
you are my living world that never comes true
**kamu adalah dunia hayalku yang tak pernah menjadi nyata.
andai orang yang saat ini bersamamu itu adalah aku.
dan andaikan kita bertemu satu bulan yang lalu, mungkin kisahnya akan sangat berbeda.
terkadang aku menjadi sangat egois karena ingin merebutmu darinya, menjadikanmu miliku seorang diri.
dan sungguh begitu naif nya aku yg selalu merasa..
akulah yang layak bersanding dengan mu.
akulah yang pantas untukmu.
namun di satu sisi, aku tak cukup nyali untuk melakukan semua itu.
bahkan untuk menentangnya pun aku tidak bisa.
bodohnya aku yang ceroboh karna telah menaruh hati padamu, hingga aku benar benar terpikat oleh sosok dirimu.
maafkan aku yg telah mencintaimu.
maafkan aku yg telah mencintai suamimu dan ayah dari calon anakmu***.
prempuan itu mematikan ponselnya dan mulai mengurungkan niatnya untuk mengirimkan sebuah pesan pada adipati. seseorang yang akan ia tuju.
~¤º♡♡♡º¤~
masih terngiang saat rena memaki seseorang dan mengatainya seorang pelakor saat dia melihat sebuah adegan filem. di mana di dalamnya menceritakan tentang seorang suami yg tega menghianati istrinya hanya untuk orang ke tiga.
raut wajah yg penuh amarah ia tampakan dengan melempar sebuah bantal ke layar tivi yg ad di hadapannya.
"apa-apaan sih ren, kalo tivi gue jatoh gimana"
ketus wanita yg tengah duduk di sampingnya itu.
"gue kesel liat yang beginian ri"
"kalo kesel gak usah liat sinetron, dasar lu korban sinetron"
riri kembali membetulkan posisi duduknya dan mulai menatap televisi lagi.
kata kata itu seakan menghujamnya bertubi tubi.
walaupun begitu riri mencoba bersikap setenang mungkin agar rena tak pernah mengira ada apa apa di antara riri dan suaminya itu.
dia tidak merebutnya dari tangan tena. namun adipati lah yg memutuskan rela untuk menikahinya demi riri. Karna pada dasarnya rena adalah satu satunya sahabat yg dia punya. persahabatan nya sejak kecil membuat dia kuat akan segala guncangan yg mencoba merobohkan hubungan mereka.
~¤º♡♡♡º¤~
sepi
sunyi
rumah seluas itu hanya membuat nya merasa kesepian saat rena tak lagi ada di rumahnya. ia tak pernah menyangka kalau dirinya akan terpisahkan oleh sebuah pernikahan. rena telah menikah dengan seseorang pilihannya.
riri mencoba untuk memekakkan mata, namun kata kata pelakor yang rena lontarkan seakan akan tertuju padanya.
ia terbangun dari posisi tidurnya dan mulai menatap sebuah cermin di kamarnya.
tuhan telah memberikannya kelebihan fisik yang indah di pandang mata.
kulit putih bersihnya yang bersinar dengan kedua pipinya yang merona tanpa harus ia tambahkan blush on di wajahnya.
"andai semua pria bisa mencintaiku tanpa melihat adanya wajah ini"
grutu wanita itu mengeluh.
adipati kau sebenarnya ingin memperjuangkan ku atau ingin menyiksaku dengan perasaanmu.
pikiran itu entah mengapa melintas dalam benaknya, yang membuat riri sangat bimbang antara menjauh atau menunggu sampai kapan drama itu berakhir.
ia menenggak sebutir pil tidur di saat insomnia. dan segera dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
esok harinya ketika terbangun.
jendela dengan tirai putih tembus pandang itu begitu memancarkan cahaya matahari tepat di wajahnya. rupanya ia tertidur hingga siang hari.
