
Bab. 34
Zacky terlihat menatap ke arah sekitar. Mencari kakaknya yang tengah menemani istrinya wisuda hari ini.
"Di mana Mas Rio, Zack?" tanya seorang wanita paruh baya, namun terlihat masih sangat cantik sekali. Lebih lagi dengan pakaian yang begitu anggun saat ini.
"Sabar, Mi. Ini Zacky masih cari keberadaan Mas Rio. Katanya sih udah di sini," ujar Zacky kepada mami nya.
Sedangkan pria yang berjalan tepat di samping mami nya memberi sentuhan di lengan wanita yang bernama Dilla. Mengisyaratkan kepada istrinya untuk tenang.
Sedangkan Zacky menatap ke arah sekitar hingga ia kemudian menemukan sosok yang dia cari.
"Mas Rio!" panggil Zacky melangkah menuju meja yang di tempati oleh kakaknya tersebut. Diikuti oleh kedua orang tuanya.
Walaupun datang terlambat, paling tidak mereka menyempatkan diri untuk datang.
Pak Rio berdiri menyambut kedua orang tuanya. Sedangkan Zacky, bukanya pria itu bersalaman dengan kakak nya terlebih dulu, tetapi Zacky menghampiri kakak iparnya. Menyerahkan buket bunga kepada kakak iparnya tersebut lalu menariknya ke dalam pelukan. Berniat untuk memberi selamat kepada kakak iparnya karena lulus dengan nilai sempurna.
Namun, hanya beberapa detik saja kerah kemejanya ditarik oleh sang kakak.
"Jangan meluk-meluk. Dia istri gue," tekan pak Rio dengan tatapan tidak senang ke arah Zacky. Pria itu dengan sangat posesifnya memeluk Yuan. Seolah menghapus jejak adiknya sendiri yang baru saja memeluk Yuan.
"Ck!" decak Zacky menatap malas ke arah kakaknya. "Untung aja nggak ada media di sini. Kalau media tau, bakalan heboh," gumam Zacky sembari merapikan kemejanya lagi.
Mami Dilla tersenyum melihat sikap putra dan menantunya. Lalu wanita paruh baya itu menepuk bahu Zacky.
"Makanya, Sayang ... buruan nikah. Biar bisa kayak Mas kamu itu," ucap mama Dilla.
Zacky tidak menanggapi ucapan maminya. Ada hal yang sedikit membuatnya janggal dan aneh.
"Kak, itu temen lo?" tanya Zacky pada Yuan seraya menunjuk ke arah seorang gadis yang duduk satu meja dengan Rio dan Yuan.
"Oh ... iya. Mereka berdua sahabat aku, Kak," jawab Yuan yang masih memanggil Zacky dengan sebutan kak. Karena emang usia Zacky lebih tua dari Yuan.
Zacky semakin memicingkan matanya ke arah gadis aneh tersebut. Pasalnya gadis itu menghadap ke arah lain dan menutupi wajahnya dengan clutch bag berwarna hitam di tangannya. Seperti tidak asing dengan sosok gadis itu.
"Temannya kenapa, Sayang? Sakit?" tanya mami Dilla yang juga memperhatikan sikap teman Yuan yang tak lain ialah Sila.
Ingin sekali Sila menghilang dari sini sekarang juga. 'Kenapa mereka terus melihat ke arah sini, sih!' rutuk Sila. Berusaha sekuat mungkin untuk menutupi wajahnya agar pria itu tidak mengenali dirinya.
"Sil, lo kenapa? Ditanyain sama mertuanya Yuan, tuh," bisik Melani yang mendekat ke arahnya.
Dengan posisi clutch bag yang menutupi seluruh wajahnya, Sila menoleh ke arah Melani.
"Lo tau cara melakukan Hiraishin no jutsu, nggak?" tanya Sila dengan suara yang sangat lirih. Mereka lebih terlihat sedang berbisik.
"Hah?" jelas saja Melani tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sila.
"Gue pingin teleportasi, menghilang dari sini secepatnya. Ingat nggak gerakannya gimana?" desak Sila.
"Jangan ngadi-ngadi deh, lo!" geram Melani sembari mencubit paha Sila.
Sedangkan Yuan menatap curiga ke arah Sila. Lalu gadis itu meraih clutch bag yang dipegang oleh Sila. Ingin menyingkirkannya, tetapi ditahan sekuat mungkin oleh pemiliknya.
"Sil, lo kenapa?" tanya Yuan sedikit khawatir. Karena dari yang ia tahu, perempuan yang tengah hamil muda itu sering kali menghadapi sesuatu yang aneh. Semisal tiba-tiba saja merasa pusing atau mual. "Lo pusing? Atau mual?" desak Yuan yang semakin membuat Sila gemas dengan sahabatnya itu.
Sementara Zacky merasa tidak asing dengan sebutan nama itu. Lebih lagi ia baru teringat kalau gadis itu juga sekolah di sini.
Zacky yang berdiri di belakang kakaknya, menggeser sedikit ke samping. Lalu memutar langkahnya menuju ke arah seorang gadis yang sedang menutupi wajahnya saat ini. Semakin membuatnya sangat penasaran dengan gadis tersebut.
"Dia kenapa, Mas? Sakit atau gimana? Kok keliatannya takut banget liat wajah Mami. Padahal Mami udah cantik kan, Mas? Nggak gigit juga loh," tanya mami Dilla kepada suaminya, papi Kendra.