
~¤¤º♡♡♡º¤¤~
Samar samar dari sudut pandang yang jauh riri masih bisa mengenali sosok lelaki berkemeja biru dengan celana hitamnya yang dominan sebagai pegawai resmi di bidang kedokteran. Lelaki itu menenteng jas putihnya di lengan tangannya seperti tengah menunggu seseorang.
Di kafe berjalan yang letaknya tak jauh dari kawasan rumah sakit itu mereka bertemu.
"Bagaimana dengan hasil cekup tiara minggu lalu juna"
Ucap riri menanyakan sesuatu
"Begitu sayangnya kau terhadap tiara sampai memperhatikan dengan sangat perkembangan penyakitnya, sampai rena yang jelas ibunya pun bahkan tak tau hal ini. Ayolah ri, jangan karna tiara adalah anak dari adipati seseorang yang kamu cintai terus kamu sepeduli ini."
Tegas lelaki seorang dokter yang ada di hadapannya.
Sambil menikmati segelas jus dan beberapa sajian makan siang riri mengambil topik pembicaraannya dengan membahas tiara. Malaikat kecil yang menggemaskan itu.
" hubungan kita sudah benar benar berahir juna. Mustahil untuku bisa bersama nya, dulu aku sempat mengira bahwa tiara adalah jalan satu satunya agar aku selalu dekat dengan adipati. Tapi aku sadar tidak mungkin aku menghianati rena. Kau tau bagiku rena bukan hanya sekedar seorang sahabat. Bahkan dia lebih dari sodara. Mereka segalanya untuku juna. Aku tidak mau kehilangannya."
Juna tau betul perjalanan mereka. Karna juna adalah salah satu teman dekat adipati. Tempat dia mencurahkan segala problema percintaannya. Karena juna sempat menaruh hati pada riri beberapa waktu yang lalu. Meski cintanya tak tersampaikan namun juna tetap menjadi temannya yang terbaik.
"Lalu bagaimana dengan kamu"
"It's oke hubungan itu hanya masa lalu yang terpenting saat ini adalah tiara. Aku tidak mau sampai rena tau tentang penyakit itu"
" ri.. kamu tidak bisakah sedikit saja bisa mencintaiku, mau sampai kapan kamu berada di dalam bayangan adi"
Juna meremas tangannya seketika. Membuat riri bingung apa yang harus ia jawab dari perasaan juna. Dia memang baik dan selalu mengerti keadaannya namun hati riri memang sudah benar benar tertutup pada semuanya.
" maaf jun, saat ini bukanlah hal yang tepat untuk aku memikirkan perasaan ku sendiri. Ada yang lebih penting dari aku. Ialah tiara jun . Gadis sekecil itu tidak seharusnya menerima semua itu "
Riri membalas genggaman tangan juna.
"Iya. Aku akan sebisa mungkin untuk menyembuhkan tiara aku janji"
Pada ahirnya juna memilih untuk fokus pada kesembuhan tiara.
~¤¤º♡♡♡º¤¤~
"Halo ri, tiara pingsan di kamarnya"!!
Suara panik itu terdengar dengan jelas dari balik telpon. Riri bisa membayangkan betapa paniknya adi melihat putri kecilnya tak sadarkan diri.
Meski sebelumnya tiara sering pingsan, adipati tak pernah tau kondisi tiara.
Riri merasa bersalah karena telah merahasiakan tentang penyakit tiara selama ini. Namun riri belum bisa memberitahu adi juga rena karna tidak ingin membuat mereka khawatir soal tiara.