ketika mulai mengecek ponsel, tak ada satupun pesan yg masuk satupun di ponselnya. ia melupakan sesuatu, kalau saat itu sim card nya benar benar sudah di buang. karna dirinya telah memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi.
lalu dia bergegas mandi, memakai wangi wangian di sekujur tubuhnya, tak lupa juga ia merias sedikit wajahnya, lalu pergi untuk bekerja.
wanita itu mengecek ponselnya lagi. hanya ada pesan operator yg memenuhi ponselnya karna lupa memberitahu ripaL dan teman teman lainnya tentang nomor baru dia.
sekilas ia merasakan sangat kehilangan karna sebuah pesan ucapan selamat pagi kini tiada lagi.
riri akan segera mengirim pesan ke semua kontak kecuali adipati.
to : All
save nomorku yang baru ya
\_Riri
tak peduli mereka membalasnya atau tidak. beruntung ia selalu menyimpannya di memory ponsel. meski simcard di buang. kontak nya tidak akan hilang.
~¤º♡♡♡º¤~
jalanan yang begitu ramai di penuhi lalu lalang para pejalan kaki. riri sengaja memesan kursi di dekat jendela kafe. agar ia lebih mudah melihat kedatangan sahabatnya itu. karna rena memintanya untuk bertemu siang ini namun sudah 10 menit dia tak juga datang.
secangkir kopi pertamanya telah siap di suguhkan oleh seorang pelayan kafe dengan ramah.
pikirannya kembali ke beberapa bulan yang lalu bahwa dia, rena, dan adi masih sama sama nongkrong di kafe ini dengan menghabiskan beberapa cangkir kopi.
dia yang sedari dulu telah menaruh hati pada adipati dalam sekejap kini masanya telah berubah. seperti baru kemarin ia dengan leluasa menggandeng dan memeluknya tanpa canggung. kini dia sudah menjadi milik sahabatnya, tempat dia curhat, tempat ia mengutarakan segala sesuatu baik pribadi maupun cinta.
dan baru sebulan yg lalu dia mengutarakan cintanya namun saat ini harapan nya bertepuk sebelah tangan.
lamunannya kembali ke masa kini. di mana saat ini rena pun tak kunjung tiba. lalu ia segera merapihkan dres dan rambutnya. matanya mencari cari sahabatnya di keramaian orang luar sana. sepertinya rena sedang berjalan menuju arahnya. ia segera pasang wajaj seanggun mungkin agar adi tidak ilfil melihatnya. setidaknya adi akan berfikir bahwa dia orang yang selalu mengutamakan kerapihan penampilan. karna adi adalah pribadi yang sangat detail dengan pakaian.
"halo... nunggu lama ri?"
ucap seseorang di hadapannya dan segera mereka duduk
pandangan riri masih tertuju ke arah pintu masuk, berharap ada seseorang yg datang lagi selain rena
"ren lo sendiri.. adi kemana"
ucap riri.
"adi tadi pamit mau ada pertemuan penting sama produser katanya"
"wah... rilis juga lagunya"
jawabnya penuh antusiasme.
"iya. sebenarnya gue gak suka sih adi main band, tapi yasudahlah"
grutu wanita itu seraya mengeluh.
"ehh.. bagus lah malahan. suami lo berkarir di dunia musik, terkenal dan banyak fans, apalagi yg lo keluhin"
"riri dari awal gue gak suka sama dia, kalo bukan karna gue hamil gak bakal gue nikah sama dia. dia tuh baik, jadi gak mungkin gue sia siain dia"
wanita itu menjelaskan dengan nada sangat kesal.
