Our Secrets

Our Secrets
Ch. 65. Tanpa Disangka



Bab. 65


"Mau aku rekomendasiin?" tanya wanita itu dengan sangat ramah.


"Kakak juga mau belanja di sini memangnya?" tanya Sila lagi seolah mereka sudah kenal dekat. Padahal ini kali pertamanya mereka bertemu. Pikir Sila.


Wanita yang saat ini berdiri di depan pintu butik yang akan Sila tuju, tampak mengangguk.


"Di dalam ada koleksi terbaru dari mama. Pasti cocok buat kamu yang masih sangat muda dan penuh energik," ucap wanita itu membuat Melani mengangkat alisnya.


"Butiknya Kakak?" tebak Melani.


Lagi dan lagi wanita itu tersenyum sambil menggeleng.


"Bukan. Ini butiknya Mama," ralat wanita itu membuat Sila dan Melani mengerti. Pantas saja kayak tau isi di butik. Ternyata ilmu marketingnya sudah es delapan.


Mereka tidak mempermasalahkan ketika wanita itu mengajak masuk ke dalam butik tersebut.


Sila mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan matanya tertuju pada sebuah gaun yang cukup menarik perhatiannya.


Gaun itu berada di sebelah sisi kanan, sangking terpikatnya oleh gaun itu, Sila tanpa sadar berjalan berbelok meninggalkan Melani dan wanita yang mengajaknya masuk.


Wanita cantik itu terus berjalan masuk dengan Melani di belakangnya yang masih setia mengikuti. Lalu wanita itu tersenyum senang di saat melihat ada sosok pria yang tengah duduk di sofa dengan ponsel di tangannya.


"Mas," panggil wanita itu yang kemudian menghampiri pria yang tampak biasa-biasa saja. Tidak ada ekspresi di wajahnya. "Udah nungguin lama?" tanya wanita itu.


Pria yang tak lain ialah Zacky, dia mengangguk samar. Kemudian tatapannya beralih ke arah seorang perempuan yang memakai setelan kerja. Namun tidak tampak jelas, karena perempuan itu menoleh ke belakang. Seperti tengah mencari sesuatu.


"Mana Mami Dilla dan Kak Zuma?" tanya wanita itu sambil menatap ke arah sekitar. Lalu tampaklah tiga orang perempuan yang baru keluar dari bilik yang tak jauh dari tempat mereka berada.


"Tusha!" pekik mami Dilla yang terlihat senang.


Wanita paruh baya itu mempercepat langkahnya menuju Tusha. Sesampainya di depan Tusha, mami Dilla memeluk lalu menatap wanita itu penuh kagum.


"Kamu makin cantik aja, Sayang," puji mami Dilla.


"Bisa saja, Mami," sahut Tusha tersipu malu.


"Mii ...." ingat Zuma yang tidak suka mendengarnya.


"Oh, ya, Ma. Koleksi gaun santai yang baru itu mana, Ma?" tanya Tusha pada mamanya.


"Ada di dalam, Sayang. Kenapa?" tanya mama Amira.


"Enggak, tadi tuh ada gadis muda yang nanya. Dia sedang hamil, tapi pingin make gaun yang terlihat anggun," jawab Tusha. Kemudian dia menoleh ke arah belakang dan tidak ada siapa-siapa.


"Teman kamu, Sayang?" tanya mami Dilla yang juga ikut melihat ke arah belakang mereka.


"Bukan, Mi. Orang mau beli aja. Tadi udah masuk kok mereka. Sebentar, aku cari dulu," pamit Tusha yang kemudian menatap ke arah Zacky yang tampak cuek kepadanya.


Meski terasa aneh dan menyakitkan, namun Tusha berusaha untuk bersikap kuat. Lalu ia mencari dua wanita muda yang ternyata berhenti di ruang depan.


"Jadi nggak liat gaunnya?" tanya Tusha pada Melani dan Sila yang tampak mengagumi gaun di depan mereka.


Mereka menoleh sedikit kaget.


"Ah, iya, Kak!" sahut Sila. Tidak enak karena diam-diam berbelok arah.


"Ayo!" ajak Tusha dan diikuti oleh kedua perempuan itu.


"Lo yakin mau beliin gue, Mel?" tanya Sila setengah berbisik.


Melani yang berjalan di sebelahnya pun melirik malas.


"Lo raguin uang gue?"


"Tapi di sini emang mahal-mahal loh, Mel. Gue jadi ngerasa enak, gimana?" ujar Sila seraya meringis.


Melani hanya berdecak menanggapi ucapan Sila. Lalu melanjutkan mengikuti langkah wa ita cantik di depan mereka.


"Loh, kalian kan temannya Yuan?" pekik mami Dilla dengan suara yang keras dan jelas. Membuat semua orang menoleh ke arah Sila dan Melani.