
Bab. 46
Zacky pulang dari rumah Rio hampir pukul tujuh malam. Beruntung tidak ada panggilan dari Arsya, di mana itu artinya kucing kecilnya tidak merengek meminta keluar atau memberontak sedikit pun.
Sebelumnya di dalam apartemen baru tersebut sudah di isi dengan berbagai kebutuhan serta bahan masakan yang tersimpan di kemari pendingin. Zacky juga sudah meninggalkan sebuah pesan kepada Sila sebelum keluar tadi.
"Huft! Tau begini mending aku pikirkan sendiri solusinya kalau memang hasilnya sama saja. Malah mukaku yang bonyok semua," gerutu Zacky seraya mengemudikan mobilnya menuju apartemen yang mulai saat ini akan ditempati oleh Sila.
Sementara itu di dalam apartemen, perut Sila yang mulai terasa lapar, dengan malas gadis itu membuka mata.
Betapa terkejutnya Sila di saat ia terbangun dan mendapati kalau dirinya tidak sedang berada di kamarnya. Lebih lagi kamar yang sekarang ia tempati tampak luas dan mewah.
Sila mengedarkan pandangannya ke arah sekitar secara pelan ia pun juga merubah posisinya menjadi duduk.
Tidur terlalu lama membuat leher nya terasa sakit. Gadis yang tengah hamil muda tersebut melakukan peregangan sebentar sebelum benar-benar beranjak dari tempat tidur yang luas. Tidak seperti tempat tidurnya yang mungkin masih di bagi tiga dari ini.
"Surat?" gumam Sila ketika melihat sebuah kertas yang ada di atas nakas. Sepertinya memang diperuntukkan untuk dirinya.
"Jangan keluar apartemen satu langkah pun, sebelum aku pulang. Kalau mau makan, tinggal masak di dapur." begitulah isi pesan yang tertulis di kertas tersebut.
Sila mencoba mengingat, perasaan ia terakhir kali terlelap di dalam mobil om setengah mateng yang menculiknya. Dan pria itu sempat berkata kalau akan membawa dirinya ke sebuah apartemen.
Interior apartemen ini cukup membuat Sila merasa nyaman. Karena tidak terlalu gelap juga tidak terlalu banyak ornamen yang mengganggu. Cukup simpel namun juga sangat nyaman. Lebih lagi warna di dinding merupakan warna kesukaannya, peach yang dipadukan dengan biru. Cukup menyegarkan mata dan membuatnya betah.
"Ck! Kenapa gue malah mikir nyaman kalau tinggal di sini, sih!" rutuknya mengenai pikirannya sendiri yang malah membayangkan akan sangat menyenangkan jika bisa tinggal di sini lebih lama.
"Apa gue tanya aja sewanya pertahun berapa, ya? Atau parahnya ya perbulan deh. Kan harus menghemat juga buat persiapan launching nya dia," ujar Sila sembari mengusap perutnya sendiri.
Sila sama seperti gadis pada umumnya. Hamil di usia muda sudah jelas membuatnya stres dan sangat terpuruk. Lebih lagi ia tidak punya teman dekat laki-laki. Sehingga ia membayangkan betapa sulitnya dirinya nanti.
Namun, sekali lagi Sila berpikir lebih rasional. Semua ini sudah di atur dan percuma saja kalau disesali. Orang sudah ada janin di dalam kandungannya dan itu bukanlah salah janin tersebut ada di sana.
"Apa seperti ini rasanya punya Om sugar, ya?" gumam Sila terkekeh. Membayangkan kalau semua ini diberikan kepada dirinya, lalu ia masih dikasih uang bulanan. Ah ... betapa menyenangkan hal tersebut. Batin Sila.
Tidak mau terlena dan makin terperangkap oleh pikiran sesatnya, Sila memutuskan untuk menjelajah beberapa ruang. Sekalian ingin menghafal agar tidak tersesat nantinya. Karena apartemennya sangat luas dan mungkin lima kali lipat dari kontrakan yang dia tempati. Belum lagi luas kamarnya.
"Ternyata dia orang kaya, ya," gumam Sila yang masih belum menyadari betapa kayanya om sugarnya tersebut.
Bahkan, kalau mungkin Sila meminta belikan rumah sebagai penebusan rasa bersalah pria itu, sudah jelas Zacky akan langsung tandatangan detik itu juga tanpa harus berpikir ulang.