Our Secrets

Our Secrets
Ch. 72. Pagi Yang Penuh Warna



Bab. 72


Cahaya yang masuk ke kamar melewati jendela yang sudah terbuka gordennya, membuat Sila mengerjap pelan. Mengucek matanya sebentar lalu mulai membuka mata indah itu dengan sedikit menyipit.


"Udah pagi?" gumam perempuan itu lalu mencoba untuk terdiam, menatap langit-langit kamar Zacky.


Dan di detik selanjutnya Sila sedikit terkejut di saat meraba tempat yang ia tiduri.


"Perasaan semalam gue tidur di sofa. Harusnya kan alus, ini kok lembut sama ada ..."


Sila menggerakkan kaki untuk meraba tempat di bagian kakinya. Kok ada yang aneh menurutnya. Hingga kemudian Sila menoleh ke samping. Kalau memang itu bantal guling, seharunya terasa lembut dan halus. Nyaman.


Ini juga nyaman, namun terasa lebih hangat. Kakinya juga merasakan bulu-bulu halus di bawah sana.


"Masa aku tidur sama yang berbulu itu?" gumam perempuan itu lagi. Yang dia maksud sebenarnya kucing dan anj*ng.


Betapa terkejutnya Sila di saat mendapati seseorang tidur di sampingnya dengan posisi menghadap ke arahnya. Parahnya lagi, salah satu tangan orang itu ternyata ada di bawah kepalanya. Membuat Sila ingin menjerit, namun ia tahan.


Jika perempuan lain mungkin akan membangunkan sosok di sampingnya itu dengan ucapan yang manis atau usapan lembut di kepala maupun di lengannya. Atau kalau pas terkejut seperti Sila saat ini, mungkin mereka akan berteriak manja. Agar orang itu terbangun dengan senyuman manis di bibir.


Sekali lagi, ini Sila. Bukan para perempuan kebanyakan di luar sana. Stoknya memang benar-benar limited banget. Jadi apa yang dia lakukan sama sekali tidak ada duanya. Tidak bisa dibandingkan.


Bugh!


Dengan sekuat tenaga dan rasa keterkejutannya yang luar biasa, Sila pun menendang orang yang masih terlelap itu hingga terjatuh dari atas tempat tidur. Memang benar orang itu juga terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sila. Namun lebih merasakan nyeri di pinggang dan punggungnya yang bertabrakan langsung dengan lantai tanpa konfirmasi terlebih dulu. Benar-benar tiada duanya, bukan?


Lantas perempuan itu langsung membenahi bajunya, menutupi paha yang sedikit terlihat. Tatapannya begitu tajam mengarah ke arah Zacky yang saat ini berusaha bangkit seraya menahan rasa sakit serta keterkejutannya.


Beberapa menit yang lalu ia baru bisa merasakan nyenyak dalam tidurnya setelah semalaman Sila yang selalu menarik tangan nya agar mengusap perut tanpa perempuan itu membuka mata.


"Siapa yang minta aku tidur di ranjang semalam?" tanya Zacky mengingatkan Sila. Zacky menghela napas kasar. Bisa-bisanya ia diperlakukan seperti ini di kamarnya sendiri.


"Enggak! Aku nggak minta Om tidur di ranjang. Orang aku tidur di sofa. Pasti Om kan yang curi-curi kesempatan?" tuduh Sila dengan mata memicing serta jari telunjuknya yang mengarah ke arah Zacky.


Membuat Zacky melangkah ke arahnya. Sila menutupi tubuhnya dengan selimut, takut kalau sampai pria itu akan macam-macam dengannya.


Ptak!


Zacky menyentil kening Sila cukup lumayan keras hingga perempuan itu secara refleks langsung mengusap keningnya. Di mana terdapat bekas merah di sana.


"Awww! Sakit, Om ...." rengek Sila dengan bibir yang menekuk ke bawah dengan mata berkaca-kaca. Menahan rasa panas serta sakit di keningnya.


Melihat itu Zacky merasa bersalah. Namun gengsi saja mau meminta maaf. Sudah ditendang, dituduh lagi. Ah, benar-benar paginya yang sial. Mana mata masih mengantuk. Sangat lengkap sudah penderitaannya pagi ini.


"Makanya, diinget dulu sebelum nuduh," ujar Zacky yang memilih berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Sila yang cemberut karena ulahnya.


Sedangkan Sila mulai mengingat kembali apa benar yang dikatakan oleh Zacky tadi. Bahwa dirinya lah yang meminta pria itu untuk tidur di ranjang bersamanya.