
Bab. 71
Malam itu juga Zacky bertandang ke rumah tante Amira. Meminta maaf dengan segala penyesalan yang ada, juga memutuskan pertunangannya dengan Tusha yang sudah berjalan satu tahun lamanya.
Tentu, mereka sangat kecewa dan sangat marah pada Zacky. Namun mami Dilla memberi pengertian kepada sahabatnya. Juga berkata kalau Zacky dan Sila sudah menikah satu bulan yang lalu. Jadi percuma saja jika dipertahankan.
Tusha menangis histeris dengan fakta ini. Wanita itu sampai memukul Zacky karena kesetiannya selama ini dibayar dengan sebuah pengkhianatan. Namun ia juga tidak mau dijadikan yang kedua oleh pria itu. Lebih lagi gadis muda yang ia temui tadi juga sudah hamil empat bulan.
Zacky juga tidak bisa membela diri, selain meminta maaf terus menerus. Di mana kalimat itu tidak akan bisa mengubah keadaan maupun perasaan.
Setelah pulang dari rumah tante Amira, Zacky dan kedua orang tuanya pulang ke kediaman Rayyansyah. Untuk malam ini ia memutuskan tinggal di rumah orang tuanya. Terlebih lagi Sila masih di sana bersama dengan Zuma.
Sementara itu di sisi lain, terlihat seorang perempuan muda dengan perut membuncit tengah terlelap dalam tidurnya.
Setelah berbincang dengan Zuma panjang lebar, Sila tidak kuat lagi menahan kantuknya. Ia kemudian memilih membersihkan diri di kamar Zacky dengan arahan Zuma. Dalam sekejap saja mereka sudah bisa akrab.
Sila berbalas pesan dengan Yuan yang tidak bisa datang ke kediaman Rayyansyah, hingga perempuan itu tertidur di atas sofa panjang yang ada di sisi kamar Zacky. Kamar yang bernuansa abu dan hitam. Terlihat mengerikan, tetapi Sila merasa nyaman dengan wangi musk yang melekat di ruangan itu.
Tidak lama Zacky tiba. Pria itu langsung menuju ke kamarnya, setelah bertanya di mana keberadaan Sila pada Zuma.
"Ck. Selalu saja sembarangan," gumam Zacky.
Berhenti sejenak tepat di samping Sila. Pria itu berjongkok menyibakkan rambut Sila yang menutupi wajah perempuan itu. Lalu tatapannya beralih ke arah perut Sila.
"Tumben nggak minta elus-elus?" gumam Zacky lagi merasa aneh.
Mengapa dirinya tidak membiarkan Sila tinggal di sini, sedangkan ia di apartemen, semua itu karena Sila tidak akan bisa tidur tanpa tangannya yang harus mengusap perut buncit perempuan itu. Namun anehnya saat ini Sila tampak begitu terlelap dalam tidurnya.
"Demi kalian, aku lepas semuanya. Bahkan wanita yang berhasil kamu usik tempatnya di sini," ucap Zacky lirih seraya meraba dadanya sendiri. "Tapi aneh, kamu yang buat aku mengalami hal mengerikan tadi, tapi kenapa aku nggak bisa marah setelah liat kamu seperti ini?"
Harusnya saat ini ia merasa terluka, patah hati, atau sebutan lainnya untuk orang yang baru putus dengan kekasihnya. Akan tetapi Zacky tidak merasakan itu semua. Dia malah merasa sedikit lega, karena tidak harus membohongi banyak orang lagi.
Setidaknya sekarang ia hanya perlu menjaga mereka. Bertanggungjawab dan menjadi suami serta ayah yang selalu siaga untuk mereka. Walaupun mungkin perasaan di antara mereka belum tumbuh, tetapi ia lega tidak lagi membuat Sila kecewa terus menerus kepada dirinya. Tinggal berusaha meyakinkan perempuan yang sepertinya masih belum menerima dirinya. Walaupun itu tidak mudah.
Aneh, tetapi inilah perasaan Zacky saat ini. Ia lebih memilih tidak ingin membuat Sila kecewa, dari pada memperhatikan perasaan Tusha.