"seriusan lo hamil ren, tapi itu anaknya adi kan"
riri sangat terkejut mendengarnya. bahwa wanita yang sedang duduk di hadapannya itu adalah sosok wanita calon ibu untuk bayi yg ada di dalam perut mungilnya. namun pikirannya masih menolak kalau bayi yang ada di kandungan sahabatnya itu adalah anak dari pria yang selama ini ia cintai.
dan itu artinya yg melakukan hubungan intim itu adalah dia.
riri menepis fikirannya tentang itu
"apa apaan sih ri, ya jelas lah kalau bayi itu anak adipati pasti yang melakukannya pun dia, toh mereka sudah menikah harusnya gak ada masalah kan"
riri menggruty dalam hati
"oh ya ri, gue gak bisa lama kayaknya di sini. sebentar lagi adi jemput gue mau ke acara sodara. gue cuma minta saran dari lo, adi belum tau kehamilan gue selama ini. gue salah gak sih menutup nutupi ini dari dia?"
"loh bukannya itu anak adi. kenapa harus lo tutupi. lambat laun kan perut loh akan membesar pasti tau juga, lagian ya kehamilan itu adalah anugerah terindah. masa lo gak mau mengikutinya malah lo sembunyiin"
sebetulnya ada kecurigaan di mata riri. namun riri tetap bergikir positif tentang rena. karna tidak mungkin rena menghianati atau ingin coba menjebak adi dalam pernikahannya. mungkin dia hanya bingung harus bagaimana dia membicarakan ini pada adi karna selama ini rena menutupinya.
Rena membasahi mukanya di sebuah wastafel kamar mandi. Dengan tergapa gapa dia berusaha meraih bahu riri yg berdiri di sebelahnya.
"Ya ampun ren mukamu pucat. Kita ke rumah sakit dekat sini ya"
Riri panik seketika melihat sahabatnya dalam kondisi lemah tak berdaya itu.
Riri mencoba menawarkan nya untuk pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisinya sekarang ini. Setidaknya dokter memberikan obat agar rena bisa beristirahat.
Merintis dan membangun sebuah perusahaan penerbitan memanglah tidak mudah. Untuk sampai di tahap ini pun sejauh ini banyak rintangan yg menghujam. Rasa lelah dan letih mereka bangun bersama. Tak heran kalau rena sampai lupa menjaga fisiknya setelah menikah 3 bulan yang lalu. Pekerjaan nya fikirannya bertambah 2x lipat dari sebelumnya. Riri mengenalnya adalah sosok wanita yang tangguh. Seberat apapun yg di kerjakannya ia selesaikan dengan baik sebab itu perusahaan penerbitan milik riri berhasil sampai sejauh ini. Namun setelah menikah rena tanpak lelah dengan semua itu. Apakah pernikahan tidak bisa membebaskan dia seperti masa lajangnya dulu.
Riri sempat berfikir bahwa menikah hanyalah membuat sahabatnya itu terkurung dalam sebuah kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak bisa nongkrong malam di kafe, jalan jalan keliling tempat tempat seru. Atau hanya sekedar minum teh menikmati pemandangan seja di sore hari. Dia rasa apartement nya cukup indah jika di gunakan hanya untuk melihat matahari terbenam dari balkon kamarnya. Namun lagi lagi rena tak pernah datang menemui dia walau hanya beberapa menit saja. Padahal jarak rumah rena tak jauh dari apartement riri. Ia sadar bahwa selama ini rena hanya bisa menjumpainya pada saat bekerja di kantor atau ada urusan penting lain mengenai perusahaan yg sedang mereka rintis. Sesekali ia belokan perjalanan nya untuk mengurangi suatu tempat. Dan melepaskan rasa penatnya selama ini
"Bagaimana keadaanmu ren"
Ucap riri dengan penuh kekawatiran
Rena hanya membalasnya dengan senyuman lepas itu. Entah apa yg di maksud oleh senyum yang merekah di bibirnya. Riri pun bertanya tanya dalam hati.
" rena sedang hamil 2 minggu "
Suara itu terdengar dari seseorang yg mendekatinya dri dari balik tirai rumah sakit. Suara yg tak asing bagi riri itu menggema di langit langit rumah sakit.