Our Secrets

Our Secrets
Ch. 30. Bubur Ayam



Bab. 30


Bukan hanya Melani saja yang jengkel. Tetapi Sila juga. Raut muka gadis itu tidak hanya jengkel, tetapi lebih ke kecewa dengan apa yang pernah orang itu lakukan kepada dirinya. Hingga sampai membuatnya seperti sekarang ini.


"Nggak boleh nih? Kok pada diem semua?" tanya orang itu dengan senyuman manis seperti biasa. Juga memasang wajah ramahnya. Seolah seperti orang yang tidak memiliki kesalahan sedikit pun.


Sila sangat jengah dengan kehadiran orang itu, di kala mereka tengah membahas sesuatu yang sangat penting menurut mereka. Walaupun banyakan absurdnya dan mengarah ke sembarang arah.


Yuan menatapnya dengan ketus.


"Lo ngapain malah gabung sama grup ciwi-ciwi sih, Pangeran Icad?" geram Yuan.


Kalau ada seorang pria di antara mereka, Yuan merasa kurang nyaman membahas perihal anuan yang belum selesai antara dirimu dan Sila. Karena mereka belum menemukan hal yang memu4skan batin mereka masing-masing.


Sedangkan pria yang tidak lain ialah Richard, justru mengangkat bahu dengan raut sangat santai sekali. Seolah dia merasa sangat nyaman di sana.


"Ya biar kelihatan paling tampan aja," sahut Richard cepat dan penuh yakin seribu persen kalau dirinya memang tampan.


Sila memutar bola matanya jengah. Benar-benar muak dengan muka dua yang dimiliki oleh Richard. Sekarang aja pria itu cosplay menjadi pria sok buaik dan penuh perhatian, akan tetapi di balik sikapnya yang sering dipuja dan puji oleh beberapa siswi di sekolah itu sangat la mengerikan. Bahkan lebih mengerikan dari orang bangs4t yang selama ini pernah Sila temui. Bisa dibilang Richard menempati urutan pertama untuk masalah seperti ini.


"Ck! Muak banget," gumam Sila yang ternyata terdengar oleh telinga Richard. Pria itu langsung melototkan matanya ke arah Sila. Menyiratkan untuk gadis itu tetap diam saja.


Sila yang mendapatkan tatapan tersebut dari Richard, nyali nya langsung menciut. Ia talu kalau sampai Richard melakukan sesuatu hal buruk kepadanya. Oleh karena itu Sila menoleh ke lain arah.


Dalam pertemuan itu membuat mereka tidak nyaman dan tidak bisa leluasa berbicara. Sehingga Sila lebih dulu ijin untuk pulang dengan alasan akan mempersiapkan diri untuk performance nya nanti.


Dua orang sahabatnya mengangguk. Setelah kepergian Sila, Yuan juga pamit dengan alasan kalau pawangnya sudah mencari dirinya.


Melani juga menuju ke mobilnya. Namun sebelum itu, dia menoleh ke belakang. Di mana masih ada Richard.


"Gue harap lo nggak jadi pecundang, Cad," ucap Melani dengan tatapan penuh maksud.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Melani dengan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tidak memperdulikan ekspresi Richard yang masih bingung di tempatnya.


***


Sesampainya rumah, Sila langsung membersihkan diri. Ia memang benar-benar belajar setelahnya. Karena biar bagaimanapun nilainya tidak boleh turun dan harus membuat bangga kakek neneknya dengan cara lain.


"Kenapa tiba-tiba pingin banget bubur ayam, ya?" bukan Sila yang entah mengapa membayangkan bubur ayam Pak Tejo tampak begitu lezat. "Tapi mana jualan di jam segini?" imbuhnya lagi.


Petang menjelang, sudah jelas tidak ada yang jualan bubur ayam. Karena makanan yang satu itu sangat identik dengan sarapan di pagi hari. Bukan menjelang petang seperti sekarang.


Karena ia masih mempunyai waktu, Sila mengisinya dengan membuka media sosialnya, yakni igeh.


@sila_diandr4.Bubur ayam itu terlalu menggoda, melebihi duda tetangga.


Posting Sila sangking gabutnya. Dan tanpa dia tahu, postingan tersebut terpantau oleh seseorang dan akibat kalimat yang Sila tulis, membuat pikiran orang itu semakin carut marut.