Our Secrets

Our Secrets
Ch. 88. Nge-charge



Bab. 88


Pertemuan yang baru berlangsung tiga puluh menit, membuat Zacky merasa sangat bosan berada di ruang rapat tersebut. Entah karena yang dibahas tidak terlalu penting menurutnya, namun tetap mengharuskan kehadiran dirinya tersebut. Atau memang pria itu ingin segera keluar dari sana sebab ada sesuatu yang ia rasakan. Sesuatu yang baru Zacky alami.


"Kenapa?" tanya Arsya. Seperti biasa, pria itu selalu cepat tanggap dan sangat peka mengenai kondisi atasannya. Bahkan perubahan mood atasannya itu pun Arsya sangat hafal sekali.


Zacky menggeleng namun jarinya mengisyaratkan Arsya untuk mendekat ke arahnya.


"Bisa bubarkan rapat ini sekarang juga?" tanya Zacky. Bukan bukan, itu seperti sebuah perintah yang harus Arsya lakukan. Akan tetapi ia juga tidak bisa bertindak lebih jauh lagi di kala para pemegang saham berada di ruangan ini sekarang.


"Nggak bisa, Bos. Para pemegang saham bisa curiga kalau Bos keluar sekarang," balas Arsya seolah menolak permintaan Zacky.


Membuat pria yang duduk di kursi paling ujung tersebut menghela napas berat. Beberapa kali mengetuk kan bolpoin di meja hingga terdengar oleh beberapa orang yang duduk di dekatnya.


"Waktu kurang sepuluh menit lagi. Lewat dari itu, aku keluar!" ujar Zacky yang tiba-tiba. Membuat para pemegang saham yang berada di sana pun menoleh terkejut dengan apa yang barusan Zacky katakan.


Akan tetapi mereka juga tidak memiliki kuasa untuk melayangkan protes. Di tambah lagi memang waktu atasan mereka itu sangat berharga. Sehingga mau tidak mau mereka mempercepat mengutarakan pemikiran mereka agar terdengar langsung oleh Zacky.


Hingga selang beberapa menit kemudian rapat itu selesai. Zacky dengan cepat langsung keluar dari ruangan rapat tanpa berpamitan terlebih dulu. Raut mukanya yang datar dan dingin itu membuat atmosfer yang ada di ruangan tersebut terasa begitu dingin. Tidak ada yang berani mencegah atau sekedar mengungkapkan rasa terimakasih mereka. Benar-benar tidak berani mengusik atasan mereka yang sepertinya mood pria itu tengah tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Arsya sendiri dengan segera mengemasi barang-barang nya baru kemudian menyusul langkah Zacky yang sudah lebih dulu kembali ke ruangannya.


"Loh, kemana dia?" gumam Arsya yang tidak mendapati Zacky berada di dalam ruangannya.


Arsya mencoba untuk menghubungi Zacky, takut kalau pria itu akan pulang secara tiba-tiba lagi seperti yang beberapa hari ini terjadi. Sedangkan pekerjaan di kantor masih sangat menumpuk dan itu tidak bisa Arsya kerjakan sendiri.


"Ck! Jangan bilang kalau dia pulang lagi terus nge-charge," kesal Arsya.


***


Klek!


Sila begitu terkejut di kala membuka pintu dan mendapati suaminya yang berada di balik pintu.


"Aku pikir tamu," ucap perempuan itu. "Lagian kenapa make pencet bel segala macam sih? Orang langsung masuk juga bisa." omelnya lagi.


Terlihat begitu jelas kekesalan di wajah Sila karena keisengan suaminya sendiri. Di mana pria itu memencet bel pintu beberapa kali hingga membuat Sila yang bersantai di ruang tengah pun merasa geram. Sementara bu Retno berada di belakang.


"Ada kiriman paket, Sayang," balas Zacky sembari menunjukkan sesuatu yang dia pegang. Sila pun langsung memutar tubuhnya kembali dan menatap ke arah suaminya.


"Kamu jangan mulai lagi deh, Mas. Ngaco banget jadi orang. Profesimu berubah lagi? Jadi kurir? Bukan lagi jadi CEO? Hmm?" cecar Sila dengan mata memicing. Jika suaminya ini pulang tanpa sebab, pasti ada sesuatu yang sedang dia rencanakan.


Zacky terkekeh lalu memeluk istrinya yang sudah memunggungi dirinya. Mengusap perut buncit Sila dengan penuh kasih sayang.


"Aku merasa kalau dia rindu sama Daddy-nya, makanya aku pulang. Jangan salahin aku. Dia yang minta, Sayang," ucap Zacky memberi alasan mengenai kepulangannya.


Sila menghela napas. Entah kenapa om setengah matengnya ini berubah menjadi seperti ini. Padahal akan lebih aman jika Zacky tetap pada sikapnya yang dulu. Cuek dan dingin. Itu lebih baik bagi Sila, karena ia akan memiliki banyak waktu untuk melakukan hal yang Sila suka. Tidak seperti sekarang. Apa-apa selalu terpantau oleh pria itu.


"Kalau kamu lupa, baru dua jam kamu berangkat kerja, Mas. Masa udah pulang lagi?" protes Sila. "Lagian mana ada pemimpin perusahaan yang begitu nganggur dan gabut banget kayak kamu, Mas. Yang ada itu perusahaan akan bang—"


"Eits!" cegah Zacky. "Ibu hamil nggak boleh sembarangan ngomong," ingatnya lagi. Semakin membuat Sila kesal. "Aku cuma pingin nge-charge sebentar, Sayang. Energiku habis buat rapat barusan," lanjut Zacky yang sudah mengecupi leher Sila.