
Bab. 48
Mata Zacky seolah tidak bisa berpaling dari pemandangan yang sangat indah, menurutnya. Bukan karena pertama kali melihat pemandangan seperti itu. Tetapi entah mengapa ia seolah terbawa oleh pesona yang dipancarkan oleh sosok di depannya.
Sedangkan gadis yang tengah sibuk memasak tersebut belum sadar mengenai keberadaannya. Hingga ketika gadis itu membalikkan badan di saat akan menaruh masakannya itu ke atas meja makan.
Gadis itu tersentak kaget melihat Zacky yang sudah ada di depannya. Sampai-sampai teflon yang ada di tangan Sila hampir saja jatuh, kalau tidak Zacky ambil alih dengan cepat.
"Hati-hati!" ujar Zacky seraya menahan teflon dan juga tangan Sila agar tidak menyentuh teflon yang masih panas.
Hampir saja ia terkena panasnya teflon dan jantungnya jatuh dari tempatnya. Kesal dengan sikap Zacky yang tidak bersuara sedikit pun di saat sudah masuk ke dalam apartemen, membuat Sila melayangkan pukulan ke lengan Zacky yang masih menahan tangannya.
"Lagian Om kenapa masuk-masuk nggak bersuara sama sekali. Gimana kalau aku punya jantung? Kan bahaya!" omel Sila seraya menjauhkan diri dari Zacky.
Namun, di detik selanjutnya Sila justru mendapat jitakan di keningnya karena ulah Zacky. Membuat gadis itu mengaduh seketika dan langsung mengusap kening nya yang terasa panas.
"Kalau nggak punya jantung, namanya ikan," ujar Zacky asal.
Pria itu menggeleng kepala melihat tingkah Sila yang entah sangat unik menurutnya. Betapa tidak, jika di nilai akademis, gadis itu tidak perlu di ragukan lagi. Namun anehnya dalam kehidupan keseharian, kenapa dia unik sendiri. Selalu mempunyai pikiran dan pendapat di luar nurul. Eh, nalar.
"Lagian kenapa Om balik lagi?" tanya Sila. "Bukanya masih jam tujuh? Nggak ngapel-ngapel sana Om ke ayangnya Om?" tanya Sila yang sebenarnya hanya dia buat basa basi saja. Karena tidak ada topik pembahasan di antara mereka.
Lagi pula bodo amat dengan apa yang akan dilakukan oleh om setengah mateng ini. Karena bagi Sila itu tidaklah penting.
"Enggak. Nanti kamu sendirian, nangis," jawab Zacky sembari menaruh kembali teflon yang ternyata berisi nasi goreng seafood di sana. Dari aromanya saja tercium begitu menggiurkan.
"Piring untukku mana?" Zacky tidak melihat adanya piring di sana. Hanya satu gelas yang berisi air putih serta teflon yang berisi nasi goreng penuh dengan satu sendok di atasnya.
Sila menatap bingung ke arah Zacky.
Zacky menatap nasi goreng di depan mereka.
"Ini," tunjuknya dengan dagu.
Sila langsung menarik nasi gorengnya hingga berpindah tepat di hadapannya.
"Ini punyaku!" tekan Sila sembari memegang erat teflonnya.
"Emang habis?"
Sila menggelengkan kepala. "Enggak, lah! Banyak begini. Mana muat perutku." jawabnya.
"Terus?"
Entah apa lagi yang akan dilakukan gadis itu dengan nasi goreng yang terlihat banyak jika untuk satu orang saja. Sedangkan ia meminta sedikit saja tidak dikasih. Padahal ini semua miliknya.
"Mau aku bungkus kalau nggak habis," jawab Sila yang sungguh mengejutkan Bumikage.
"Dari pada kamu bungkus, mending buatku. Aku juga lapar," usul Zacky.
Padahal tadi sempat makan di rumah kakaknya setelah dihajar dan dipukul oleh mereka. Namun, mencium aroma nasi goreng buatan Sila, entah kenapa perutnya terasa lapar lagi.
Dengan cepat Sila memakan nasi goreng itu di atas teflon langsung.
"Udah jadi bekasku, Om. Kalau Om lapar, beli sana di luar. Ini mau aku bawa pulang ke kontrakan habis ini. Biar nggak perlu beli lagi," ucap Sila yang lagi-lagi membuat Zacky kehabisan kata dan otaknya tidak bisa bekerja secara normal.
"Kamu tetap di sini." tekan Zacky membuat Sila melotot ke arahnya. Bersiap melayangkan protes kepadanya.