Our Secrets

Our Secrets
Ch. 107. Kena Getahnya



Bab. 107


"Tumbenan banget ini para menantu Mami ngajakin Mami keluar," ujar mami Dilla kepada kedua menantunya. Sedangkan Zuma tidak ikut dengan mereka. Sebab, wanita itu memiliki pekerjaan yang tidak bisa dia tinggal begitu saja.


Sila menekuk wajahnya langsung ketika mengingat keinginannya yang tidak disetujui oleh Zacky.


"Kenapa lagi lo?" tanya Yuan sangat peka dengan apa yang dirasakan oleh sahabat serta iparnya tersebut.


"Sila pingin nyanyi sebentar doang di cafe, Mi. Tapi Mas Zacky nggak kasih ijin. Makanya, kita ajak Mami ke sini. Siapa tau bisa ngobati rasa kangennya Sila pada suasana di cafe. Meskipun tetap nggak bisa nyanyi kayak di cafenya Kak Jinan," keluh wanita itu dengan helaan napas berat. Menampilkan ekspresi begitu sedih.


Tentu saja hal itu membuat mami Dilla yang sangat menyayangi para menantunya terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Sila barusan.


"Cuma nyanyi di cafe doang, nggak di bolehin?" ulang mami Dilla memastikan lagi. Mami Dilla menggeleng kepala dengan sikap putra keduanya ini.


Sila mengangguk cepat. "Mas Zacky tuh posesif banget sama aku, Mi. Apa-apa nggak dibolehin. Kan lama-lama aku bosen juga," imbuh Sila yang malah mengompori mertuanya. Lalu wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Agar lebih dekat lagi dengan mami Dilla. "Mi, boleh ditukar nggak sih?" bisik Sila dengan wajah serius.


Ctak!


"Sakit, be—"


"Biar fungsi lagi otak lo!" sahut Yuan cepat sebelum Sila mengeluarkan kalimat yang tak pantas di depan mertua mereka.


Sila hanya bisa cemberut di kala mendapat tatapan penuh peringatan dari Yuan. Ia tahu maksudnya dan memang mulutnya susah sekali untuk dikontrol. Meskipun mereka terkadang berada di kediaman keluarga besar Rayyansyah.


Mami Dilla tertawa melihat tingkah mereka berdua. Mengingatkan dirinya dengan sahabatnya, Amira. Namun sayang, karena perbuatan yang Zacky lakukan, persahabatan di antara mereka pun merenggang.


Terbukti, wajah wanita itu langsung berseri senang.


"Beneran, Mi?" tanya Sila untuk memastikannya lagi.


Mami Dilla mengangguk mantap. "Beneran, Sila. Sama Mami dan Yuan. Nanti kalau dibolehin sama Jinan, kota bertiga nyanyi bareng," jawabnya.


Yuan langsung melambaikan tangan di depan wajahnya. "Yuan nggak usah, Mi. Yang ada nanti pengunjung cafe milik Kak Jinan malah pada kabur."


"Iya, Mi. Kalau Yuan jangan disuruh nyanyi. Dia tuh sebenarnya bisa, cuma suaranya aja yang nggak bisa diajak kompromi," sahut Sila mengenai penolakan Yuan.


Dua wanita yang sama-sama hamil itu langsung berdebat dan saling melayangkan lirikan sinis. Pandangan tersebut tidak luput dari perhatian tiga orang pria yang tidak pernah melepas pandangannya dari meja yabg ditempati oleh para istri mereka.


"Ck! Kenapa nggak kamu ijinin aja kalau mau nyanyi di tempatnya Jinan?" kesal Rio melirik tajam ke arah adiknya. "Ganggu jadwal jenguk calon anak gue aja, lo." imbuhnya lagi.


Sedangkan yang dilirik oleh Rio sama sekali tidak menggubris. Pria itu tetap mengawasi istrinya dan juga sekitar para wanita itu. Khawatir saja kalau sampai ada yang mencuri pandang ke arah Sila.


"Mas nggak tau aja, dia itu mantan penyanyi di sana. Kalau aku ijinin, yang ada para fansnya itu jelas bakalan mencoba untuk mendekati Sila lagi. Emangnya Mas mau adik kamu ini ditinggal sama pucuk?" sahut Zacky pada akhirnya.


Sementara pria yang berbeda generasi dengan mereka, untuk sementara ini hanya mengamati kedua putranya. Belum ada niatan ikut campur dalam pembicaraan mereka.


"Ck! Lo itu kalau mau cemburu ya cemburunya yang ngotak. Jangan asal main panas aja. Lo nggak liat, perut istri lo aja udah gedhe banget. Bahkan lebih gedhe dari punya Yuan. Mana ada cowok yang dekatin dia, Zack! Mereka sudah pada paham sendiri, kalau udah bunting, berarti udah punya suami," jelas Rio dengan nada begitu geram.