips yang Jinan bicarakan barusan.


"Nggak perlu digituin juga gue udah ditendang," aku Zacky pada akhirnya.


Membuat dua sahabatnya itu terdiam dan saling pandang. Lalu tatapan mereka beralih ke arah pinggang Zacky secara bersamaan.


"Jadi ... maksud dari bahasa tubuh lo yang kayak gitu ..." Jinan tidak bisa melanjutkan ucapannya. Membayangkan saja sudah cukup ngeri.


"Hasil tendangannya Sila?" tebak Arsya yang menyambung kalimat Jinan.


Zacky mengangguk samar. Membenarkan tebakan asistennya.


"Huahahahaha!" tawa pun pecah di ruangan sang Presdir tersebut.


"Apes banget sih, Bro!" ujar Jinan. "Kalau udah kayak gitu, ya lo main halus aja. Ambil perhatian dia. Perlahan, nggak bisa main sat set sih kata gue. Yang ada dia beranggapan sebagai pelampiasan doang. Apa lagi lo baru putus kan sama Tusha? Bagus deh kalau lo putus sama di—"


Arsya menyenggol lengan Jinan dan memberi isyarat untuk diam. Membuat pria itu seketika mengerti. Kemudian Jinan mengalihkan pembicaraan mereka mengenai bisnis kembali.


"Apa yang kalian sembunyikan dari gu—"


"Ya! Hallo, Honey?" suara Jinan terdengar begitu kencang di saat menerima sebuah telepon dari seseorang. Lalu pria berdarah campuran itu mengarahkan telapak tangannya ke arah Zacky. Membuat kalimat Zacky terpotong.


Lalu pria itu menatap ke arah Arsya, meminta penjelasan lebih mengenai sikap mereka yang seolah kompak tengah menyembunyikan sesuatu.


Sama. Pada detik itu juga Arsya mendapat sebuah telepon dari rekan kerja Zacky yang berada di luar negeri. Terlihat dari bahasa yang digunakan Arsya saat ini. Bukan bahasa Inggris, melainkan bahasa Belanda.


***


Sementara itu di tempat lain, tampak seseorang yang tengah sibuk berbincang. Namun, tidak ada orang sama sekali di sana. Hanya ada seekor kucing gemuk yang menggemaskan.


"Lo sedang hamil juga ya?" tanya perempuan dengan perut buncit tersebut. Tangannya sambil mengelus bagian perut kucing yang gemuk itu.


"Makanya, jangan suka kelayapan. Jadi gini, kan? Badan lo gemuk akibat kebanyakan pergaulan bebas sih!" ujarnya lagi menyahuti pertanyaannya tadi.


"Enak aja!" sahut seseorang yang kemudian mendekat ke arah perempuan berperut buncit tadi. "Dia cowok. Mana bisa hamil kayak lo!" jelasnya lagi membuat Sila tertawa.


"Lah, aku kira ini cewek loh, Kak. Perutnya gedhe banget. Kek balon mau meletus," kekeh Sila yang salah menebak. Ditambah lagi menuduh yang tidak-tidak.


"Gue laporin lo ke perlindungan hewan. Melakukan pencemaran nama baik pada kucing gue," ancam Zuma. Lalu duduk di dekat Sila yang tengah memangku kucing gemuk kesayangan Zuma.


"Laporin aja, Kak. Ntar kembaran Kak Zuma juga aku laporin ke Kak Seno," tantang Sila membuat Zuma mengerutkan keningnya.


"Kak Seno? Siapa?" tanya Zuma merasa kayak familiar dengan nama itu. Tetapi takut salah menduga.