
Bab. 74
Sila merasa canggung sekali berada di dalam keluarga yang memiliki banyak anggotanya seperti sekarang ini. Di tambah lagi sahabatnya, Yuan, pagi ini juga ikut sarapan di rumah mertuanya. Bukan bukan, lebih tepatnya mertua mereka. Karena mertua Yuan juga mertuanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya mami Dilla ketika melihat Sila tampak kurang nyaman.
Pertanyaan mami Dilla mengundang perhatian semua orang yang tengah sarapan di ruang itu. Tampak anggota keluarga Rayyansyah semua berkumpul tanpa terkecuali.
Sedangkan Sila yang ditatap seperti itu, merasa semakin canggung. Senyuman tipis serta gelengan kepala lah yang bisa Sila berikan kepada mama mertuanya.
"Enggak, Mi. Cuma kurang selera makan aja," bohongnya.
Padahal Sila sedang menahan rasa lapar, namun ia juga harus menjaga sikapnya. Ia teringat Yuan pernah berkata kalau mertuanya sangat kaya dan orang terpandang. Itu artinya sekarang ini ia sedang sarapan dengan orang-orang tersebut. Membuatnya semakin menciut saja didepan mereka. Tidak bisa bebas dalam bersikap. Harus bermain lembut nan anggun.
Sementara sahabatnya bertanya melalui tatapan perempuan itu. Lagi, Sila hanya menggeleng kepala samar sebagai jawabannya.
"Apa makanannya nggak enak, Sayang? Atau mau menu yang lain? Biar Mami bilang ke Bibi biar masakin lagi buat jamu," tawar mami Dilla begitu penuh perhatian.
Sangat berbeda dengan seseorang yang justru terlihat begitu menikmati makanannya. Melihat itu muncul lah ide jahil di kepala Sila. Ia ingin mengerjai Zacky, karena sudah membawanya ke dalam keluarga seperti mereka. Terlebih lagi pria itu malah bersikap cuek dan seolah abai kepadanya.
Sila mengangguk. Bukan Sila namanya jika tidak merugikan suaminya.
Sila memasang muka memohon, serta mengerjap pelan. Matanya pun mulai berair, seperti anak kecil yang jika meminta sesuatu tidak dituruti. Padahal Zacky belum menjawabnya.
Yuan menahan tawanya melihat akting sahabatnya itu begitu penuh penjiwaan. Sedangkan Zacky masih terbatuk karena tersedak makanannya.
Zuma yang berada di samping Zacky, merasa kasihan dengan saudara kembarnya yang tersedak lalu memberikan minumannya ke arah Zacky.
"Minum dulu," ucap Zuma. Wanita itu menoleh ke arah kakak ipar barunya sembari mengedipkan sebelah mata. Memuji sikap Sila.
"Loh, udah nikah kok manggil om? Ubah dong, Sayang. Kayak Yuan, manggil mas atau sayang atau apalah itu. Yang penting jangan om," protes mami Dilla membuat Sila tersenyum kaku.
Lidahnya sangat kelu sebenarnya memanggil Zacky dengan apa yang disarankan barusan kepadanya. Namun, demi membuat pria itu kesal dan membayar atas sikapnya, maka Sila rela melemaskan sedikit lidahnya.
"Daddy mau nggak, buatin Mimi nasi goreng ci ... put?" pinta Sila menatap dalam ke arah Zacky sembari mengerjap manja. Serta bibirnya yang ditekuk ke bawah. Seolah bersiap menangis jikalau sampai ditolak.
Sumpah, ingin rasanya Sila muntah sekarang juga di saat dirinya berkata dengan nada begitu menggelikan. Apa lagi ekspresinya yang biasa ia pakai ke mami sugarnya, Melani.
Bukannya mereda, Zacky justru tersedak kembali dan kali ini lebih parah dari sebelumnya. Bisa-bisanya Sila bersikap begitu menggemaskan secara mendadak seperti ini. Terlebih lagi di depan keluarganya.
Sementara anggota keluarganya yang lain berusaha sebaik mungkin untuk tidak tertawa, demi menghargai Sila. Pun termasuk mami Dilla yang malah teringat akan sikap manjanya dulu sewaktu hamil Zacky dan Zuma.