Our Secrets

Our Secrets
Ch. 108. Menentukan Pilihan



Bab. 108


"Masalahnya kan nggak ada yang tau kalau Sila itu istri gue, Mas. Lo tau sendiri, kita bahkan nggak adain resepsi sama sekali. Ya gue takutnya kalau dia bakalan dicap sebagai cewek yang nggak bener," ujar Zacky mengenai alasannya kenapa tidak memberi ijin kepada Sila untuk nyanyi di cafe. Walaupun hanya untuk sekedar mengobati rindu wanita itu.


Bicara soal resepsi, papi Kendra langsing menegakkan badannya dan menatap serius ke arah putra keduanya tersebut.


"Kapan rencananya kalian adain resepsi?" tanya papi Kendra menatap serius Zacky.


Zacky menghela napas, lalu menyenderkan punggungnya di senderan kursi yang sedang dia duduki saat ini.


"Nggak tau, Pi. Zacky juga belum bicarakan ini dengan Sila. Apa lagi perutnya udah gedhe banget," jawab Zacky.


Tampak begitu jelas raut penyesalan di wajah Zacky saat ini. Menyesal karena kenapa dulu ia tidak mengadakan resepsi terlebih dulu dan menganggapnya itu tidak penting. Belum lagi Sila juga jelas akan menolaknya. Karena wanita itu aku awalnya memang tidak mau menikah dengan dirinya.


Rio yang melihat itu pun memberi tepukan di bahu Zacky.


"Sebelum lo ngambil tindakan dan mengulang kesalahan yang sudah pernah lo buat, mending tanyai dulu ke Sila. Gimana maunya itu anak. Dari pada lo disuruh puasa setelahnya. Akan lebih baik di rembuk berdua. Ya nggak, Pi?" ujar Rio yang kemudian meminta pendapat kepada papi mereka mengenai permasalahan yang sedang Zacky hadapi sekarang.


Bukan serius sebenarnya, tetapi untuk mengenalkan Sila kepada keluarga besar dan relasi bisnis mereka itu sangat penting. Takutnya nanti akan membuahkan sebuah fitnah.


"Masalahnya?" desak papi langsung. Karena menurutnya tidak ada yang salah di sini. Tinggal kesiapan dari keduanya saja.


"Publik tahunya aku bertunangan dengan Tusha. Meskipun aku pernah membuat konferensi pers, tapi di sana aku hanya bilang sudah putus dengan Tusha dan sudah menikah. Akan tetapi aku tidak mengenalkan Sila kepada publik secara langsung. Aku takut jika istriku mendapat cibiran dan cercaan, parahnya lagi malah dihujat oleh mulut busuk mereka yang akan menjadikan status Sila sebagai senjata mereka untuk menghancurkan keharmonisan rumah tanggaku, Pi," terang Zacky mengenai kekhawatirannya di kala ingin membahas resepsi pernikahan mereka.


Memang terkadang hal seperti itu terjadi di dunia yang mereka geluti saat ini. Di tambah lagi memang kemunculan Sila dengan perut yang besar seperti itu. Sudah jelas mereka akan memandangnya sebagai wanita yang tidak benar.


"Kalau itu yabg kamu khawatirin, tenang saja. Biar Mas Rio yang ngurus," sahut papi Kendra lalu menatap ke arah Rio. Dari sorot mata pria paruh baya tersebut seolah memberi perintah pada Rio untuk melakukan apa yang barusan ia katakan.


"Tenang aja, Pi. Kalau masalah media, Soka lebih lihai menangani mereka," balas Rio mengenai perintah papinya.


Lalu papi Kendra menatap Zacky dengan raut lebih santai. Bahkan pria paruh baya tersebut melipat tangannya di depan dada. Menunggu respon Zacky mengenai dukungan mereka.


"Sekarang tinggal lo bilang ke Sila, maunya dia gimana. Tapi kalau saran dariku, mending setelah lahiran aja, Zack. Sila pasti juga malu jika dipajang dengan perutnya yang seperti itu. Karena biar bagaimanapun para wanita itu menginginkan sebuah pesta pernikahan sesuai impian mereka," sambung Rio seraya menyuarakan pendapatnya.


Berkaca pada pengalamannya sendiri. Meskipun sudah menggelar resepsi yang sangat megah, namun ternyata itu bukanlah kemauan Yuan dan hal tersebut sering kali istrinya ungkit di kala mereka berdebat.