
Bab. 112
Hari demi hari pun terlewati dengan penuh warna bagi Zacky. Juga penuh dengan beraneka umpatan yang tidak bisa tersalurkan dengan jelas dan benar. Tentu saja pria itu tidak berani mengatakan secara langsung. Dari pada dampak dari kebodohannya nanti malah membawa dirinya ke sebuah masalah yang berujung tidak bisa anu.
Ya. Meski perut sang istri semakin besar, namun entah kenapa hasrat Zacky akan istrinya bertambah semakin menggebu. Seolah pesona Sila selalu bertambah di matanya.
"Yaang ... acara tujuh bulanan nanti kamu mau undang siapa aja?" tanya Zacky menghampiri Sila yang tengah bersibuk diri di dapur. Entah wanita itu tengah memasak apa, yang jelas Zacky tidak bisa melarangnya untuk urusan yang satu ini.
Sila menoleh, lalu menjilat jarinya sendiri di kala tanpa sengaja teriris pisau.
Zacky membeliakkan matanya di saat melihat ada warna merah di jari sang istri. Dengan cepat Zacky menarik tangan Sila untuk kemudian memasukkan jari Sila ke dalam mulutnya sendiri. Menggantikan apa yang dilakukan oleh Sila tadi.
"Ih, Mas ... jorok loh!" ingat Sila merasa sungkan dan ingin menarik tangannya ketika Zacky menghisap darahnya.
Zacky tidak menanggapi. Setelah ia hisap sebentar sarah yang keluar dari ujung jari sang istri, lalu Zacky mengarahkan jari itu ke bawah pancuran air dan menyiramnya dengan air mengalir.
"Bahkan Mas sering ngisepin lebih dari ini, Yaang," sahur Zacky menanggapi ucapan Sila tadi. "Malah kamu keenakan," lanjutnya lagi sembari melirik jahil.
"Selalu saja ngarahnya ke itu," balas Sila yang mulai hapal seperti apa tabiat suaminya ini.
Zacky terkekeh di saat Sila kesal seperti ini. Namun wanitanya tetap nurut kepada dirinya. Tidak lagi melempar protes seperti yang biasa Sila lakukan dan selalu berhasil membuat kepalanya terasa sakit.
Sila diam, karena wanita itu sadar jika dirinya salah. Kalau ia sahuti, Zacky bakalan lebih protektif lagi terhadap dirinya. Malah nanti ia benar-benar tidak diperbolehkan melakukan apapun kesukaannya. Padahal Sila ingin memasak makanan kesukaan suaminya.
"Maaf," ucap Sila dengan nada lirih. Membuat Zacky menghentikan kegiatannya. Lalu menatap heran ke arah Sila.
Tumbenan Sila mau meminta maaf dan mengaku salah seperti ini. Lantas pria itu tersenyum senang, setelah itu melabuhkan kecupannya di kening Sila.
"Mas hanya nggak mau kamu kenapa-napa, Yaang. Itu aja. Nggak batasin kamu ini itu tanpa sebab," jelas Zacky mengenai sikapnya. Dan mendapat anggukan paham dari Sila.
Kemudian Zacky mengajak Sila untuk duduk serta menyuruh bibi yang tadi mendampingi Sila, untuk melanjutkan apa yang sedang Sila kerjakan.
"Oh, ya, Yaang. Ada yang mau Mas bahas sama kamu. Penting," ujar Zacky dengan raut serius.
Sila memicingkan mata. "Apa, Mas? Kalau masalah resepsi, lupakan. Aku nggak mau ada resepsi resepsian. Malu," tegasnya.
Sebelumnya Zacky pernah membahas mengenai resepsi mereka. Dan Sila mengatakan tidak ingin ada resepsi. Yang terpenting kakek dan neneknya serta para sanak saudara orang tuanya sudah mengetahui jika dirinya menikah. Udah. Itu saja sudah cukup bagi Sila.
Zacky menggeleng pelan. "Enggak, Sayang. Tapi, kalaupun nanti kamu berubah pikiran, kita bisa adain resepsi setelah kamu lahiran. Gimana?" tawar Zacky lagi. Siapa tahu istrinya berubah pikiran. Karena Zacky sangat ingin memberitahukan kepada dunia, jika Arsila Queenara Diandra ini adalah wanitanya. Miliknya seorang. Permaisuri dalam hidupnya.
"Bisa dipikirin nanti, Mas. Sekarang mau bicara apa?" tanya Sila kembali pada topik utama.