
Bab. 47
Ketika sampai di pelataran bangunan apartemen yang saat ini ditempati oleh Sila, Zacky melihat penjual kue brownies yang terkenal di Jakarta dan memiliki banyak penggemar tersebut berada di bangunan bagian samping kanan.
Zacky menyempatkan diri ke sana dan membeli beberapa varian rasa yang tersedia malam itu. Karena ia tidak tahu kesukaan Sila yang rasa apa.
"Tiga saja, Tuan?" tanya pegawai toko kue tersebut.
Zacky mengangguk tanpa menjawab dan langsung menyerahkan kartu berwarna hitam kepada penjaga kasir toko kue itu.
Setelah membayar dan mendapatkan apa yang ia beli, Zacky segera menuju lift dan menekan tombol menuju lantai lima belas. Kebetulan di lantai tujuh hanya ada dua unit apartemen. Termasuk milik dirinya yang berada tepat di depan unit yang sekarang ini ditempati oleh Sila.
Sesampainya di lantai lima belas ia melihat Arsya yang masih berjaga di sana. Pria itu tengah duduk dengan meja single dan tengah menghadap laptop kesayangan pria tersebut. Entah sedang melakukan pekerjaan atau sedang melihat drama.
Aneh memang hobi sahabatnya itu. Jika kebanyakan pria akan menghabiskan waktu mereka di club atau balapan segala macam, tetapi Arsya lebih suka menyibukkan diri dengan membuat progam baru serta menonton drama kolosal sebagai sampingan hiburan pria itu.
"Udah makan?" tanya Zacky ketika sampai di depan unit apartemen yang sekarang ini berisikan Sila di dalamnya.
Mendengar ada suara seseorang, Arsya yang sebelumnya tenggelam dengan laptop di depannya, kini pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Zacky.
"Gimana mau makan, kalau pesan lo kayak gitu," jawab Arsya sedikit kesal. "Kalau nggak demi butuh duit, udah gue tinggal pulang dari tadi." imbuhnya yang kemudian mematikan layar laptopnya.
Zacky hanya mengangguk samar, lalu memberikan satu kotak panjang yang berisi kue brownis tadi kepada Arsya.
"Ya udah, lo pulang sana. Makasih," ujar Zacky.
"Gue nggak salah denger kan ini?" tanya Arsya sembari berdiri lalu mendekat ke arah Zacky yang ingin meraih handel pintu apartemen yang dia beli untuk Sila tinggali.
"Why?" Zacky menoleh dengan tatapan tajam.
"Lo bilang makasih sama gue?" tanya Arsya mencoba untuk memastikan ulang. Kalau-kalau apa yang dia dengar ini bukanlah sebuah halusinasinya saja.
Bisa saja kan dirinya yang lelah dan lapar, sehingga jadi salah dengar. Dua hal yang tidak berhubungan sama.sekali sebenarnya. Akan tetapi itu lah yang ada di pikiran Arsya. Karena lelah dan capek, bisa jadi dirinya kurang fokus.
"Ck! Buang waktu aja," decak Zacky yang kemudian melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam apartemen. Tidak lupa pria itu menutupnya kembali sehingga meninggalkan Arsya di luar sendirian.
Entah, nama binatang mana lagi yang di absen oleh Arsya. Yang jelas Zacky tidak mendengarnya secara langsung.
Zacky melepas sepatunya dan hanya mengenakan kaos kaki saja. Karena ia belum menyiapkan sandal laki-laki untuk dirinya.
"Bau masakan?" gumam Zacky.
Pria itu segera menaruh brownis yang dia bawa ke atas meja, di kala mencium bau masakan yang sangat harum dan langsung menggoda perutnya.
Saat langkahnya sampai di dapur, Zacky melihat sosok yang cukup mengejutkan. Jika terakhir kali Zacky meninggalkan gadis itu dengan pakaian kebaya yang tertutup walaupun ketat, namun tidak untuk sekarang.
Permukaan kulit gadis itu tampak putih bersih dan kalau saja ada nyamuk yang mendarat di sana, bisa dipastikan nyamuk itu akan terpeleset sangking mulusnya.