Our Secrets

Our Secrets
Ch. 106. Ngafe Bareng



Bab. 106


"Nggak! Kamu nggak boleh ke sana lagi. Apa lagi kalau sampai nyanyi. Aku nggak setuju." tekan Zacky dengan nada tegas. Secara refleks pria itu sampai berdiri. Membuat Sila terkejut melihatnya.


Padahal ia hanya mengatakan ingin nyanyi di cafe milik Jinan. Tidak untuk kembali bekerja di sana. Hanya untuk sekedar mengobati rindu dirinya juga rindu para pengunjung cafe yang rupanya juga merindukan suaranya. Bahkan Jinan sampai mengalami d dikit kerugian dari dampak keluarnya Sila yang tanpa sebab waktu itu.


"Mas ... aku nggak akan buka usaha cafe, enggak. Tapi aku cuma pingin nyanyi sekali saja di cafenya Kak Jinan. Aku rindu mereka, Mas," bujuk Sila sembari memperlihatkan wajah memohon nya kepada sang suami.


Demi membujuk Zacky yang sangat posesif kepadanya, sampai-sampai Sila memegang tangan Zacky lebih dulu. Menggoyangkan ke kanan dan kiri, menampilkan wajah yang begitu imut kepada suaminya. Di mana Sila tahu sedikit banyak kalau suaminya ini tidak bisa menolak keinginannya di saat ia bersikap manis seperti ini. Tentu, Sila harus menahan diri dan membuang egonya. Karena pantang bagi Sila untuk merayu pria lebih dulu.


Sedangkan Zacky berusaha untuk tidak tergoda dan mengalihkan pandangannya dari Sila. Menarik napas lalu mengaturnya agar tidak goyah iman yang dia punya. Akan tetapi, sangat di sayangkan kalau ada makanan jika lezat tidak di makan. Apa lagi di suguhkan langsung di hadapannya seperti sekarang ini.


"Ayang ... boleh, ya? Cuman sekali doang loh," rengek Sila yang saat ini malah menusukkan jarinya ke dada Zacky.


Zacky mengusap wajahnya kasar dengan helaan napas berat. Memang, istri yang tengah ber-cosplay sebagai penggoda seperti Sila sekarang ini merupakan jenis cobaan paling besar untuk dirinya. Mana bisa mengabaikan wanita ini begitu saja.


"Pokoknya di atas. Gimana?"


"Aku nyanyi di atas?" Sila mendorong tubuh Zacky agar tautan mereka terlepas, lalu menatap penuh tanya ke arah pria itu.


Zacky menggelengkan kepala. Membuat Sila semakin bingung dengan permintaan suaminya.


"Kalau ngomong itu yang jelas, Mas. Kepalaku idah pusing liat tingkahmu yang semakin hari semakin aneh," ujar Sila sangking kesalnya dengan sikap suaminya. "Kalau emang nggak mau izinin, juga nggak masalah kok. Tinggal ngajak Mani ngafe aja. Beres, kan?" balas Sila lagi. Menatap Zacky dengan alis terangkat satu.


Tidak mau Sila kabur dan malah dirinya tidak mendapat keuntungan sedikit pun. Cepat-cepat Zacky meraih pinggang Sila hingga wanita itu menempel kepadanya. Sedikit terasa aneh, karena dengan posisi yang sama-sama berdiri seperti ini, meskipun Zacky memeluk Sila, namun di antara mereka masih ada sekat yang memberi jarak. Yakni perut Sila yang sudah besar lah yang menjadi pemberi jarak dan memakan ruang cukup banyak.


"Nanti loh, Yaang ... kamu mainnya di atas. Gimana?" jelas Zacky sembari menatap Sila dengan tatapan genit.


Sila memicingkan matanya. Sedetik kemudian dia langsung paham dan di saat itu juga Sila memukul lengan Zacky.


"Astaga, Mas ... otak kamu tuh isinya anu lu sih! Apa-apa mintanya anu terus. Emang om om mesum," omel Sila seraya melayangkan beberapa cubitan di perut Zacky. "Udahlah, mending akh ngajak Mami aja. Sekalian sama Yuan, dan para laki-laki nggak boleh ikut. Titik!" putus Sila menatap tegas ke arah Zacky. Wanita itu sudah memutuskan, dan Zacky tidak jadi mendapat keuntungan. Benar-benar nasibnya selalu mengenaskan.