
Bab. 36
Dengan segera Sila menuju ke tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, ia melupakan sesuatu dan membuat gadis iru merutuki kecerobohan yang tidak memudar.
"Ih ... kenapa juga gue tadi berangkat nya bareng Melani!" kesalnya seraya menghentakkan kaki ke paving.
Gadis itu celingukan. Berpikir bagaimana ia akan pulang dengan cara yang paling cepat. Menghubungi Bagas pun juga tidak mungkin ia lakukan. Karena Sila tidak ingin membuat pria itu mengartikan lain mengenai kedekatan mereka akhir-akhir ini.
Itu karena Sila sedang gabut dan tidak bisa sering berbalas chat dengan sahabatnya. Sebab mereka juga tengah sibuk. Di tambah lagi ponselnya ketinggalan di meja tempatnya duduk tadi.
"Bodoh amat ah! Pokoknya usaha dulu aja. Gue musti pergi dari sini," ujar Sila yang kemudian berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah sedikit susah.
Karena dia tidak bisa melangkah lebar, dikarenakan kain jarik yang melilitnya dengan begitu rapat. Sebab kain itu memang bertujuan untuk membuat sang pengguna agar terlihat lebih anggun. Baik dalam penampilan maupun pergerakannya. Dan hal ini sangat mengganggu Sila.
"Loh, kenapa udah pulang, Mbak? Bukanya Pak Rio sedang ngadain pesta makan-makan di dalam?" tanya seorang satpam yang melihat Sila berlari kecil menuju arah gerbang.
Gadis yang dipenuhi keringat dingin di wajahnya itu menggelengkan kepala serta melambaikan tangan yang tengah memegang clutch bag di tangannya.
"Enggak, Pak. Saya nggak ikut. Pusing." jawab Sila asal dengan napas terengah. Karena merasa capek sekali berjalan cepat dari aula menuju depan sekolah. Belum lagi jalannya yang serba terbatas.
Sila berhenti sebentar di pos satpam. Kebetulan di sana ada kursi plastik. Tanpa ijin terlebih dulu Sila duduk, menormalkan napasnya lebih dulu.
Tindakan Sila yang seperti itu membuat pak satpam menatapnya penuh tanya.
"Kenapa ngos-ngosan kayak gitu, Mbak. Jadi luntur itu bedak nya," ujar pak satpam membuat Sila langsung meraba wajahnya.
"Kebalik, Mbak," ingat pak satpam.
"Udah, Pak. Sama aja. Oh, ya, Pak. Bisa tolongin saya, nggak? Tolong pesankan taxi online, Pak. Ponsel saya ketinggalan di dalam tadi. Keburu keluar soalnya," punya Sila kepada satpam tersebut.
Lagi dan lagi satpam yang menjaga gerbang itu menatap Sila dengan tatapan penuh pertanyaan di matanya.
Sila mengibaskan tangannya yang memegang clutch bag di depan pak satpam.
"Buru pesanin, Pak. Saya yang bayar kok nanti. Ini saya ada duit di dalam tas ini. Kayak nggak percaya banget Bapak sama saya," desak Sila karena satpam itu tidak kunjung memesankan taxi online untuknya.
"Ya bukannya gitu, Mbak. Bukan masalah uangnya. Tapi ponsel Mbak Sila ketinggalan di dalam, udah tau, udah sadar kalau ketinggalan. Tapi kenapa malah lari ke sini? Kok nggak di ambil lagi di tempat Mbak Sila meninggalkan ponselnya?" cecar pak satpam yang merasa aneh dengan siswi satu ini.
"Kalau saya bisa, udah saya ambil sendiri, Pak!" geram Sila. "Masalahnya di dalam itu ada hantu nya. Makanya saya milih kabur aja," imbuh Sila yang semakin asal.
Tidak mau berdebat yang tak menemui ujung, pak satpam segera memesankan taxi online untuk siswi yang sebentar lagi sudah tidak bersekolah di sini.
Sementara Sila mengatur napasnya sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Dan berapa terkejutnya ia ketika melihat sosok yang sangat ingin ia hindari justru berjalan ke arahnya.
"Dia beneran kayak hantu aja. Muncul di mana-mana," gumam Sila berdiri. Tidak lupa memberi uang satu lembar berwarna merah kepada pak satpam.
"Nggak jadi, Pak. Ini buat ganti taxi nanti," ujar Sila beranjak dari sana dan berusaha kabur.