
Bab. 21
"Aku akan menikahimu," ucap Zacky dengan penuh yakin.
Dia juga tidak mungkin mengabaikan gadis ini setelah apa yang ia lakukan. Di tambah lagi ia juga belum tahu pasti, akibat perbuatan mereka beberapa hari yang lalu membuahkan hasil atau tidak.
Meski sempat terkejut dengan ucapan pria di depannya, kini Sila malah tersenyum miris.
"Udah deh, Om. Nggak usah di bawa ke hati. Aku nggak apa-apa dan tenang dan, aku nggak akan menuntut apapun pada Om. Karena aku masih sama waras. Jadi, nggak usah ngadi-ngadi mau menikahi segala macam. Kenal saja tidak. Mana bisa jalan dengan satu tujuan. Ck!" kekeh Sila.
Menikah? Itu hal yang belum pernah Sila pikirkan sama sekali. Karena ia memiliki banyak rencana yang akan ia lakukan sebelum benar-benar melepas masa lajangnya.
Karena menurutnya tidak ada yang dibicarakan lagi, Sila berdiri.
"Aku anggap tidak terjadi apa-apa di antara kita. Jadi Om jangan lagi menggangguku dengan muncul di hadapanku seperti ini," ingat Sila yang kemudian beranjak dari tempatnya. Namun, dengan segera Zacky menahan tangannya.
"Gimana kalau kamu hamil?"
Sebuah fakta yang tidak ingin terjadi dan yang paling ingin Zacky hindari. Karena kalau gadis ini tidak hamil, maka ia akan lebih mudah menjalankan rencana cadangannya. Meskipun harus bersikap egois sedikit.
Deg!
Ini juga yang sangat tidak ingin Sila alami. Ia masih sangat muda. Belum mempunyai pekerjaan tetap. Bagaimana kalau dirinya hamil, lalu dengan apa ia menghidupi anaknya nanti. Kembali ke keluarga? Itu jelas tidak mungkin. Ia tidak ingin membuat kecewa kakek dan neneknya.
"Tenang aja. Aku nggak akan hamil kok," yakin Sila.
Gadis itu melepas tangan Zacky yang mencekalnya lalu pergi begitu saja tanpa menuntaskan pembicaraan mereka. Karena bagi Sila, semuanya sudah jelas.
"Ck! Kayak nggak punya harga, gue," decak Zacky merasa kalau harga dirinya sebagai tuan muda kedua dalam keluarga Rayyansyah, tidak ada artinya di mata Sila.
Sila keluar dari cafe tersebut dan kembali ke depan sekolahnya. Melihat ke arah sekitar, mencari keberadaan motornya yang tadi sempat di bawa seseorang.
"Dek!" panggil seseorang ketika Sila celingukan mencari motor yang tak kunjung ia lihat.
Datang seseorang dari arah samping kanan. Orang itu mengendarai motor milik Sila dengan kecepatan sedang. Karena kawasan sekolah, sehingga keadaan masih ramai.
Sila memicingkan mata, memasang wajah tidak suka nya kepada pria itu.
"Gue bukan adik lo!" ketus Sila lalu melangkah mendekat ke arah motornya dan langsung mengambil alih.
"Lha emang lo maunya dipanggil gimana? Sayang? Bebeb? Ayang? Cinta?" cecar Arsya berniat menggoda gadis itu. "Tapi lo seumuran adik gue. Jadi gue samain aja, ya?" ujarnya sambil terkekeh ketika melihat Sila meliriknya dengan sangat sinis.
"Terserah lo. Tapi makasih, ya," ucap Sila masih dengan nada tidak ramah.
Belum mendapat jawaban dari pria yang mengisikan bensin motornya, Sila lebih dulu melakukan motor hingga meninggalkan Arsya yang kini menatap ke arahnya dengan banyak mengucap kalimat serapah di dalam hati.
"Bisa-bisanya ada anak kayak gitu," gumam Arsya menatap kepergian Sila yang terlihat semakin menjauh.
Tidak berselang lama, Zacky melangkah keluar dan berjalan ke arahnya. Membuat Arsya menghampiri atasannya tersebut.
"Bagaimana diskusinya, Bos? Lancar? Terus akhirnya gimana?" cecar Arsya yang sangat penasaran apa keputusan Zacky selanjutnya.