
Bab. 68
Sila melihat itu. Gadis itu menatap memicing ke arah Zacky. Perasaannya benar-benar dongkol melihat pria yang katanya sebagai suaminya tersebut malah bersentuhan dengan wanita lain. Meskipun memang jika dilihat dari segi penampilan, wanita itu jauh jauh jauh lebih cantik dan seksoy dari pada dirinya. Sudah jelas ia tidak bisa menyamai nilai ketertarikan dari segi fisik. Kalah telak.
Namun, Sila tidak akan membiarkan pria itu tenang begitu saja. Dia harus membayar rasa kesalnya selama beberapa hari ini karena menikahi dirinya tanpa persetujuan dari nya.
"Dia sudah kurang aja sekali, Pi!" protes Zuma yang geram karena papinya menahan tangan dan tubuhnya.
Sementara itu Rio yang baru masuk menatap ke arah kedua adiknya. Ia juga sempat terkejut ada mantan muridnya di sana, Sila dan Melani. Di tambah lagi ada tante Amira dan Tusha.
'Ah ... pantesan Yuan kuajak kesini tadi nggak mau. Sepertinya dia udah tau akan situasi di sini.' batin Rio mengenai keanehan sikap istrinya tadi. Padahal ke mana-mana selalu ngintilin dirinya.
"Kamu nggak liat kakak kamu udah kayak gitu?" tanya papi Kendra seraya menunjuk ke arah Zacky. Di mana pria itu langsung menjauhkan diri dari Tusha di kala semua orang menatap ke arahnya.
"Tapi aku belum puas kalau dia belum patah tangannya dan me—"
"Terus kalau kamu udah gitu kan dia, gimana nasibnya dia?" sahut Rio memotong ucapan Zuma.
Sementara orang yang dimaksud oleh Rio, kini melangkah mendekat ke arah Zuma. Mami Dilla dan Melani tidak mengerti apapun di sini. Kenapa juga Sila mendekati Zuma. Di tambah Tusha dan tante Amira masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Kamu nggak apa, Mas?" tanya Tusha ingin menyentuh wajah Zacky, namun pria itu menghindar.
Grep!
Zuma terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sila. Pun begitu kali Kendra yang langsung menjauh dari putrinya di kala dia dipeluk oleh Sila.
"Makasih, Kak. Kakak udah lakuin apa yang ingin kulakukan pada om itu," ujar Sila seraya menunjuk ke arah Zacky dengan tatapan yang begitu memelas. Bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca. Seolah dialah yang paling tersakiti. Padahal hanya kesal saja dengan sikap Zacky yang seenaknya sendiri.
Sedangkan Zuma yang tidak tega melihat perempuan muda di depannya ini ekspresi seperti itu, lantas Zuma membalas pelukan perempuan yang tingginya hanya sebatas bahunya. Menepuk punggung Sila, memberi ketenangan di sana.
"Tenang aja. Gue akan bantu lo buat kasih pelajaran buat dia," ujar Zuma membuat Sila tersenyum tipis di dalam pelukan Zuma.
"Iya, Kak. Sebenarnya aku juga pingin mukul dia pas dia perkosa aku. Ta-tapi Kakak tau sendiri badanku kecil. Apa lagi dia iket tanganku ke atas," adu Sila dengan isakan kecil yang dibuat buat oleh perempuan itu. Matanya melirik ke arah Zacky yang melotot terkejut dengan ucapannya barusan.
'Lo nggak akan bisa kabur lagi sekarang, Om. Udah cukup gue bersabar karena tingkah lo. Saatnya gue egois sekarang.' batin Sila.
Bodoh amat dengan urusan tunangan pria itu. Setelah berbincang dengan Yuan beberapa waktu lalu, Sila tersadar akan masa depan dirinya dan anak di dalam kandungannya. Lebih lagi ia juga sempat mendapat wejangan dari kakek neneknya ketika Sila menanyakan kebenaran mengenai statusnya. Kali ini ia bertindak egois demi anaknya.
"What! Diperkosa?" tanya Zuma dan mami Dilla secara bersamaan. Lalu mereka berdua menatap ke arah Zacky dengan tatapan membunuh.
"Rizacky Ardian Rayyansyah!" bukan Zuma yang berteriak, melainkan mami Dilla dengan tatapannya yang siap mengkoyak anaknya sendiri.