
Bab. 50
"Kenapa masih di sini?" tanya Sila menatap penuh selidik di kala melihat Zacky yang masih berada di apartemen. Karena tadi pria itu sempat berkata kalau apartemen ini untuk dirinya sementara waktu.
Zacky yang tengah menonton acara olahraga, sedangkan saat ini jarum jam sudah menunjuk ke angka sepuluh. Pria itu pun menoleh ke arah belakang. Di mana Sila sudah berganti dengan pakaian yang lebih aman untuk mata Zacky. Tidak terlalu terbuka seperti sebelumnya.
"Mau tidur sini," jawab Zacky membuat mata Sila melotot. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Nggak boleh!" tolak Sila mentah-mentah. "Kalau Om masih ngeyel, aku pulang saja," putus Sila tidak bisa diganggu gugat.
Mana mungkin mereka tinggal bersama. Dengan berduaan sama pria itu saja membuat Sila selalu bersikap was-was di balik sikap ketusnya selama ini. Apa lagi kalau sampai mereka tinggal bersama. Sama saja dengan dirinya menyerahkan diri ke serigala.
Helaan napas kasar terdengar dari Zacky. Sepertinya pria itu harus menurut untuk yang ke sekian kalinya.
"Om yang pergi, atau aku?" ancam Sila yang tak sabaran, juga ingin segera tidur malam ini. Hari ini cukup melelahkan baginya. Bukan hanya fisiknya saja, tetapi juga pikiran perempuan itu.
Tidak mau berdebat karena ia sendiri juga lelah, akhirnya Zacky mengalah dan memilih pergi. Tidak lupa pria itu juga meninggalkan nomor teleponnya.
"Kalau ada apa-apa, hubungi aku," ujar Zacky setelah memberikan kartu namanya.
Sila menerima seraya mengangguk tanpa protes. Tidak dihubungi terlebih dulu juga pasti om setengah mateng itu akan mengiriminya pesan. Apa lagi barusan ia baru menerima pesan dari Yuan.
Sahabatnya itu menceritakan apa yang terjadi tadi sore di rumahnya dan menceritakan siapa sebenarnya Zacky. Terkejut? Tentu saja Sila terkejut. Tidak menyangka jika pria itu merupakan adiknya pak Rio.
***
Satu minggu sudah Sila tinggal di apartemen milik Zacky. Dan pria itu setiap harinya selalu datang dengan membawa makanan serta camilan.
Dikurung seperti ini, membuat Sila yang biasanya sering menghabiskan waktu di luar dan bekerja di cafe, merasa sangat bosan. Karena semenjak bertemu dan tertangkap oleh om setengah mateng tersebut, dia benar-benar membatasi pergerakan Sila.
"Boleh gue laporkan nggak si, Yu?" tanya Sila pada seseorang yang saat ini sedang berbicara dengan dirinya via telepon.
'Jangan ngadi-ngadi deh, lo. Biar gimanapun dia itu adik ipar gue. Ingat, dia juga bapak dari anak lo. Kalau terjadi sesuatu padanya, lo sendiri yang nyesel. Apa lagi anak lo nanti,' ingat Yuan di seberang sana.
Sila meremas sayuran yang ada di depannya.
"Lo nggak pernah rasain di posisi gue emang. Di kurung kayak gini dan cuma berada di apartemen, udah kek burung aja gue. Masih mending jadi kucing. Di ajak jalan-jalan keliling komplek," balas Sila dengan nada kesal.
Jangan tanyakan lagi bagaimana kondisi sayuran yang ada di depan Sila. Sudah dapat dikonfirmasi dan di pastikan bahwa sayuran itu tidak berbentuk sama sekali. Padahal rencana perempuan itu mau membuat capcay.
"Itu anj*ng, pe'ak!" sahut Yuan yang tak kalah gemas dengan sikap Sila.
"Ck! Sama aja lah. Sama-sama hewan berkaki empat dan berbulu," balas Sila yang tetap tidak mau mengalah.