
Bab. 101
Setelah mendapat protes dari Sila, akhirnya Zacky mengajak Sila keluar untuk sekedar jalan-jalan. Niat awalnya sih begitu. Periksa kandungan dan ternyata hasilnya semua bagus. Janin berkembang dengan sehat. Mereka benar-benar sangat aktif di dalam. Pantesan Sila setiap malamnya selalu minta elus. Mungkin karena mereka sering berantem di dalam. Sebab tempatnya makin lama makin sempit dan harus berdempetan.
Zacky sangat senang saat mengetahui calon anak-anak mereka berkembang dengan baik. Juga ternyata mengenai Sila yang tidak mengalami perubahan di badannya saat hamil, merupakan hal wajar dan patut disyukuri oleh kaum perempuan. Karena mereka nanti tidak perlu repot-repot diet ketat hanya untuk mengembalikan ukuran badan mereka seperti semula. Yang terpenting ialah pertumbuhan janin di dalam perut Sila.
"Mau makan dulu, apa nonton dulu, Yaang?" tanya Zacky menatap ke arah perempuan yang tampak asik melihat orang yang berlalu lalang di depan mereka. Entah itu pasangan muda maupun yang membawa keluarga kecil mereka. Bahkan ada juga anak-anak yang saling berkejaran dengan tawa ceria yang menghiasi wajah mereka.
"Mereka kalau udah besar, apa kayak anak-anak itu ya, Mas?" tanya Sila.
Meskipun terkadang menggerutu dan menahan rada gemasnya ketika janin yang ada di dalam kandungannya itu menggoda dirinya, namun tidak memungkiri kalau naluri seorang ibu pasti ingin cepat-cepat bertemu dengan anak-anaknya.
Sila menoleh ke arah suaminya yang duduk di sampingnya. Karena tidak mendapat sahutan dari sang suami.
"Dulu kamu sama Kak Zuma kayak mereka juga nggak, Mas?" tanya Sila lagi. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja ia merasa penasaran dengan masa kecil suaminya.
Ini merupakan hal baik bagi Zacky. Karena Sila sudah mulai penasaran dengan kehidupan dirinya.
"Dia dari kecil sangat cuek. Nggak pernah tersenyum seperti anak kecil itu. Sifatnya itu sangat berbanding terbalik dengan diriku yang cenderung ceria. Jadi kami jarang saling berkejaran seperti itu. Palingan cuma adu fisik di atas ring aja. Karena Zuma lebih suka membaca buku dan mengurung. Jadi aku sama Mas Rio ngajak interaksinya ya di atas ring, Yaang. Pokoknya dia tuh nggak ada kalem-kalemnya dulu itu. Nggak kayak sekarang. Tapi sama aja sih. Cuma tampilannya saja yang berubah feminin. Sifatnya masih tetep kasar dan raja tega. Kamu udah liat sendiri kan pas dia gebukin aku dulu itu," cerita Zacky mengenai dirinya dan Zuma.
Sila tampak mendengarkan Zacky dengan seksama. Tidak menyela maupun memalingkan wajahnya dari sang suami.
"Gimana rasanya punya saudara?" tanya Sila lagi. Wajahnya terlihat sendu ketika menanyakan hal ini.
Tidak tahan melihat Sila menatap dirinya dengan tatapan terlihat sedih, Zacky menarik tangan Sila lalu memeluknya dengan sangat erat. Mengusap lembut punggung Sila. Memberi kenyamanan serta rasa aman di sana.
"Kamu udah ngerasain, Yaang. Mami, Papi, Mas Rio, Yuan, dan Zuma, sekarang mereka semua keluarga kamu. Kamu nggak akan merasa kesepian lagi. Ada aku di sini. Juga anak-anak yang tidak sabar ingin bertemu dengan kita," ujar Zacky di sela pelukannya. "Mulai sekarang, apapun yang kamu inginkan, yang kamu rasakan, yang membuat kamu merasa nggak nyaman, bilang sama aku, Yaang. Aku akan melakukan apapun itu, asal kamu bahagia. Terus tersenyum tanpa kepalsuan di hati kamu. Bisa, hmm?" pinta Zacky lagi.
Sila menarik diri. Menatap Zacky penuh dengan rasa haru.
"Kenapa kok sekarang aku merasa bersyukur banget ya," ujar Sila dengan bibir menyunggingkan sebuah senyuman.
"Jelas bersyukur dong, Yaang. Orang suaminya ganteng pakek banget dan nggak ada obat kayak begini," sahut Zacky begitu pongah.
Cetak!
Sila menyentil bibir Zacky yang berbicara asal.
"Maksudnya itu bersyukur karena udah kamu perk0sa, Mas. Kalau bukan kamu, mungkin aku nggak akan ngerasain kasih sayang Mami Dilla yang lebih lebih," jelas Sila dari maksud ucapannya tadi.
Membuat Zacky lesu seketika. Pria itu menempelkan keningnya di bahu Sila.
"Nggak perlu diingat dan diperjelas bagian yang itu, Yaang ...." protes Zacky. Salut sekali dengan sifat istrinya yang suka blak-blakan seperti ini. Bahkan tidak mengenal tempat. "Kesannya aku jahat banget."