Our Secrets

Our Secrets
Ch. 41. Cewek Barbar



Bab. 41


"Terus, maunya Om gimana? Menjadikan saya simpanan? Begitu?" cecar Sila setelah mendengar cerita dari Zacky mengenai hubungannya dengan seorang wanita bernama Tusha.


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Zacky juga bingung sendiri. Apakah dirinya sekejam itu menjadikan Sila sebagai simpanan nya? Sedangkan karena ulah nya lah masa depan gadis di hadapannya ini rusak.


"Tentu saja tidak," jawab Zacky.


"Lalu?" cecar Sila. Ia akan meladeni pria yang sepertinya belum memikirkan secara matang mengenai apa yang dia lakukan saat ini.


Pria itu kemudian menyandarkan punggung nya di sandaran kursi. Sila melihat kalau Zacky juga berada dalam posisi yang lumayan sulit.


"Sudahlah, Om ... nggak perlu dipaksa kalau emang nggak bisa. Lagi pula kita nggak saling kenal sebelumnya. Juga ini murni kecelakaan. So, saya nggak apa-apa, kok," ujar Sila yang tidak mau ambil pusing.


"Terus bagaimana hidup kamu selanjutnya?" tanya Zacky. "Hamil tanpa mempunyai suami, pasti berat dan akan buruk di pandangan masyarakat," jelas Zacky lagi.


Sila menaikkan bahunya.


"Sama aja, Om. Menikah sekarang pun tetap aja. Mereka akan memandangku sebagai gadis nakal, karena belum ada delapan bulan menikah sudah melahirkan. Karena usia kandunganku saat ini memasuki bulan ketiga kata dokter," ungkap Sila. Membuat Zacky terkejut. "Perasaan kejadian malam itu baru dua bulan yang lalu, ya? Tapi kok usia kandungannya sudah masuk bulan tiga?" gumam Sila yang tidak mengerti bagaimana cara menghitung usia kandungan.


Diam-diam Zacky tersenyum tipis melihat kepolosan gadis di hadapannya saat ini.


"Mereka hitungnya dari terakhir kamu datang bulan," sahut Zacky menjelaskan kebingungan Sila.


"Oh ..."


"Kamu maunya gimana?" Zacky ingin mendengar pendapat gadis ini. Karena di sini Sila lah yang paling dirugikan. Baik dari segi reputasinya maupun keadaannya nanti.


"Boleh saya ngomongnya biasa aja? Nggak usah formal banget?" tanya Sila sebelum mengungkapkan pendapatnya.


'Dari kemarin-kemarin juga udah nggak sopan.' batin Zacky yang kemudian menganggukkan kepala.


"Aku di sini hidup sendiri sih, Om. Nggak ada sanak saudara sama sekali. Jadi kalaupun aku hamil tanpa menikah, nggak masalah buatku. Asal kakek dan nenek yang ada di Surabaya nggak denger aja kalau cucunya begini," jelas Sila mulai memberitahukan keadaannya. "Cuma yang jadi masalahnya tuh, kalau anak ini lahir, Om. Dia nggak salah. Kita juga nggak salah. Aku takut kalau dia lahir terus nanyain bapaknya mulu, kan aku yang pusing jawabnya gimana. Kalau kukasih tau bapaknya adalah Om, sedangkan Om sudah menikah dengan tunangan Om, yang ada saya disalahin. Dicap sebagai pelakor atau apalah itu sebutannya saya nggak peduli. Masalahnya tuh mentalnya dia gimana?"


Zacky tidak menyangka kalau pemikiran Sila, gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu begitu dewasa.


"Kita nikah kalau gitu," sahut Zacky cepat.


Plak!


Sudah lama menahan diri agar tidak memukul pria di depannya ini, karena sudah mendapat ijin untuk bersikap biasa, Sila pun kelepasan memukul mulut Zacky yang bicara tanpa dipikir. Membuat pria itu tersentak kaget.


"Ingat tunangan, Om!" geram Sila.


Sesama perempuan, ia tidak mungkin merusak kebahagiaan perempuan lain. Asal mereka tidak menyenggol hidupnya terlebih dulu.


"Bisa-bisanya ngomong tanpa dipikir dulu," omel Sila seraya memasukkan camilan yang sempat ia tolak tadi ke dalam mulutnya.


'Astaga ... tangannya ringan banget kayak mami.' ucap Zacky yang hanya bisa membatin sedari tadi.


"Terus mau kamu gimana? Dinikahin nggak mau, nggak dinikahin, kepikiran nasib anak," ucap Zacky yang terlihat sangat pasrah menghadapi gadis di depannya.


Padahal Zacky terkenal sebagai pengusaha muda yang paling ahli dalam hal negosiasi. Namun pada kenyataannya, ia tidak bisa menangani Sila. Seorang gadis muda dengan tampang polos seperti itu.